Kejuaraan Asia Junior 2026: Indonesia Nirgelar, Ini Fokus PBSI

Kejuaraan Asia Junior 2026: Indonesia Nirgelar, Ini Fokus PBSI

Mercy Raya - Sport
Selasa, 07 Jul 2026 14:50 WIB
Indonesia gagal meraih gelar di Kejuaraan Asia Junior 2026. PBSI menjadikan hasil ini sebagai bahan evaluasi menuju Kejuaraan Dunia Junior 2026.
Foto: Dok. PP PBSI
Jakarta -

Indonesia gagal membawa pulang gelar dari Kejuaraan Asia Junior 2026. PBSI pun menjadikan hasil tersebut sebagai bahan evaluasi untuk mempersiapkan tim menghadapi Kejuaraan Dunia Junior 2026.

Kejuaraan Asia Junior 2026 berlangsung di Yatsushiro City General Gymnasium, Jepang, pada 26 Juni hingga 5 Juli 2026. Pada nomor beregu, Indonesia terhenti di peringkat 5-8, sedangkan China keluar sebagai juara. Di nomor perorangan, hasil terbaik Merah Putih dipersembahkan tunggal putra Fardhan Joe yang sukses meraih medali perak.

Manajer Tim Indonesia di Kejuaraan Asia Junior 2026, Eskar Denatara, mengakui hasil tersebut belum memenuhi target yang telah ditetapkan.

"Kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia karena belum berhasil meraih gelar juara di AJC 2026. Hasil ini tentu menjadi tanggung jawab kami," kata Eskar dalam keterangan resmi.

Eskar menilai para atlet sebenarnya telah menunjukkan kemampuan teknik, fisik, dan mental yang cukup baik. Namun, masih ada sejumlah aspek yang harus dibenahi, terutama dari sisi taktikal, ketenangan saat bertanding, serta pengalaman di level internasional.

"Beberapa atlet bahkan baru menjalani debut internasional di AJC. Pengalaman menghadapi tekanan di pertandingan besar menjadi hal yang harus terus dibangun agar mereka semakin matang," ujarnya.

Menurut Eskar, sektor putri masih perlu meningkatkan kekuatan fisik, khususnya strength dan power endurance, agar mampu bersaing secara konsisten di level Asia. Sementara itu, sektor ganda putra masih harus memperbaiki kemampuan mengelola tekanan dan mengambil keputusan pada poin-poin krusial.

"Sektor ganda putri menunjukkan perkembangan dengan meloloskan dua pasangan ke perempat final. Di sektor ganda campuran, pasangan-pasangan non-pelatnas juga mampu memberikan perlawanan yang cukup baik. Namun secara keseluruhan masih banyak detail yang harus kami benahi agar hasilnya lebih maksimal," jelasnya.

Ia juga menyoroti semakin meratanya kekuatan bulutangkis junior di Asia. Menurutnya, bukan hanya China, Jepang, dan Korea Selatan yang terus berkembang, tetapi juga Hong Kong China, Thailand, dan Taiwan.

"Karena itu kami tidak bisa hanya melihat hasil akhir. Kami harus terus meningkatkan kualitas pembinaan agar mampu mengikuti perkembangan persaingan yang semakin ketat," katanya.

Meski gagal memenuhi target, Eskar menilai Kejuaraan Asia Junior 2026 memberikan banyak pelajaran berharga untuk menghadapi World Junior Championships (WJC) 2026. Ia menilai format beregu dengan sistem game 55 poin menuntut kemampuan memanfaatkan momentum dan ketenangan dalam situasi tertekan.

"Secara kualitas kami mampu bersaing, tetapi lawan tampil lebih tenang karena memiliki pengalaman internasional yang lebih banyak," ujarnya.

"Ke depan kami akan menjadikan seluruh catatan dari AJC sebagai bahan pembenahan, baik dari sisi taktikal, peningkatan fisik, maupun penambahan jam terbang internasional. Kami berharap para atlet dapat menunjukkan penampilan yang lebih baik pada World Junior Championships nanti," pungkas Eskar.

(mcy/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads