Tenis Wimbledon
Mirza Bukan Atas Nama Agama
Jumat, 29 Jun 2007 08:50 WIB
London - Petenis Sania Mirza kembali menyedot perhatian dengan identitasnya sebagai seorang muslim. Tapi jika ia kembali berduet dengan Shahar Peer, itu tidak bermotifkan agama.Selain di nomor tunggal, Mirza dan Peer memutuskan tampil bersama di nomor ganda putri ajang Wimbledon tahun ini, dan akan melakoni pertandingan pertamanya melawan unggulan ke-16 Lisa Osterloh (AS)/Sofia Andersson (Swedia).Duet Mirza/Peer tentu mudah memantik berita karena merupakan paduan Islam-Yahudi, sebagaimana Peer adalah pemain asal Israel. Bahkan ini adalah kali kedua mereka main bareng setelah di tahun 2005.Masalahnya, Mirza pernah mendapat sorotan tajam dari sebagian kalangan Islam di negaranya, yang menyesalkan pilihannya bermain dengan orang Israel. "Kami di sini untuk bermain tenis dan menampilkan kemampuan terbaik yang kami miliki, bukan untuk membuat pernyataan-pernyataan," demikian tukas pemain nomor satu India itu, Kamis (28/6/2007), seperti dikutip YahooSport."Saya dan Shahar main bersama seperti saya dan (Eva) Birnerova tampil di Prancis Terbuka, atau seperti saya main dengan pemain lain dalam enam minggu terakhir terakhir ini. Tidak ada pernyataan apapun tentang itu."Dijelaskan perempuan cantik berusia 20 tahun itu, dirinya memilih Peer karena telah mengenal pribadi masing-masing dan cocok secara teknis permainan. Ia mengandalkan forehand, sedangkan Peer punya backhand yang kuat."Saya betul-betul tidak peduli apakah dia dari Israel atau saya dari Pakistan. Di akhir pertandingan, yang penting adalah kami menang atau tidak," tukasnya. Duet Islam-Yahudi di lapangan tenis pernah pula dilakoni Aisam ul-Haq Qureshi (Pakistan) dan Amir Hadad (Israel). Mereka main bareng di tahun 2002, tapi Qureshi sempat diancam skorsing oleh federasi tenis negaranya. Tapi pasangan ini malah mendapat penghargaan kemanusiaan bertajuk Arthur Ashe Humanitarian of the Year Award."Di sini saya dan Shahar hanya bermain tenis. Itu saja. Tak ada hubungannya dengan hal-hal lain," kembali ditegaskan Mirza, yang juga pernah menuai kecaman dari sebagian kalangan Muslim di India karena berpakaian ketat dan terbuka. (a2s/a2s)











































