sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Rabu, 20 Mar 2019 13:38 WIB

Sikap yang Dipegang Kuat-Kuat Son Heung-min, Tentang Respek dan Pernikahan

Rifqi Ardita Widianto - detikSport
Son Heung-min mengungkapkan dua hal yang dipegangnya kuat-kuat. (Foto: Matthew Childs/Action Images via Reuters) Son Heung-min mengungkapkan dua hal yang dipegangnya kuat-kuat. (Foto: Matthew Childs/Action Images via Reuters)
Jakarta - Son Heung-min bertekad menikmati betul kariernya sebagai pesepakbola. Tapi sekalipun ia ambisius, nilai-nilai kemanusiaan takkan dilupakan.

Bersama Tottenham Hotspur, Son melontarkan kariernya ke level yang belum tercapai sebelumnya. Di Jerman, bersama Hamburg dan Bayer Leverkusen, namanya belum sepopuler ini.

Premier League yang ingar-bingar, punya perputaran uang terbesar dari liga-liga seluruh dunia, berisi para pemain dan manajer top, membantunya menjadi pesepakbola papan atas. Kendatipun belum berhasil memenangi trofi bersama Tottenham, Son sudah mencicil jalannya sedikit demi sedikit.




Dia sudah membantu Tottenham finis di empat besar --lolos Liga Champions-- tiga musim beruntun. The Lilywhites bahkan jadi runner-up di musim 2016/2017 lalu.

Musim ini kans melanjutkan catatan itu terbuka lebar, dengan Son dkk sementara menempati posisi tiga klasemen. Di Liga Champions, Tottenham akhirnya kembali ke perempatfinal setelah kali terakhir pada 2010/2011 silam.

Secara performa, Son juga terbukti cukup konsisten. Musim ini dia sudah bikin 16 gol plus sembilan assist dari 37 penampilan. Dia masih punya peluang melewati catatan gol terbaiknya dua musim lalu, kala membikin 21 gol. Musim lalu, Son 'cuma' bikin 18 gol di semua kompetisi.

Tapi sepakbola tak melulu soal ambisi, baik kolektif maupun individu. Son bertekad untuk tetap menjaga respek dan nilai-nilai kemanusiaan di lapangan, terlepas dari target-target yang diemban.

"Ayah saya bilang ke saya ketika saya masih kecil, bahwa kalau saya sedang menghadapi gawang tapi seorang lawan terjatuh dan terluka, saya harus membuang bola dan mengecek pemain tersebut," ujarnya.

"Karena kalau Anda jadi pesepakbola yang bagus tapi tak tahu bagaimana caranya menghormati orang lain, Anda bukan siapa-siapa. Dia masih berpesan itu kepada saya."




"Terkadang memang sulit, tapi kita adalah manusia biasa sebelum seorang pesepakbola. Kami harus menghormati satu sama lain. Di lapangan, di luar lapangan, kenapa harus berbeda?" imbuh Son dilansir Guardian.

Pesan sang ayah mengingatkan akan aksi yang dilakukan mantan pesepakbola Italia, Paolo Di Canio. Di Canio, yang punya perangai bengal, itu suatu hari pada Desember 2000 silam menghebohkan dunia sepakbola, kala membuang kesempatan terbuka di depan gawang Everton.

Di Canio yang saat itu berseragam West Ham United memilih menangkap bola meski gawang terbuka lebar, karena melihat kiper Paul Gerrard tergeletak karena cedera. FIFA menganugerahinya FIFA Fair Play Award tahun berikutnya.

Pesan lain yang diingat Son dari sang ayah adalah soal pernikahan. Dia diwanti-wanti untuk tak menikah sebelum pensiun, yang mana ia setuju.

Di usia kini 26 tahun dan punya berbagai ambisi, Son ingin fokus sepenuhnya ke sepakbola dulu. Toh usia karier seorang pesepakbola tak panjang.

Beruntung baginya di Korea Selatan situasinya mendukung. Rata-rata laki-laki Korea menikah di usia 36 tahun sementara perempuan di usia 33 tahun, seperti data yang diungkap firma perjodohan, Duo, dilansir Korea Herald.




"Ayah saya berkata begitu dan saya juga setuju. Ketika Anda menikah, nomor satunya adalah keluarga, istri dan anak, lalu sepakbola," kata Son.

"Saya ingin memastikan bahwa ketika saya bermain di level top, sepakbola bisa menjadi urusan nomor satu. Anda tak tahu berapa lama bisa bermain di level top."

"Ketika Anda pensiun, atau saat berusia 33 atau 34 tahun, Anda masih bisa menjalani hidup panjang dengan keluarga," tambahnya. (raw/cas)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com