sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Senin, 17 Feb 2014 07:31 WIB

Penebusan Dosa Media Inggris untuk Tom Finney, Sang Sayap Legenda

- detikSport
AFP PHOTO/INTERCONTINENTALE AFP PHOTO/INTERCONTINENTALE
Jakarta - "Keberuntungan pertama adalah tidak dilahirkan, dan keberuntungan kedua adalah mati muda," demikian ujar Soe Hok Gie dalam bukunya. Keberuntungan ketiga mungkin milik Tom Finney. Pada usia 91 tahun, ia meninggal beberapa bulan sebelum Piala Dunia Brasil 2014.

Ini jelas terdengar aneh. Kompetisi sepakbola terakbar di dunia itu biasanya jadi momen yang dinantikan para pecinta sepakbola, pemain, hingga mantan pemain berlabel maestro dunia.

Tapi tidak bagi Sir Tom Finney yang meninggal 14 Februari 2014 lalu. Piala Dunia Brasil 2014 adalah pengecualian. Legenda dari legenda sepak bola Inggris ini lebih memilih tersenyum saat ajal menjemputnya sebelum piala dunia digulirkan Juni nanti.

Sir Tom seolah enggan kata "Piala Dunia" dikaitkan dengan kata "Brasil". Padanan kata–kata itu akan kembali menggugah salah satu memori terburuk sepanjang karirnya. "Ada dua memori terburuk sepanjang karir dan hidup saya. Yang pertama Piala Dunia Brasil 1950 dan selanjutnya Final Piala FA 1954," ujar Tom semasa hidupnya dulu.

Kenangan buruk yang terpancang dalam-dalam pada lembaran memorinya ini memang sungguh tak tanggung-tanggung. Tersingkirnya Inggris dari Piala Dunia 1950 bahkan dianggap sebagai peristiwa memalukan pertama Inggris pada kompetisi sepakbola internasional. Selain pada Piala Dunia 1966, Inggris sebenarnya belum berjaya di kompetisi-kompetisi lainnya. Tapi mungkin tak sampai apa yang mesti dirasakan oleh Tom.

Pada Piala Dunia 1950, Inggris menyambangi Brasil sebagai salah satu kutub kekuatan sepakbola dunia. Bukan hanya karena menyebarkan sepakbola dan peraturan-peraturannya, Inggris adalah juga salah satu tim terkuat Eropa saat itu.

Hal ini juga dibuktikan oleh timnas Inggris yang sempat tak terkalahkan selama dua tahun, dari Mei 1947 ke 1949. Bahkan Inggris sempat menghancurkan Portugal 10-0 dan Italia 4-0 dengan Tom Finney (sayap kiri) dan Stanley Matthews (sayap kanan) sebagai tumpuan serangan.

Apalagi publik internasional juga menanti-nanti tampilnya Inggris. Piala Dunia 1950 adalah piala dunia pertama Brasil, karena Inggris tidak mengikuti tiga turnamen pertama. Dan sebagai winger pada tim yang mengandalkan permainan sayap, Tom Finney memang jadi tumpuan para fans Inggris. Piala dunia itu adalah waktu yang tepat bagi Inggris untuk menasbihkan diri sebagai "rumah" sepakbola.

Tapi apa daya. Meski berhasil menang 2-0 atas Chili pada pertandingan pertamanya, The Three Lions kemudian kalah 0-1 dari tim "amatir" Amerika Serikat. Pada pertandingan terakhir pada babak grup Inggris juga lalu kalah 0-1 dari Spanyol, dan terpaksa tersingkir.

Tak sulit untuk membayangkan betapa malunya Inggris ketika pulang ke Eropa. Negara pencetus gagasan sepakbola modern dipaksa kalah oleh tim yang beranggotakan seorang tukang pos, seorang tukang cuci piring, dan seorang guru sekolah, pada laga yang kemudian dikenal sebagai "Miracle of Belo Horizonte".

Dilambungkan dan Dijatuhkan Media

Kenangan buruk dalam hidup memang tak bisa dilupakan orang begitu saja. Meski coba untuk memendamnya dalam-dalam, Sir Tom pun tetap tak kuasa. Apalagi ia adalah legenda dan pesohor di Inggris. Pemberitaan media Britania mengenai persiapan The Three Lions di Piala Dunia, terutama Brasil nanti, selalu mengaitkan nama Tom Finney dan rekan-rekannya.

Berulang kali Sir Tom harus menegaskan pada media bahwa momen Piala Dunia 1950 Brasil adalah satu dari dua kenangan terburuk dalam karir dan hidupnya. Hal itu dilakukannya dengan maksud agar media tak menanyakan lagi perihal yang sama.

