Pia menjadi penentu kemenangan Indonesia atas tim Uber Jerman dalam pertandingan semifinal yang dilangsungkan Kamis (15/5/2008). Bermain di partai keempat, Pia tampil gemilang untuk menundukkan Karin Schnaase dengan straight set 21-7 dan 21-16.
Pujian pun terarah ke pemain bernama lengkap Pia Zebadiah Bernadet itu. Menurut manajer Susi Susanti, pebulutangkis 22 tahun itu punya tingkat intelejensia di atas rata-rata, sesuatu hal yang mengingatkan dia pada Mia Audina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun 1994 Mia Audina adalah penentu kemenangan Tim Uber Indonesia atas Cina saat turnamen juga digelar di Istora, Senayan. Turun di partai kelima, Mia yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Belanda itu memastikan Indonesia menang 3-2 setelah menundukkan Zhang Ning lewat pertarungan sengit sepanjang tiga set.
Setelah menjadi penentu keberhasilan timnya melangkah ke final, Pia tentu diharapkan bisa kembali menjadi penentu kemenangan Tim Uber "Merah Putih" yang lagi-lagi harus menghadapi Cina di final. Sebuah tugas yang mungkin juga bisa dimainkannya dengan baik karena, seperti diungkapkan Susi, punya kemiripan dengan Mia Audina.
Harapan tersebut bisa saja menjadi kenyataan karena adik kandung pemain ganda putra Markis Kido itu ternyata terbiasa turun di laga penentu kemenangan timnya.
"Saya sudah pernah menjadi penentu kemenangan tim. Di SEA Games terakhir (Thailand, 2007) saya menjadi penentu kemenangan di final (beregu putri)," ungkap pebulutangkis berpostur 161 cm/57 kg itu. (din/a2s)











































