Simak ucapannya berikut ini, "Bermain di Olimpiade tidaklah mudah. Karena itulah rasa kebanggaan ini harus dilengkapi dengan sebuah medali emas." Perkataan itu ia lontarkan sebelum ia pergi ke Beijing untuk berlaga, sebuah pernyataan yang terang-terang menyiratkan dirinya telah bertekad untuk mengharumkan nama Indonesia.
Sabtu (16/8/2008), apa yang ia niatkan itu akhirnya menjadi kenyataan. Bersama pasangannya, Hendra Setiawan, pemuda kelahiran 11 Agustus 1984 ini berhasil meraih medali emas usai menundukkan pasangan Cina, Fu Haifeng/Cai Yun. Emas pertama untuk Indonesia pada Olimpiade kali ini sekaligus kado manis untuk perayaan HUT RI yang ke-63.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan tenang, Kido bersama Hendra pun merebut set kedua dengan kemenangan 21-11 yang berarti memaksa set ketiga diadakan. Di sinilah keduanya tak terbendung lagi, mereka menang 21-16. Kontan, sorak kegembiraan langsung tercurah. Kido melempar raketnya dan bersorak kegirangan, tanda luapan emosi bahagia.
Sesungguhnya, kalau mau ditengok ke belakang, tanda-tanda untuk meraih kegemilangan itu sudah banyak. Bersama Hendra, penyuka pizza ini pernah menjuarai Asian Badminton Championship dan Indonesia Open tahun 2005. Setahun berselang giliran titel Cina Terbuka yang mereka sabet.
Puncak dunia pun berhasil diraih pada tahun 2007. Keduanya keluar sebagai juara di World Championship di Kuala Lumpur, Malaysia, usai menundukkan pasangan Korea Selatan Jung Jae-Sung/Lee Yong-Dae. Awal tahun 2008 sebuah titel juara lagi-lagi berhasil dihadirkan, yakni Malaysia Super Series.
Tahun 2008 juga menjadi tahun kelabu baginya. Ayahnya, H. Djumharbey Anwar, meninggal dunia pada 2 April 2008. Meski dirudung kesedihan Kido mencoba bersikap tegar ketika itu. "Bapak sakit memang sudah lama," ujarnya. Ia pun tetap tampil membela Indonesia di ajang Piala Thomas setelahnya kendati "Merah-Putih" pada akhirnya gagal menjadi juara.
Sejak bulan Mei 2008 lalu Kido dan Hendra menjadi pasangan ganda putra dengan rangking tertinggi. Sebuah modal penting yang menyiratkan mereka tak boleh dianggap enteng pada Olimpiade Beijing.
Dan jadilah kenyataan bahwa tempat dari kakak Pia Zebadiah ini memang di posisi tertinggi. Bersama Hendra ia berhasil mempertahankan tradisi emas Olimpiade di cabang bulutangkis yang sudah dirintis sejak Olimpiade 1992. Dengan sederet prestasi yang sudah diraihnya, apa yang baru saja ia raih diharapkan bukanlah akhir dari sebuah ambisi, melainkan sebuah awal.
(roz/din)











































