DetikSepakbola
Jumat 13 Juli 2018, 08:22 WIB

Luka Modric, dari Perang Balkan ke Final Piala Dunia 2018

Yanu Arifin - detikSport
Luka Modric, dari Perang Balkan ke Final Piala Dunia 2018 Dari Perang Balkan ke final Piala Dunia 2018, begitu kira-kira perjalanan karier Luka Modric, kapten Timnas Kroasia di Piala Dunia 2018. (Foto: Clive Rose/Getty Images)
Jakarta - Luka Modric membantu Kroasia lolos ke final Piala Dunia 2018. Vatreni di bawah komandonya, secara gemilang mengalahkan Inggris di semifinal dengan skor 2-1.

Bertanding di Luzhniki Stadium, Moskow, Kamis (12/7) dini hari WIB, Kroasia sedianya tertinggal lebih dulu atas Inggris. Dan semua itu karena Modric.

Inggris mendapat tendangan bebas dekat kotak penalti Kroasia usai Modric melanggar Dele Alli. Kieran Trippier yang menjadi eksekutor, langsung mengirim bola masuk ke gawang Danijel Subasic.

Dalam situasi tertinggal, Modric dkk tetap tenang menghadapi Inggris. Serangan demi serangan Modric bangun yang memang berperan sebagai playmaker, sampai Ivan Perisic menyamakan skor di menit ke-68.

Laga kemudian berlanjut ke babak tambahan. Semangat tanpa letih Kroasia akhirnya menghadirkan keajaiban. Mario Mandzukic mencetak gol di menit ke-109. Kroasia berbalik menang 2-1 dan lolos ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya.

Modric sebagai kapten Kroasia, rupanya bisa mengubah situasi timnya yang sulit menjadi tawa bahagia di Moskow. Seperti kisah dirinya yang berurai air mata akibat Perang Balkan, menjadi sosok gilang gemintang di Rusia.



Saksikan juga video 'Kroasia Berhasrat Lampaui Sejarah 1998':

[Gambas:Video 20detik]


*****

Modric lahir di kawasan Modrici, 9 September 1985, dan tumbuh besar di kawasan Zaton Obrova─Źki, sebuah desa di kawasan Zadar, Republik Sosialis Kroasia (sebelum menjadi Yugoslavia). Masa kecilnya cukup memprihatinkan.

Modric kecil harus merasakan kerasnya kehidupan politik saat itu. Pada 1991, ketika usianya baru enam tahun, Perang Balkan meletus sehingga dirinya menjadi pengungsi.

Momen paling menyedihkan datang pada Modric. Kakeknya, Luka Sr, tewas dibunuh pemberontak Serbia. Ia kehilangan sosok yang paling berharga, mengingat kakeknya yang justru mengasuhnya ketika sang ayah Stipe dan ibunya Radojka selalu pergi bekerja.


Di tengah momen menyedihkan itu, rumahnya rata dengan tanah akibat dibakar. Modric sekeluarga pun mengungsi ke Kroasia, dan menetap di sebuah hotel di kawasan Kolovare.

Di sana, Modric punya 'teman' bernama sepakbola. Hari-hari kelabunya ia lalui dengan memainkan si kulit bundar. Siapa sangka, benda itu yang akan mengubah nasibnya di kemudian hari.

Hotel di Kolovare pun menjadi saksi bagaimana Modric kecil terampil memainkan bola. "Dia menghancurkan banyak jendela hotel daripada yang disebabkan bom. Dia bermain bola tanpa henti di sekitar hotel," kata juru bicara hotel mengenang suatu ketika.

Dari tempat itu, bakat Modric akhirnya ditampung sebuah akademi bernama NZ Zadar. Tak lama berselang, ia mengikuti seleksi bersama Hajduk Split, namun ditolak karena postur pendeknya.

Nasib baik masih menyelimuti Modric yang malang ketika itu. Dynamo Zagreb pada 2002 mau menampungnya, dan memberinya kesempatan bermain semusim di tim belia sebelum dipinjamkan ke Zrinjski pada 2003. Semusim berselang lagi, ia pindah ke Inter Zapresic juga sebagai pemain pinjaman.




Bersama Inter Zapresic, talenta Modric mulai terlihat. Zagreb pun memulangkannya dan menjadikannya pemain inti, dengan gelar Liga Kroasia tiga musim beruntun diraih sejak 2006 hingga 2008.

Sinar Modric kian terang. Beberapa raksasa seperti Barcelona dan Arsenal sempat melihatnya, namun akhirnya ia berlabuh di Tottenham pada 2008. Cibiran sempat datang lantaran ia dianggap tidak akan sukses di Inggris. Modric ketika itu meresponsnya dengan santai.

"Ayah saya berjuang untuk saya bermain sepakbola. Dia tidak pernah memberikan saya shinpad, tapi itu karena sudah terlalu banyak uang keluar untuk mengirim saya ke sekolah sepakbola dan menyediakan sepatu serta barang-barang lainnya. Dia bekerja di militer, sebagai teknisi pesawat terbang. Dia selalu berusaha mencari cara untuk mendukung saya dengan sepakbola," kenang Modric dilansir Daily Mail.

"Jadi, ketika orang mengatakan saya tidak akan bisa bertahan di Liga Premier, itu hanya memberi saya motivasi tambahan. Saya ingin membuktikan mereka salah dan sekarang, saya pikir, mereka harus mengakui kesalahan mereka," jelas Modric.



Luka Modric sewaktu berseragam Tottenham HotspurLuka Modric sewaktu berseragam Tottenham Hotspur Foto: Scott Heavey/Getty Images


Empat musim berseragam Spurs, Modric pindah ke Real Madrid dengan transfer mencapai 30 juta euro. Bersama Los Blancos, kita semua pun tahu, siapa dan bagaimana kualitas Modric sebenarnya.

Empat trofi Liga Champions, tiga di antaranya beruntun diraih dan satu gelar La Liga adalah buah yang kini ia petik. Buah dari air mata, cibiran, dan kerja kerasnya selama lebih dari dua dekade.



Luka Modric dan pelatih Kroasia Zlatko DalicLuka Modric dan pelatih Kroasia Zlatko Dalic Foto: Reuters



*****

Perjalanan hidup serta penampilan Modric itu kini nyaris paripurna di Rusia. Bersama Kroasia, ia selangkah lagi dari trofi Piala Dunia 2018, trofi yang akan menggoreskan tinta emas untuk Hvratska. Maka tak heran, usai peluit panjang berbunyi di Moskow memastikan kemenangan Kroasia atas Inggris, Modric menitikkan air mata.


Modric sendiri bisa membuktikan sebagai kapten yang layak untuk Kroasia di Piala Dunia 2018. Usai mengantar timnya meraih poin sempurna di fase grup, Kroasia ia antar bangkit di tiga laga knock out di mana mereka selalu tertinggal lebih dulu.

Selanjutnya, Kroasia akan menghadapi Prancis di Luzhniki Stadium, Moskow, Minggu (15/7/2018). Andai juara, maka Modric si pengungsi Perang Balkan itu rasa-rasanya memang layak mendapatkan gelar Ballon d'Or.




Luka Modric dan Ivan Perisic.Luka Modric dan Ivan Perisic. Foto: Ryan Pierse/Getty Images
Luka Modric, dari Perang Balkan ke Final Piala Dunia 2018

(yna/mfi)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed