Simon McMenemy: Pelatih Bertato yang Cinta Sepakbola Indonesia

Muhammad Robbani - Sepakbola
Selasa, 21 Jul 2020 20:43 WIB
Simon Mc Menemy memimpin latihan Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senin (2/9/2019).
Simon McMenemy kembali bercerita mengenai pengalaman di Asia Tenggara. (Foto: detikcom/Agung Pambudhy)
Jakarta -

Simon McMenemy tak pernah membayangkan bakal singgah lama di Filipina dan Indonesia. Pada awal kariernya, ia sempat bekerja dengan Carlos Tevez dan Ronaldinho.

Kiprahnya di Asia Tenggara dimulai dengan melatih Timnas Filipina saat diresmikan pada Agustus 2010. Kehadirannya cukup memberikan dampak instan dengan langsung mengantar The Azkals menembus semifinal Piala AFF 2010.

Sebelumnya, Filipina cuma menjadi bulan-bulanan dalam ajang Piala Tiger (nama lama Piala AFF). Bahkan mereka pernah mencatat kalah memalukan dari Timnas Indonesia dengan skor 13-1 di Piala Tiger 2002.

Pria asal Skotlandia ini sebelumnya pernah bekerja di Brighton sebagai staf pengembangan. Di sana ia juga pernah mendapatkan kesempatan bekerja untuk Nike bersama dengan Carlos Tevez dan Ronaldinho.

Worthing FC, klub amatir di Inggris adalah awal mula karier Simon di dunia kepelatihan. Ia menjabat sebagai asisten pelatih untuk klub yang bermarkas di Woodside Road itu.

Suatu waktu saat sudah gabung Brighton, ia berbalas pesan di Facebook dengan Chris Greatwich, mantan anak asuhnya di Worthing FC. Chris Greatwich menyarankan Simon untuk mengirim email lamaran untuk menjadi pelatih Timnas Filipina.

"Saat itu mereka (Filipina) cuma punya pemain-pemain semi-profesional dan kualitasnya tidak bagus-bagus amat. Saya (kirim email lamaran) cuma karena mau bikin dia (Chris Greatwich) senang," kata Simon McMenemy dikutip dari pressandjournal.

"Enam pekan kemudian, saya duduk di meja kerja saya, menatapi jendela dengan secangkir kopi di tangan. 'Saya menjadi pelatih Timnas Filipina. Seharusnya orang tak mendapatkan pekerjaan dengan cara seperti ini'," ujarnya mengenang momen itu.

Meski sukses, kebersamaannya dengan Timnas Filipina cuma berlangsung sampai 2011. Setelahnya, ia banyak menghabiskan waktu nomaden dengan berpindah-pindah ke Vietnam, Indonesia, Maladewa, dan kembali ke Filipina dengan melatih Loyola Meralco Sparks.

Di Indonesia Simon mendapatkan kesempatan melatih Mitra Kukar dan Pelita Bandung Raya. Namun tak bertahan lama lalu pindah ke Maladewa dengan melatih New Radiant.

Dari sana ia kemudian pindah ke Loyola Meralco Sparks dan akhirnya kembali ke Indonesia dengan menjadi pelatih Bhayangkara FC. Bersama The Guardian, ia mempersembahkan gelar juara Liga 1 2017.

"Anda harus beradaptasi soal attitude di sini (Asia). Jika mengeluh terhadap setiap hal kecil, Anda akan cepat dipecat. Karena orang tak mau bekerja dengan Anda. Memahami budaya setempat adalah hal paling penting di dunia ini dan ini yang biasanya selalu menjadi pelatih-pelatih asal Eropa," tuturnya.

"Saya pernah menangis karena dipecat dan berpindah-pindah negara sebelum akhirnya kembali- tidak ada yang perlu ditutupi (terhadap kecintaan saya) ke sepakbola Indonesia. Saya bukan pelatih menonjol sesuai kriteria Anda. Pelatih muda bertato asal Inggris ini kembali ke Liga (Indonesia)," ucap Simon McMenemy soal gabung ke Bhayangkara.

(Kisah Simon McMenemy di Indonesia)

Seperti dibahas di atas, Simon McMenemy berhasil mengantar Bhayangkara juara Liga 1 2017. Namun klubnya tak berhasil tampil di Liga Champions Asia atau Piala AFC karena tak lolos verifikasi AFC.

Justru Persija Jakarta, tim peringkat keempat yang mendapatkan jatah itu karena punya lisensi AFC. Banyak staf anggota Bhayangkara yang kemudian pindah ke Persija setelahnya, salah satunya Gede Widiade.

"Di Indonesia, sepakbola selalu merembet ke hal lain. Entah itu power, politik, pengaruh, atau uang. Sebagai pelatih, Anda harus menerima situasi ini jika Anda mau bekerja di sini," ucap pelatih berusia 42 tahun.

Meski gagal mempertahankan gelar juara, Bhayangkara tetap sanggup mengakhiri musim di tiga besar pada Liga 1 2018. Simon dianggap punya kemampuan istimewa meski skuad Bhayangkara sederhana.

PSSI pun menunjuk Simon menjadi pelatih Timnas Indonesia pada akhir 2018. Ia memulai pekerjaannya pada awal tahun dengan memimpin latihan serta beberapa uji coba.

Pada ajang sesungguhnya, mimpi buruk mulai menghampiri. Indonesia kalah empat kali berturut-turut di Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia. Ketum PSSI yang baru, Mochamad Iriawan, kemudian membuat pernyataan bahwa Simon McMenemy akan dipecat setelah laga kelima saat bertandang ke Markas Timnas Malaysia.

Simon tak suka dengan pernyataan itu dan memilih tak melanjutkan pekerjaannya sebagai pelatih pada laga tandang melawan Malaysia. Namun Mochamad Iriawan berhasil membujuknya untuk tetap berangkat ke Kuala Lumpur meski sebenarnya jabatan pelatih sudah diambil oleh Yeyen Tumena sebagai pelatih caretaker.

"Itu (melatih Timnas Indonesia) adalah pekerjaan yang ketika Anda menang menjadi hal fantastis, tapi kalau kalah menjadi mimpi buruk. Meski sejak awal Anda tahu ini pekerjaan berbahaya, tetapi Anda tetap berpikir, 'Yeah saya bisa melakukannya," kata Simon.

Simon tak punya hasrat untuk kembali bekerja di Inggris, namun ia membuka pintu lebar jika ada tawaran dari Skotlandia, tanah kelahirannya. Ia pernah menolak tawaran dari Clyde FC yang pada akhirnya diambil oleh Barry Ferguson.

"Ini adalah isu yang menjadi masalah buat saya. Saya butuh orang yang paham dengan pekerjaan di Asia. Sejauh keinginan saya kembali ke rumah, tapi saya tak tahu apakah itu mungkin. Bekerja di Skotlandia tentu saja akan saya ambil karena saya menyukainya."

Terlepas dari penentuan masa depannya, ia sudah punya rencana untuk menceritakan pengalaman melatihnya di Asia, terutama di Indonesia. Ada hasrat darinya untuk menulis buku.

"Kadang Anda tak pergi ke stadion dengan bus, melainkan kendaraan taktis (rantis). Pemain kadang terluka terkena lemparan batu. Kendaraan tank itu cuma muat 8 orang, ini gila, tapi antusiasme yang besar dari fans sangat kamu rasakan, ketika bagus ini mengagumkan, ketika buruk ini menjadi hal berbahaya," katanya.

"Ada sebuah pertandingan dimana seseorang meninggal setelah pertandingan karena ulah suporter. Saya pikir tak ada yang seperti ini di Skotlandia di mana sepakbolanya tidak mengintimidasi seperti ini," ucap Simon McMenemy menutup cerita.

(cas/bay)