Iran Kembalikan Aset Kapten Timnas Putri yang Disita

Iran Kembalikan Aset Kapten Timnas Putri yang Disita

Bayu Baskoro - Sepakbola
Selasa, 14 Apr 2026 18:45 WIB
5 Pemain memutuskan cabut dari kamp latihan Timnas Putri Iran pada Senin (9/3) pagi waktu setempat. Fatemeh Pasandideh, Zahra Ghanbari, Zahra Sarbali, Atefeh Ramazanzadeh dan Mona Hamoudi kabur mencari suaka ke safety house di Australia.
5 Pemain Timnas Putri Iran yang mencari suaka di Australia. (Foto: dok. Twitter/@Tony_Burke)
Teheran -

Iran mengembalikan aset kapten timnas putri Zahra Ghanbari. Asetnya sempat disita setelah mencari suaka di Australia.

Ghabari termasuk satu dari lima pemain Timnas Putri Iran yang mencari suaka di Australia usai Piala Asia Wanita 2026. Mereka meminta perlindungan setelah menolak menyanyikan lagu kebangsaan, aksi protes terhadap rezim Republik Islam Iran.

Nama Ghanbari dari para pemain Timnas Putri Iran yang mencari suaka masuk dalam daftar 'pendukung musuh' oleh Republik Islam Iran. Ada 400 nama warga negara Iran di dalamnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pihak berwenang Iran juga menyita aset para 'pendukung musuh'. Keputusan itu berubah 180 derajat bagi Ghanbari setelah dia memutuskan pulang ke kampung halamannya.

ADVERTISEMENT

Menukil The Telegraph, Ghanbari dinyatakan tidak bersalah menyusul perubahan perilakunya. Gelandang berusia 34 tahun itu disambut bak pahlawan dalam upacara khusus setelah tiba di Teheran.

"Aset Zahra Ghanbari, seorang pemain sepak bola untuk tim nasional wanita Iran, yang telah disita, sudah dilepaskan berdasarkan keputusan pengadilan," media Iran Mizan menuliskan, dikutip dari The Telegraph.

GOLD COAST, AUSTRALIA - MARCH 02: Islamic Republic of Iran players take part in anthems during the AFC Women's Asian Cup Australia 2026 match between Korea Republic v Islamic Republic of Iran at Gold Coast Stadium on March 02, 2026 in Gold Coast, Australia. (Photo by Albert Perez/Getty Images)Timnas Putri Iran menolak menyanyikan lagu kebangsaan di Piala Asia Wanita 2026. (Foto: Getty Images/Albert Perez)

Kelompok hak asasi manusia berulang kali menuduh otoritas Iran menekan atlet yang berkompetisi di luar negeri dengan mengancam kerabat atau menyita harta benda jika mereka membelot atau membuat pernyataan menentang republik Islam.

Dalam kasus ini, para aktivis menuduh Teheran menekan keluarga para wanita tersebut, termasuk memanggil orang tua mereka untuk diinterogasi oleh agen intelijen. Namun, otoritas Iran menuduh Australia berusaha memaksa para atlet untuk membelot.




(bay/krs)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads