Baresi: Semua Orang di Sepakbola Italia Bertanggung Jawab

Baresi: Semua Orang di Sepakbola Italia Bertanggung Jawab

Rifqi Ardita Widianto - Sepakbola
Kamis, 02 Apr 2026 06:20 WIB
ZENICA, BOSNIA AND HERZEGOVINA - MARCH 31:  Players of Italy reacts at the end of the FIFA World Cup 2026 European Qualifiers KO play-offs  match between Bosnia & Herzegovina and Italy at Stadion Bilino Polje on March 31, 2026 in Zenica, Bosnia and H
Foto: FIGC via Getty Images/Claudio Villa - FIGC
Jakarta -

Italia gagal ke Piala Dunia lagi untuk kali ketiga beruntun. Pesepakbola legendaris Franco Baresi menyebut semua orang di sepakbola Italia bertanggung jawab.

Italia tak lolos ke Piala Dunia 2026 setelah kalah adu penalti dari Bosnia & Herzegovina, dalam final play-off, Rabu (1/4/2026) dini hari WIB. Ini menandai titik terendah baru sepakbola Italia.

Timnas yang dahulu senantiasa jadi salah satu unggulan, punya empat gelar Piala Dunia, kini bahkan tak mampu sekadar tampil di turnamen sepakbola terbesar itu. Sorotan tajam mengarah ke federasi dan bagaimana liga dijalankan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Italia dinilai lambat memodernisasi sepakbolanya, bahkan dari hal paling mendasar yakni stadion. Hanya segelintir klub yang punya stadion sendiri dan mayoritas menyewa arena-arena tua dan lapuk ke pemerintah.

ADVERTISEMENT

Ini belum menyentuh soal pembibitan bakat-bakat baru dan minimnya kesempatan main untuk pemain-pemain muda. Sementara sebagian orang menuding kesalahan individu di laga lawan Bosnia, seperti yang dilakukan Alessandro Bastoni, Baresi bilang problemnya amat kompleks dan struktural.

Nyatanya sejak terakhir kali juara Piala Dunia di 2006, Italia tak pernah berbicara banyak di edisi-edisi selanjutnya. Mereka setop di fase grup pada 2010 dan 2014, lalu gagal lolos di tiga kesempatan berikutnya.

Fakta bahwa Italia harus melalui fase play-off dan bermain hingga detik terakhir itu juga merupakan tanda lain dari kerusakan yang jelas.

"Kemarin ada sejumlah insiden yang berdampak negatif ke pertandingan, tapi Italia itu tidak boleh menunggu sampai menit terakhir buat lolos," ungkap mantan kapten AC Milan itu di Gazzetta dello Sport.

"Semua orang di sepakbola Italia harus mengakui kesalahannya karena hasil-hasil selama 20 tahun terakhir begitu jelas terlihat, kecuali tentu saja kejayaan tunggal dan terpisah di Piala Eropa," imbuh pria yang mengantar Milan meraih enam Scudetto dan tiga titel Liga Champions, serta membawa Italia juara Piala Dunia 1982 tersebut.




(raw/ran)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads