DetikSepakbola
Senin 23 Oktober 2017, 14:02 WIB

Kendala-kendala Semen Padang yang Kini Masuk Zona Degradasi

Mercy Raya - detikSport
Kendala-kendala Semen Padang yang Kini Masuk Zona Degradasi Semen Padang saat dikalahkan Persija Jakarta (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta - Manajer Semen Padang Win Bernadino bicara panjang lebar setelah timnya masuk zona degradasi Liga 1. Mulai dari mepetnya persiapan pelatih baru dan kekuatan timnya yang sudah terbaca lawan.

Kabau Sirah tunduk 0-2 dalam lawatan ke markas Persija Jakarta di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Minggu (22/10/2017) kemarin. Hasil itu membuat Semen Padang menempati peringkat ke-16 klasemen Liga 1, posisi teratas zona degradasi.

Kekalahan itu sendiri dialami setelah Semen Padang mengganti Nil Maizar dengan Syafriyanto Rusli di kursi pelatih pada 19 Oktober lalu. Ini kekalahan pertama Semen Padang bersama peracik taktik baru.

Syafrianto Rusli sendiri bukanlah sosok asing di Semen Padang. Dia tercatat sebagai karyawan aktif PT. Semen Padang yang memiliki lisensi A AFC kepelatihan. Selain itu, Syafrianto juga pernah bermain untuk Semen Padang FC medio 1980-1990-an sebagai gelandang.

"Jelas kami menunjuk Safriyanto menyelamatkan Semen Padang dari degradasi," kata Win kepada detikSport, Senin (23/10).

"Selepas ditinggal Nil Maizar, waktu itu ada caretaker tapi hasil melawan Mitra Kukar juga tak memuaskan. Untuk itu kami tunjuk Safriyanto. Namun, Safriyanto baru benar-benar bekerja pada Jumat malam sehingga persiapannya tidak banyak," ucapnya.

Selain persiapan singkat di tangan pelatih baru, Win juga menduga bahwa saat ini kekuatan timnya sudah terbaca lawan. Sejak Piala Presiden lalu, hampir seluruh pemainnya tetap sama.

"Sebenarnya secara manajerial dan hubungan sosial di dalam tim aman-aman saja. Cuma mungkin kami terlalu mudah ditebak sekarang ini. Sebab, pola kami, pemain kami, sejak dari Piala Presiden sampai sekarang tidak banyak berubah. Sehingga sepertinya mudah bagi lawan untuk mengantisipasi kekuatan kami. Begitu kondisinya," ujar Win.

Sebelum ini Nil Maizar sempat mengeluhkan materi pemainnya. Tapi anggaran manajemen juga terbatas. Win pun menyebut bahwa mendatangkan pemain bukanlah perkara mudah seperti menjentikkan jari tangan.

"Karena apa? ketika mendatangkan pemain itu dia mau atau tidak? Secara pribadi cocok tidak dengan Semen Padang? Deal-dealnya seperti itu," ucap Win.

"Yang terakhir juga klubnya mau melepas atau tidak? Karena jika sudah di tengah musim, yang kami inginkan tentu yang sudah punya kontrak semua. Nah, kadang-kadang ada yang mau ditebus atau tidak. Itu yang susah," tuturnya.

Terlebih lagi, imbuh Win, Semen Padang tak dimiliki pribadi. Ada perusahaan yang membawahi sehingga segala sesuatunya sudah direncanakan lebih dulu. Berbeda dengan tim dengan kepemilikan pribadi yang bisa lebih fleksibel tatkala ingin jor-joran belanja.

"Kami tidak seperti itu, anggaran tahun ini sudah diusulkan tahun kemarin," ujar dia.

Menurut Win, model kepemilikan semacam itu di atas kertas memiliki kelebihan karena seorang pemain bakal dapat jaminan pembayaran gaji tepat waktu karena tidak mungkin keluar dari anggaran yang sudah disediakan. Yang jadi masalah, adanya sejumlah perubahan di tengah-tengah perjalanan kompetisi Liga 1 saat ini sudah sedemikian menyulitkan Semen Padang.

"Tetapi pada saat musim ini kan agak unik. Perubahan aturan, munculnya regulasi aturan U-22, lalu hilang kembali, marquee player, dan itu dampaknya finansial. Nah, untuk tim kami yang finansialnya sudah jelas efeknya cukup terasa. Kami jadi terbatas gerak-geriknya," tuturnya.




(mcy/krs)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed