Dugaan kasus rasisme juga mewarnai kericuhan saat Bhayangkara FC melawan Dewa United. Ada pengakuan pemain yang mengaku mendapat pelecehan rasial.
Kericuhan pecah saat akhir laga Dewa United melawan Bhayangkara FC di kompetisi Elite Pro Academy U-20 2026. Laga di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah, itu dimenangi Dewa United dengan skor 2-1.
Kericuhan diawali dengan gol kontroversial Dewa United pada menit ke-86. Pemain Dewa United dinilai offside oleh para pemain Bhayangkara FC. Protes ke wasit pun dilakukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keributan merembet ke bench pemain. Ada tiga pemain Bhayangkara FC yang disebut Dewa United melakukan kekerasan. Selain itu, ada juga pelatih kiper Bhayangkara FC, Ferdiansyah, yang melakukan tindakan kekerasan.
Bintang Bhayangkara FC, Fadly Alberto Hengga, menjadi salah satu pemain yang melancarkan tendangan. Dia kemudian dicoret dari Timnas Indonesia U-20 asuhan Nova Arianto.
Dalam pernyataan permintaan maafnya, Alberto juga menyebutkan alasan melakukan tendangan tersebut. Pemain yang menyumbang satu gol untuk Indonesia di Piala Dunia U-17 2025 itu mengaku mendapat perkataan rasial dari pemain Dewa United dengan sebutan 'hitam' dan 'monyet'.
Saat ini, PSSI dan ILeague sedang menggelar kampanye antirasisme dan antibullying. Memang, di Super League dan Championship Division saat ini masih terjadi kasus-kasus rasisme dan bullying.
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah yang menimpa pemain Malut United, Yakob Sayuri. Selain itu, ada juga peristiwa yang menimpa Ricky Kambuaya saat Dewa United melawan Persib Bandung, Senin (21/4/2026), lewat media sosial.
Oleh karena itu, PSSI dan ILeague juga harus serius menangani kasus dugaan serangan rasisme di kompetisi EPA U-20 yang dilakukan oleh pemain Dewa United. Bobotnya harus dianggap sama dengan tindakan kekerasan fisik yang dilakukan oleh Bhayangkara FC.
Pemerhati sepakbola Indonesia, Muhamad Kusnaeni, menilai bahwa kericuhan Bhayangkara FC melawan Dewa United di EPA U-20 semestinya menjadi momentum PSSI untuk mengambil tindakan tegas pada kasus-kasus serupa agar tidak terjadi lagi di masa depan.
"Pertama-tama tentunya Komisi Disiplin PSSI perlu bekerja dengan memanggil para pihak yang terlibat untuk didengar keterangan mereka. Setelah itu, berikan sanksi tegas kepada pihak-pihak yang bersalah, entah itu pemain, pelatih, atau bahkan klubnya," kata Bung Kus, sapaan akrab Kusnaeni, kepada detikSport.
"Dalam kasus ini, hukuman yang dijatuhkan harus memiliki efek jera. Dalam arti, ini bukan peristiwa pertama sehingga kalau hukuman terlalu ringan akan mendorong terjadinya hal serupa di kemudian hari. Setelah hukuman dijatuhkan dan berkekuatan hukum tetap, PSSI dan jajarannya harus konsisten. Jangan ada upaya mengubah atau meringankan hukuman dengan alasan apapun."
"Pemain dan ofisial yang nyata-nyata bersalah juga harus masuk daftar hitam untuk tim nasional. Ini harus dilakukan secara konsisten dan tegas. Kekerasan dan rasisme dalam sepak bola Indonesia sudah berada di tahapan yang mengkhawatirkan. PSSI tidak bisa lagi memandangnya sebagai kenakalan atau perilaku buruk biasa. Harus diatasi sedini mungkin kalau tak mau jadi masalah besar di kemudian hari," kata dia menambahkan.
(cas/krs)











































