DetikSepakbola
Rabu 08 November 2017, 22:46 WIB

Mitra Kukar Dinyatakan Kalah Atas Bhayangkara, Bali United: PT LIB Lalai

Amalia Dwi Septi - detikSport
Mitra Kukar Dinyatakan Kalah Atas Bhayangkara, Bali United: PT LIB Lalai Foto: Wira Suryantala/Antara Foto
Denpasar - Bali United geram dengan keputusan Komdis PSSI yang menghukum Mitra Kukar dan akhirnya merugikan 'Serdadu Tridatu'. CEO Bali United Yabes Tanuri menilai PT Liga Indonesia Baru (LIB) telah bersikap lalai.

Komdis PSSI memutuskan Mitra Kukar bersalah karena menurunkan pemain yang tengah dalam periode hukuman saat berhadapan dengan Bhayangkara FC. Hasil pertandingan yang awalnya 1-1 pun kini dinyatakan dimenangkan Bhayangkara FC dengan skor 3-1. Keputusan Komdis didasari pasal 31 kode disiplin PSSI.

Tak hanya dinyatakan kalah, Mitra Kukar juga harus membayarkan denda Rp 100 juta karena juga terjadi pelanggaran terhadap pasal 55 kode disiplin PSSI sesuai dengan surat bernomor 116/L1/SK/KD-PSSI/X/2017.

Komdis menilai Mitra Kukar tak disiplin karena memainkan Mohamed Sissoko yang sedang menjalani hukuman di laga tersebut. Dalam keputusan Komdis sebelumnya, Sissoko dinyatakan mendapatkan hukuman larangan dua kali bermain. Pertama, melawan Bhayangkara FC dan Persiba Balikpapan pada 11 November mendatang, serta denda Rp10 juta.

Mitra Kukar menyatakan tak menerima surat keputusan hukuman Sissoko. Oleh karena itu pemain asal Mali itu dimainkan.

Dengan adanya keputusan Komdis tersebut, Bhayangkara FC sangat diuntungkan dan pada akhirnya merengkuh gelar juara usai mengalahkan Bali United, Rabu (8/11/2017).

Merespon keputusan itu, Yabes menilai Mitra Kukar tidak salah sebab dalam Nota Larangan Bermain (NLB) yang dikeluarkan LIB pada laga 3 November, tak ada nama Sissoko di dalamnya. NLB adalah surat peringatan yang dikirim kepada klub-klub setiap kali sebelum pertandingan.

Pada surat itu selalu dicantumkan daftar nama-nama pemain yang sudah terkena kartu merah, kuning dan yang tak bisa dimainkan. Sehingga klub sudah tahu siapa saja pemain yang bakal diturunkan pada setiap laga.

"Kami klub bisa hitung jumlah kartu kuning dan kartu merah, sehingga semua tahu siapa yang bermain main atau tidak sebelum bertanding, bahkan ketika latihan taktiks," ungkap Yabes.

"Surat Komdis, kami sudah bosan. Jadi biasa dilewatkan bacanya karena berupa denda dan dipotong langsung dari subsidi. Sementara hukuman tambahan tidak bisa kami hitung karena selama ini langsung ada di NLB."

"Karena kelalaian dari LIB yang dihukum adalah klub. Padahal klub sudah memakai sistem online yang disediakan juga oleh LIB untuk pemilihan pemain yang berhak atau tidak," tambahnya.

Bali United menjadi klub yang paling dirugikan karena masalah ini. Sebab kans juara yang sudah ada di depan mata hilang.

Yabes menduga ada konsipirasi atau kepentingan di dalam keputusan tersebut. Pasalnya kasus-kasus lain seperti kericuhan di laga Liga 1 U-19 antara Bali United dan Bhayangkara FC yang memakan korban, pemain Bali United mengalami cedera leher belum diputuskan hukumannya.

"Sangat kecewa, yang salah itu LIB mereka lalai. Ini yang dihukum klub atau ada klub yang diuntungkan," katanya menegaskan.
(ads/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed