Corner FC Marak di EPL, IFAB Nilai Belum Perlu Ubah Aturan

Corner FC Marak di EPL, IFAB Nilai Belum Perlu Ubah Aturan

Adhi Prasetya - Sepakbola
Rabu, 04 Mar 2026 10:00 WIB
Situasi sepak pojok yang intens dalam duel Everton vs Manchester United di Liga Inggris pada 23 Februari 2026.
Kondisi berkerumun 'saling sikut' dalam situasi bola mati sedang marak terjadi di Liga Inggris musim ini. Foto: Offside via Getty Images/Simon Stacpoole/Offside
Jakarta -

Situasi bola mati bak gulat massal yang sedang ramai dipakai di Premier League musim ini memicu banyak perdebatan, bahkan muncul desakan untuk mengubah aturan sepak pojok. Meski begitu, FIFA dan IFAB tak melihat ada urgensi ke arah sana.

Duel Liga Inggris kini banyak didominasi aksi fisik yang intens saat sepak pojok, dengan para pemain saling bergulat, menghalangi, mendorong, dan berkumpul di sekitar kiper sebelum bola dikirim ke kotak penalti.

Dipelopori oleh Arsenal, tim-tim lain kemudian ikut meniru. Beragam reaksi pun bermunculan. Ada yang biasa-biasa saja, namun ada juga yang melihat hal ini bisa memicu penurunan daya tarik Premier League ke depannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka yang tak suka dengan gaya main corner FC ini mulai menyuarakan amandemen aturan mengenai sepak pojok. Salah satu usul adalah melarang para pemain masuk kotak enam yard sebelum bola dilepaskan.

ADVERTISEMENT

Akan tetapi, FIFA selaku induk sepakbola dunia dan IFAB selaku badan pembuat aturan sepakbola belum melihat fenomena ini sebagai sebuah masalah. Salah satu anggota IFAB, Ian Maxwell bahkan menyebut hal itu bukanlah bahasan utama dalam rapat IFAB yang digelar di Cardiff, Wales, akhir pekan lalu.

Rapat IFAB merupakan pertemuan yang juga berfungsi untuk membahas amandemen aturan sepakbola secara general. Pada pekan lalu, mereka lebih berfokus pada upaya mengurangi waktu yang terbuang saat lemparan ke dalam atau tendangan gawang.

"Itu (gulat massal di kotak penalti saat set-piece) bukan sesuatu yang secara khusus kami bicarakan," kata Maxwell, dikutip ESPN.

"Apakah ada perubahan terkait perilaku tersebut selama pertandingan, hal-hal semacam itu terjadi seiring berjalannya sebuah musim, tetapi saya tidak yakin (perubahan) itu menjadi semakin buruk."

Laws of the game menegaskan bahwa sebelum bola mati ditendang, maka permainan belum bergulir, sehingga wasit tidak dapat memberikan pelanggaran. Namun apabila dalam gulat massal itu muncul pelanggaran setelah bola ditendang, wasit berhak meniup peluit.

"Itu jelas ada dalam protokol karena itu secara efektif berpotensi menjadi penalti jika terjadi perebutan bola di tendangan sudut. Jadi dalam protokol saat ini, itu dapat dinilai," jelas Maxwell.




(adp/yna)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads