Timnas putri Iran melakukan hal berani di tengah konflik yang melanda negaranya. Mereka menolak menyanyikan lagu kebangsaan di laga Piala Asia Wanita 2026.
Matchday pertama Grup A Piala Asia Wanita menghadirkan duel Korea Selatan vs Iran. Pertandingan digelar di Gold Coast Stadium, Australia, Senin (2/3/2026).
Pemandangan tak biasa terlihat saat momen lagu kebangsaan sebelum pertandingan. Skuad Iran menolak untuk bernyanyi lagu kebangsaan mereka "Mehr-e Khavran", lagu yang mengagung-agungkan pendiri Republik Islam Iran Rohullah Musavi Khomeinei.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Shabnam Behesht dkk hanya berdiri tenang menatap lurus ke depan dengan mulut terdiam. Pelatih Iran Marziyeh Jafari tampak tersenyum saat melihat keheningan para pemainnya dari pinggir lapangan.
Pertandingan berakhir dengan kekalahan Iran 0-3 dari Korea Selatan. Video para pemain memilih diam saat lagu kebangsaan "Mehr-e Khavran" diputar pun viral di media sosial.
Aksi para pemain Iran terjadi beberapa hari setelah Republik Islam Iran diserang oleh operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel. Serangan yang dikenal sebagai Operasi Epic Fury ini menewaskan banyak pemimpin utama Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Banyak yang menilai aksi diam para pemain sebagai bentuk perlawanan terhadap rezim Khamenei. Marziyeh Jafari enggan mengonfirmasi hal tersebut dan memilih fokus pada Piala Asia Wanita 2026.
"Saya rasa kami tak peru berbicara tentang isu yang terjadi sekarang. Tim kami datang untuk kompetisi penting yang sangat berarti di mata kaum perempuan," kata Jafari usai laga Korea Selatan vs Iran, dilansir dari The Sydney Morning Herald.
The Iranian women's national football team refused to sing the anthem of the Islamic Regime. Tonight. At the opening match of the Asian Cup. In front of the entire world.
β Samantha Smith (@SamanthaTaghoy) March 3, 2026
So, to all liberal Western women:
Watch and learn.
THIS is what real feminism looks like. pic.twitter.com/SriXGbipsY
Republik Islam Iran mematok aturan keras terkait perempuan dalam sepakbola. Kaum ibu dilarang hadir menonton pertandingan di stadion, sementara para pemain timnas putri diwajibkan memakai hijab.
Aksi protes sempat diakukan Sahar Khodayari saat menyamar menjadi laki-laki untuk bisa menonton klub favoritnya Esteghlal FC di Stadion Azadi pada 2019. Dia dituntut 6 bulan penjara dan memutuskan membakar diri selepas tuntutan dijatuhkan.
Aksi bakar diri Khodayari sempat membuat rezim Iran mengizinkan kembali perempuan menonton langsung pertandingan, pertama kalinya dalam 40 tahun. Namun, persekusi kembali terjadi pada laga kualifikasi Piala Dunia 2022 di Mashhad ketika perempuan pemegang tiket pertandingan disemprot gas merica ketika berusaha masuk ke stadion.
Simak Video 'Kalau Iran Mundur dari Piala Dunia, Siapa Penggantinya?':
(bay/krs)










































