Bos Arsenal: Arteta Sukses karena Runtuhkan Budaya Buruk di Klub

Bos Arsenal: Arteta Sukses karena Runtuhkan Budaya Buruk di Klub

Randy Prasatya - Sepakbola
Kamis, 28 Mei 2026 02:00 WIB
LONDON, ENGLAND - MAY 24: Mikel Arteta, Manager of Arsenal,  lifts the Premier League trophy as players of Arsenal celebrate, as they are crowned the Champions of the Premier League for the 2025/26 Season, after the Premier League match between Cryst
Mikel Arteta dengan trofi Premier League. (Foto: Getty Images For Premier League/Michael Regan)
Jakarta -

Setelah menjalani kerja keras selama enam setengah tahun, Mikel Arteta akhirnya bisa membawa Arsenal juara Premier League. Kunci utamanya adalah mengubah budaya di dalam klub.

Arsenal berhasil menjadi juara Premier League 2025/2026, yang sekaligus menyudahi penantian selama 22 tahun. Ini merupakan gelar yang sangat diidam-idamkan, walaupun Arteta sudah mempersembahkan Piala FA.

Arsenal sebelum sukses juara, harus menelan pil pahit dengan finis sebagai runner-up selama tiga musim beruntun. Namun, tahap itu juga dicapai dengan cara yang tidak mudah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Arteta datang pada Desember 2019. Arsenal menunjuk mantan pemainnya itu setelah memecat Unai Emery.

Arsenal sangat kacu ketika Arteta tiba. Pria asal Spanyol itu lantas dengan berani terlebih dahulu mengubah budaya di Arsenal secara organisasi.

ADVERTISEMENT

Arteta melakukan sebuah kajian yang sangat mendalam untuk mencoba memahami perasaan orang-orang yang bekerja di Arsenal. Arteta ternyata tidak senang dan sama sekali tidak terkesan dengan cara pekerja di klub mendefinisikan perasaannya.

Arteta butuh waktu untuk meruntuhkan semua budaya yang sudah salah di Arsenal. Bahkan, Arsenal finis di posisi kedelapan dalam dua musim pertama Arteta dan banyak menyerukan pemecatan.

Dewan direksi masih terus percaya dengan cara yang sudah dilakukan. Salah satu sosok yang sangat percaya adalah Co-Chair, Josh Kroenke, yang duduk di posisi tertinggi bersama ayahnya, Stan Kroenke.

"Saya pertama kali bertemu Mikel Arteta ketika dia bermain untuk Arsenal, jadi saya memiliki gambaran tentang kepribadiannya. Ayah saya dan saya tahu banyak tentang sosok di balik pemain tersebut," kata Josh Kroenke di podcast The Overlap bersama Ian Wright dan Gary Neville.

"Namun pada musim panas 2019, setelah kami pergi ke Baku, Azerbaijan untuk final Liga Europa, saat itulah semuanya mulai terasa nyata bagi saya. Dan saya ingat pernah berbicara dengan ayah saya bahwa mungkin kami perlu mundur selangkah terlebih dahulu untuk akhirnya bisa maju."

"Jadi, ketika kami tiba pada bulan Desember itu, dan itu bisa dibilang periode transisi, kami benar-benar bisa melihat klub berada di titik bahwa kami perlu benar-benar menciptakan kembali budayanya."

"Dan ketika saya duduk bersama Mikel, dia menyampaikan semua taktik sepakbolanya, tetapi percakapan yang benar-benar saya ingat adalah tentang budaya."

"Namun ketika saya datang ke tempat latihan ini dan melihat orang-orang yang ada di sini, saya pikir ini adalah bukti dari apa yang telah Mikel dan stafnya capai selama enam tahun terakhir. Bukan hanya di lapangan, tetapi juga di luar lapangan," tegasnya.




(ran/nds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads