RI yang Lengah Gagal Pertahankan Emas Beregu Putra SEA Games

Mercy Raya - Sport
Rabu, 18 Mei 2022 10:50 WIB
KUALA LUMPUR, MALAYSIA - 2022/02/20: Dwi Wardoyo Chico Aura of Indonesia plays against Lee Zii Jia of Malaysia during the final of the team mens singles match at the Badminton Asia Team Championships 2022 in Shah Alam on the outskirt of Kuala Lumpur. (Photo by Wong Fok Loy/SOPA Images/LightRocket via Getty Images)
Ilustrasi tunggal putra Indonesia, Chico Aura Dwi Wardoyo. Foto: SOPA Images/LightRocket via Getty Images/SOPA Images
Jakarta -

Alih-alih mempertahankan medali emas beregu putra di SEA Games 2021, tim bulutangkis Indonesia justru terhenti di semifinal. Bagaimana respons PBSI soal kegagalan itu?

Tampil di Bac Giang Gymansium, pada Selasa (17/5), Garuda Muda tak berdaya menghadapi serangan tim Thailand. Mereka kalah dari tim Negeri Gajah Putih dengan skor 3-2.

Tiga tunggal putra, Chico Aura Dwi Wardoyo, Christian Adinata dan Bobby Setiabudi gagal mendapat angka kemenangan. Sementara Pramudya Kusumawardana/Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan dan Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin dari ganda putra sempurna mencetak poin.

Kegagalan ini sekaligus mematahkan dominasi beregu putra Indonesia di level SEA Games. Bagaimana pun, Indonesia tercatat sebagai juara bertahan dalam enam kali edisi (2017-2019) multievent terakbar di Asia Tenggara tersebut, hanya tahun 2013 absen lantaran kompetisinya tak dipertandingkan.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Rionny Mainaky mengatakan hasil ini diperoleh karena atletnya terlalu lengah saat sudah unggul dalam permainan.

"Saya lihat untuk ganda putra sudah oke, hanya sedikit saja evaluasinya yaitu tidak boleh terlalu rileks kalau sudah unggul. Ini bahaya kalau sampai tersusul jadi harus fokus dari awal sampai akhir," kata Rionny dalam rilis PBSI, Rabu (18/5/2022).

"Untuk tunggal putra, saya melihat tekanannya terlalu berat jadi mainnya tidak bisa maksimal. Serba ragu-ragu mau main apa, terlihat sekali di Chico dan Christian."

"Untuk Bobby, startnya sudah bagus tapi ketika lawan naik sedikit, tekanan berbalik. Nah, itu rasa takutnya tidak hilang-hilang hingga akhir, jadi dia tidak bisa keluar dari tekanan," lanjut Rionny.

Saudara kandung dari Richard dan Rexy Mainaky pun berharap para pemainnya bisa memetik pelajaran dari hasil tim tersebut.

"Saya sudah briefing mereka, saya tekankan untuk terus belajar untuk mengatasi masalah di lapangan. Dimulainya harus sejak dari latihan, bagaimana mencari solusi ketika tidak enak. Jadilah psikolog sendiri karena saat pertandingan hanya mereka yang bisa menyelesaikannya sendiri, kita yang di luar tidak bisa bantu banyak," Rionny menjelaskan.

"Ini masih ada nomor perorangan, saya ingin mereka mencoba lagi. Menerapkan apa yang saya, pelatih atau psikolog sampaikan. Harus lebih berani lagi, harus lebih semangat lagi. Saya mau lihat penampilan yang mati-matian," katanya.

[Halaman selanjutnya: masalah mental atlet muda]