DetikSepakbola
Rabu 16 Oktober 2013, 14:52 WIB

Erick Thohir, Pebisnis yang Dekat dengan Dunia Olahraga

- detikSport
Erick Thohir, Pebisnis yang Dekat dengan Dunia Olahraga Erick dan Komisioner NBA David Stern. (@erickthohir)
Jakarta - \\\"Saya menyukai olahraga permainan. Saya senang tantangan dan kompetisi,\\\" kata Erick Thohir suatu ketika. Pengusaha muda Indonesia ini memang memiliki kedekatan dengan dunia olahraga.

Erick sedang menjadi headline<\/em> media-media olahraga terutama di Italia, setelah ia dipastikan menjadi pemiliki baru klub top Serie A, Inter Milan. Melalui proses negosiasi yang panjang, klub Italia juara Eropa itu akhirnya ini menjadi milik orang Indonesia.

Sebagai pengusaha Erick sangat tidak asing dengan dunia olahraga. Ia sangat identik dengan bola basket karena antara lain punya klub Satria Muda Britama dan pernah membidani sekaligus memimpin Indonesian Basketball League <\/em>(IBL -- sebelum kemudian berganti format menjadi NBL).

Ethok -- sapaan akrab Erick -- bahkan pernah menjadi ketua umum PP Perbasi periode 2006-2010. Kemudian, bersama bos Air Asia Tony Fernandes, Erick membangun liga basket ASEAN Basketball League (ABL). Khusus untuk ABL ia lalu membentuk klub Indonesia Warriors. Saat ini Ethok menjabat presiden presiden Asosiasi Basket Asia Tenggara (Seaba).

Di pentas Olimpiade 2012 di London, Erick adalah \\\"kepala rombongan\\\" alias Chief de Mission<\/em> kontingen Indonesia. Namun di ajang itu tim \\\"Merah Putih\\\" gagal mempertahankan tradisi medali emas untuk pertama kalinya sejak 1992. Anak-anak \\\"Garuda\\\" yang dipimpin Erick hanya mendapatkan satu perak dan satu perunggu. Cabang primadona, bulutangkis, bahkan ternoda pula dengan kasus \\\"tak ingin menang\\\" di laga ganda putri Meiliana Jauhari\/Greysia Polii melawan pasangan dari Korea Selatan, yang membuat mereka didiskualifikasi dan dijatuhi skorsing.

Kembali ke bola basket, kecintaan Erick pada permainan ini ditunjukkannya lagi dengan membeli 15% saham klub basket NBA, Philadelphia 76ers. Nilainya mencapai 21 juta USD atau setara dengan Rp 238,096 miliar.

Dalam sebuah wawancara ia mengatakan, cita-cita membeli klub terkenal dari Amerika Serikat itu pertama kali ia cetuskan ketika mengobrol dengan karibnya yang juga pengusaha muda, Anindya Bakrie. \\\"Suatu saat saya membeli klub NBA,\\\" kata Erick. Anindya menimpali: \\\"Kamu gila.\\\"

Cita-cita itu diseriusi Erick yang kemudian berjumpa dengan pendiri Sixers, Jason Levien. Negosiasi pun berjalan sepanjang Februari hingga Oktober 2011. \\\"Saya orang Indonesia pertama yang membeli klub olahraga Amerika Serikat. Bisa jadi karena saya sekolah di Amerika,\\\" kata dia.

Langkah Erick tepat. Saat membeli klub tersebut bernilai 275 juta dolar AS (sekitar Rp 3 triliun). Kemudian Erick dan konsorsiumnya bisa membuat klub tersebut masuk jajaran klub paling bernilai versi Forbes<\/em> dengan US$ 314 juta.

Tahun lalu Erick kian membuat klub tersebut semakin menguntungkan. Pengeluaran klub hanya 10 juta dolar, tapi bisa mendapatkan keuntungan sampai 116 juta dolar.

Setahun kemudian Erick merambah ke dunia sepakbola. Masih di Amerika, ia membeli klub anggota Major League Soccer <\/em>(MLS), DC United, dari pemilik sebelumnya, Will Chang, senilai US$ 50 juta (sekitar Rp 566,895 miliar).

Di dunia usaha, Erick juga menjadi presiden direktur PT Visi Media Asia, yang sohor dengan Viva. Dialah yang menjadi otak acara Sports One. <\/em>Dua stasiun televisi grup itu, TVOne dan antv, punya porsi acara olahraga cukup besar.

Situs majalah Forbes <\/em>juga mencatat Erick memenangi hak siar Piala Dunia 2014 lewat televisi, radio, media online <\/em>dan cetak. Disebutkan bahwa ia memenangkan penawaran dengan nominal 61 juta USD (sekitar 691,612 miliar).

Pada bisnis media, Erick juga menjalankan PT Mahaka Media di bawah bendera Mahaka Group. PT Mahaka Media itu menerbitkan antara lain Harian Republika, Golf Digest Indoensia<\/em> dan radio Gen FM. <\/em>

Ada satu usaha lain yang juga milik Erick, yakni penjualan tiket online Rajakarcis.

Sebagai catatan, Erick tak pernah menjadi pemilik penuh semua usahanya itu. Misalnya saat membesarkan JakTV, Erick mengajak Tomy Winata untuk bekerja sama. Pada Visi Media Asia, Erick menggandeng Anindya Bakrie. Erick juga menjual 10% saham Mahaka Media kepada Independent News & Media group, salah satu media terbesar Irlandia. Dia juga berbagi 6,7% saham kepada Rupert Murdoch.

\\\"Sulit menemukan bisnis yang bisa dimiliki 100%. Itu prinsip ayah saya, saat menjalankan usaha Anda harus mempunyai rekan untuk mengecek dan keseimbangan,\\\" kata dia.

Dia juga mengungkapkan alasan memilih bidang media dan olahraga.

\\\"Ketika saya menjalankan bisnis, saya harus melakukannya sesuai passion<\/em>. Meskipun jika saya tak lagi mempunyai waktu yang cukup untuk tidur, tidak masalah.

\\\"Jika melakukan sesuatu yang baru, pilih membuat pasar atau sekadar menjadi follower<\/em>? Saya sih <\/em>tak ingin menjadi follower<\/em>,” kata dia.


===

* Dirangkum dari berbagai sumber terutama Forbes, <\/em>Oktober 2012.



(fem/a2s)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed