Sinar Federer memang sedang redup sedikit. Kalah dari Rafael Nadal memang bukan hal baru buat dia. Tapi sejak ditekuk petenis kidal Spanyol itu di final Wimbledon, Federer mulai mudah kalah dari petenis-petenis yang peringkatnya cukup jauh di bawah dia.
Di tiga turnamen yang diikutinya pasca Wimbledon, Federer tersingkir lebih cepat. Di Toronto ia ditundukkan Gilles Simon di babak kedua; di Cincinnati ditekuk Ivo Karlovic di putaran ketiga; di Olimpiade Beijing dihempaskan James Blake di perempatfinal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak heran kalau Federer tampil di AS Terbuka tidak sebagai favorit, walaupun masih diunggulkan di tempat kedua. Orang seperti sudah menilai bahwa dia bukan lagi tembok yang sulit dirobohkan.
Meski demikian Federer masih bertahan. Hari Selasa (2/9/2008) ini ia akan menghadapi Igor Andreev di babak keempat. Jika menang, tiket perempatfinal berhak digenggam.
Federer, yang pernah empat kali juara di Flushing Meadows, New York, tetap memiliki optimisme tinggi. Ia yakin dirinya masih memiliki kans untuk kembali merebut titel juara.
"Saya ingat waktu kalah di babak pertama di turnamen-turnamen grand slam, kembali ke hari ketika tekanan dimulai," kenang Federer tentang rekor buruknya sebelum ia memenangi trofi Wimbledon pertamanya di tahun 2003.
"Tapi tekanan itu sudah tidak ada lagi. Saat ini tekanan seperti itu mudah diatasi. Tentu saja, saya sangat bangga dan senang dengan perjalananku di turnamen-turnamen besar, dan selalu menyenangkan bisa menembus babak-babak akhir, semifinal maupun final," sambungnya, seperti dikutip Reuters.
"Inilah tujuan itu. Itu sebabnya saya bekerja keras. Saya merasa seolah-olah hal ini bisa terjadi lagi di sini," tandas Federer, yang sepanjang karirnya mampu menembus babak semifinal turnamen grand slam 17 kali berturut-turut. (a2s/key)











































