sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Selasa, 19 Mei 2020 12:19 WIB

Round-up

Kompetisi Bola Jeda akibat Corona, Kiper Jualan Narkoba

Tim Detikcom - detikSport
BNNP Jatim menangkap eks pesepakbola dan pemain Liga 2 pengedar sabu. Pemain PS Hizbul Wathan, Choirun Nasirin, mengedarkan narkoba di saat kompetisi jeda karena virus Corona. (Foto: detikcom/Deni Prastyo Utomo)
Jakarta -

Rehatnya kompetisi menempatkan pesepakbola dalam kondisi sulit. Di Jawa Timur, seorang pemain aktif sampai menjual narkoba.

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Timur mengungkap peredaran home industry sabu, Senin (18/5/2020). Tiga dari empat tersangkanya merupakan pelaku atau pernah berkecimpung di dunia sepakbola.

Jumlah sabu yang diedarkan tak main-main. Kelompok ini sudah memasarkan 5 kilogram sabu. Untuk aksi kedua, BNNP Jatim bisa melakukan tangkap tangan.

Salah satu tersangka, Choirun Nasirin, merupakan kiper klub Liga 2, PS Hizbul Wathan. Dia dikontrak hingga dengan durasi sepanjang Liga 2 2020.

Bersama dengan Eko Susan Indarto, yang merupakan eks pemain Persela Lamongan, Choirun membeli sabu ke Dedi A Manik, eks wasit yang juga mantan ketua Asosiasi Kota PSSI Jakarta Utara.

"Dari pengakuannya sudah dua kali. Sejak dua bulan lalu, semenjak tidak ada kompetisi, semenjak PSBB. Dia sudah memesan sekitar 5 kg. Berarti 5 kg yang lalu tidak berhasil ditangkap oleh kami dan sudah beredar ke mana-mana, kami nggak tahu. Beredar di pemain mana kami nggak tahu, beredar di kalangan apa kami nggak tahu. Ya itu yang sedang kami selidiki sekarang," kata Kabid Pemberantasan BNNP Jatim Kombes Arief Darmawan usai rilis di kantornya.

Kompetisi di Indonesia sudah ditangguhkan sejak Maret. PSSI sampai memutuskan kondisi force majeure untuk Liga 1 dan Liga 2 2020 pada 27 Maret.

Dalam salah satu poin surat keputusan PSSI, klub cuma mempunyai kewajiban untuk membayar gaji pemain sebesar 25 persen dari yang tertera dalam kontrak selama April hingga Mei.

Kekhawatiran mengenai kesulitan pemain akibat pembatasan gaji selama dua bulan itu sempat diungkapkan oleh beberapa pesepakbola. Pemain Bhayangkara FC, Ruben Sanadi, salah satunya.

"Kalau saya sebagai pemain menerima saja. Tapi, kasihan teman-teman pemain yang memiliki gaji yang tidak tinggi juga kan," kata Ruben kepada wartawan beberapa waktu lalu.

"Kasihan kalau mereka cuma mendapatkan 25 persen. Karena kan ada keluarga yang harus dihidupi. Mungkin kalau 50 persen itu baru lebih baik," ujarnya menambahkan.

Hal senada juga diungkapkan oleh pemain Persiraja Banda Aceh, Miftahul Hamdi. Bebannya akan bertambah kalau si pemain sudah berkeluarga.

"Saya pribadi kalau dapat 25 persen pasti dikit banget. Apalagi kalau sudah berkeluarga. Pemain bola hampir 90 persen pekerjaannya hanya di sepakbola. Mungkin hanya 10 persen yang punya sampingan," kata Hamdi.

Choirun saat ini sudah mendapatkan konsekuensi atas perbuatannya. Dia sudah dicoret dari PS HW, hingga tak akan mendapatkan gaji 25 persen di bulan Mei.

Nasib kompetisi Liga 1 dan Liga 2 2020 saat ini masih belum jelas. PSSI masih menunggu hingga 29 Mei untuk membuat keputusan, menanti langkah Gugus Tugas COVID-19 dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana dalam penangan pandemi virus Corona.

Semoga segera ada kejelasan dari PSSI dan PT Liga Indonesia Baru selaku operator kompetisi, agar tak makin banyak pesepakbola yang terpuruk karena pandemi ini.

(cas/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com