Shuttlecock bulutangkis memang sangat terpengaruh laju angin. Bila hembusan angin terlalu kuat, maka arah bola seberat lima gram itu bisa berubah tak terduga dan hal tersebut tentu saja menyulitkan para pemain.
Maka para insinyur yang merancang sistem pendingin udara di gym Beijing Institute of Technology, mereka berupaya keras untuk menciptakan pendinginan yang tidak mempengaruhi laju shuttlecock.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, didapatlah model ideal sistem pendinginan ruangan hall bulutangkis itu. Ketimbang memakai corong pendingin yang lebar, para perancang memilih memakai 9.100 lubang corong udara berukuran kecil di bawah kursi penonton.
Sistem ventilasi yang dikontrol komputer ini meniupkan udara dingin yang kekuatannya kecil, sehingga disebut sebagai 'bisikan' saja ketimbang hembusan.
"Udara di sini tidak pernah berhembus lebih kencang daripada 0,2 meter per detik," terang Profesor Zhang Ailin, pengajar di Universitas yang ikut mendesain sitem ini sekaligus sebagai manajer venue kepada Reuters.
Meski sudah cukup ideal, toh beberapa pemain tetap menganggap sistem pendinginan ini masih tetap menimbulkan hembusan di atas net. Kenneth Jonassen, pemain Denmark, mengaku hal itu mempengaruhi strateginya.
"Dari sisi ini, Anda bisa memukul lebih keras dari belakang. Namun dari sisi sebelah, Anda tidak bisa mengendalikan kok dengan tenaga yang sama," ujar Jonassen.
(arp/a2s)











































