Betapa tidak, target 16 besar yang semula dibebankan di pundaknya mampu dilewati dengan lolos sampai babak empat besar. Terlebih hasil ini membawanya pada predikat sebagai satu-satunya partisipan non-China yang berlaga dalam semifinal.
Lahir di Tuban, 2 Juni 1985, cewek bernama lengkap Maria Kristin Yulianti ini memang terlihat sederhana jika dibandingkan dengan rekan-rekan pelatnas lainnya. Jika teman-teman sesama pemain lainnya selalu in fashion, tidak demikian dengan Maria yang kerap hadir dengan kesederhanaannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal prestasi, wanita yang kini menduduki peringkat 25 dunia tersebut memang tidak secemerlang Susi Susanti ataupun Mia Audina. Namun penampilan apiknya pada Piala Uber pada Mei lalu membuat publik makin mengenal sosoknya.
Pamornya kian naik ketika dalam Indonesia Open beberapa waktu kemudian, dirinya mampu menekuk Zhang Ning dengan pertarungan ketat tiga set. Dengan dukungan penuh penonton tuan rumah, penampilan ulet Maria membuatnya berhasil memenangi pertandingan semifinal kala itu.
Namun apa daya, Maria tak bisa mengulangi kemenangannya atas Zhang Ning. Di pertemuan keduanya dengan peringkat tujuh dunia itu di semifinal Olimpiade, Maria takluk 15-21 15-21.
Sebelum akhirnya menapak di semifinal, Maria berhasil melewati hadangan-hadangan berat di depannya. Di babak pertama, ia mengalahkan Juliane Schenk (Jerman) dengan skor 18-21, 21-13, 22-20 dan unggulan enam Tine Rasmussen dengan 18-21, 21-19, dan 21-14 di babak kedua.
Rintangan lain datang dari Saina Nehwal asal India. Meski bukan unggulan, namun Saina adalah 'pembunuh raksasa' karena sukses meredam permainan Wang Chen yang hadir sebagai unggulan empat. Lewat pertarungan tiga set, Maria memenangi permainan dengan 26-28, 21-14, 21-15.
Jadi, tak ada alasan untuk Maria sedih dan putus asa. Masih ada kompetisi lainnya, Maria.
(lin/arp)











































