Belum sekalipun memenangi turnamen seri ATP, wajar jika hanya sedikit orang yang tahu siapa Jo Wilfried Tsonga sebelum Australia Terbuka 2008 dimulai. Tapi seperti melanjutkan tradisi di Rod Laver Arena dalam dua tahun sebelumnya yang memunculkan kejutan -- Fernando Gonzales 2007 dan Marcos Baghdatis tahun sebelumnya --, kehadiran Tsonga membuat namanya meroket.
Dalam pertandingan final menghadapi Novak Djokovic, Minggu (27/1/2008), petenis Prancis berusia 22 tahun itu membuktikan kalau kemunculannya di final bukanlah kebetulan. Sempat mencuri kemenangan di set pertama, dia akhirnya menyerah dalam pertandingan seru sepanjang tiga jam lebih dengan kedudukan 4-6, 6-4, 6-3 dan 7-6.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sangat bangga dengan diri sendiri. Saya ikut senang untuk Novak karena dia bermain luar biasa hari ini. Saya tak tahu apakah harus sedih atau bahagia, tapi saya merasa hebat," ungkap Tsonga usai pertandingan seperti diberitakan Yahoosport.
Meski sudah terjun ke tenis pro sejak empat tahun lalu, Tsonga memang tak punya prestasi membanggakan. Dia tak pernah ekalipun memenangi ATP Tour, empatbelas gelar yang didapatnya datang dari turnamen ATP Challengers dan ITF Futures.
Menyusul suksesnya di Australia Terbuka, Tsonga yang dipastikan masuk ranking 20 besar mulai pekan ini yakin dirinya masih bisa terus berprestasi. Masuk jajaran 10 besar dunia pun jadi ambisinya.
"Yeah, tentu saja (masuk 10 besar). Tak setiap orang bisa mengalahkan pemain yang saya kalahkan. Saya tahu siapa itu Richard (Gasquet), (Mikhail) Youzhny atau Rafael (Nadal), mereka pemain yang hebat. dan mengalahkan mereka bukan hal yang mudah, dan saya bisa melakukannya, jadi...," lanjut dia. (din/krs)











