Dalam satu kesempatan, Tom bahkan pernah langsung memberi jawaban yang keras ketika disinggung tentang pertandingan di Belo Horizonte itu. "Itu adalah salah satu pertandingan yang sangat aneh. Kami bisa saja bertemu mereka 10 kali dan kami bisa memenangi semuanya. Tapi, kenapa aku harus menjelaskan pertandingan ini lebih dari 60 tahun kemudian?" jawab Tom ketus.

Namun, media Inggris tetap berulang kali menanyakan hal yang sama. Retoris. Seolah tak ada hal menarik lain untuk ditanyakan jika bertemu sang legenda. Padahal ia tak cuma membela Inggris di Piala Dunia 1950. Pada dua edisi Piala Dunia berikutnya, 1954 dan 1958, Sir Tom tetap tampil.

Winger yang pose berlarinya di genangan air Stamford Bridge dipatungkan itu sering kali membesarkan hati para penggawa tim nasionalnya ketika mereka di-bully media Inggris. Terutama usai gagal di Piala Dunia. Baginya, itu semua tak sesulit yang ia rasakan dulu.

"Orang-orang berpikir bahwa pemain saat ini memiliki masa-masa sulit dengan media. Tapi, yang mereka rasakan saat ini tidak lebih sukar dengan apa yang kami rasakan di Piala Dunia 1950!" jelas legenda Inggris yang masuk jajaran One Man in One Club bersama Preston North End itu.

Ekspektasi berlebihan dari medialah yang sebenarnya membuat Timnas Inggris selalu gagal. Dan itu sudah dirasakan Sir Tom dan rekan-rekannya semenjak dulu.

Kala itu, perkasanya Inggris membuat media mengeksploitasi ekspektasi rakyat Britania Raya. Saat itu, Inggris dijuluki "Kings of Football" berkat rekor fantastisnya usai Perang Dunia Kedua. Mereka sukses menang 23 kali dan hanya kalah 4 kali dari 30 pertandingan.

Start mulus Inggris pada Piala Dunia Brasil 1950 dengan mengalahkan Chili 2-0 dan membuat media mengusung harapan lebih tinggi lagi. Laga kedua melawan AS pun digadang-gadang akan dimenangkan Inggris.

Bandar judi memberikan 3:1 untuk kemenangan Inggris. Sementara kemenangan AS yang datang sebagai negara pelengkap di ajang itu diberi 500:1. The Sams Army kala itu bahkan sama sekali tak diperhitungkan berkat kekalahan telak tujuh kali berturut-turut mereka. Catatan kebobolan AS kala itu sangat buruk, 45 kali kemasukan dan hanya dua kali memasukkan.

Namun, prediksi hanyalah prediksi. Inggris yang menguasai jalannya laga di Estadio Independencia pada 29 Juni 1950 itu harus tertunduk. Empat shot on goals di menit 25, 30, 31 dan 32 malah dibalas AS dengan gol sundulan sambil menjatuhkan diri Joe Gaetjens.

Inggris yang selalu terbuai kemenangan dan tak pernah tahu bagaimana membalas ketertinggalan, langsung terpuruk. Mereka tak mampu bangkit dan kalah 0-1 dari AS.

Dosa masa lalu itu terus dikenang media Inggris. Hingga satu persatu starting eleven saat melawan AS itu meninggal, mereka pasti pernah dimintai reka ulang tragedi tersebut.

Bahkan kapten Inggris di piala dunia itu, Billy Wright, pernah berujar. Bahwa mereka tidak diizinkan untuk melupakan pertandingan lawan Amerika itu. Mereka dilarang untuk melupakan kesalahan.

Terutama Sir Tom serta dua rekannya, yang masih sempat merasakan bagaimana hegemoni piala dunia diambil Brasil, yakni Bert Frederick William yang meninggal 19 Januari 2014 dalam usia 93 tahun, serta Roy Bentley yang masih hidup hingga saat ini. Tak terbayangkan bagaimana berulang kali mereka ditanyai prihal 1950.

Media Inggris kini memang mengeluarkan puja-puji untuk Sir Tom. Testimoni tentangnya dari legenda Inggris seperti George Best, Bill Shankly, Sir Boby Charlton dan lain-lain pun dikumpulkan. Dirangkai dengan kata-kata indah.

Pose dan patung 'The Splash' kembali menjadi headline. Jalan yang dinamai Sir Tom Finney pun kembali disebut-sebut. Rekor jumlah gol dan segala hal gentle dan hebat yang pernah dilakukan Sir Tom dituliskan ulang.

Tapi media Inggris malah terkesan mereka ingin menebus dosa. Menebus kesalahan karena telah berulang kali menggangu Sir Tom secara tak langsung dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Piala Dunia dan Brasil, ketimbang mengingat kehebatannya. Tapi kata-kata manis dalam lembaran obituari itu kini seolah tak berguna. Tom Finney tak mungkin membacanya lagi. Terlambat.




=====

*akun Twitter penulis: @fjrhman dari @panditfootball



(krs/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed