Leicester City: Dari Kisah Dongeng ke Kisah Horor

Leicester City: Dari Kisah Dongeng ke Kisah Horor

Afif Farhan - Sepakbola
Kamis, 13 Agu 2026 22:20 WIB
LEICESTER, ENGLAND - MAY 07:  Jamie Vardy of Leicester City lifts the Premier League Trophy as players and staffs celebrate the season champions after the Barclays Premier League match between Leicester City and Everton at The King Power Stadium on M
Foto: (Getty Images/Shaun Botterill)
Jakarta -

Leicester City bak jalani kisah dongeng ketika jadi kampiun Premier League di 2016. Setelahnya, The Foxes terjun bebas dan kini mau dijual.

Leicester City menuliskan sejarah dengan pertama kali jadi juara Liga Inggris di tahun 2016. Leicester ketika itu amankan titel setelah Tottenham diimbangi Chelsea pada tiga laga terakhir liga.

Jamie Vardy dkk bak jalani kisah dongeng. Leicester mampu bungkam tim-tim raksasa dan jadi kampiun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

LEICESTER, ENGLAND - MAY 07: Danny Drinkwater and Danny Simpson of Leicester City poses with the Premier League Trophy as players and staffs celebrate the season champion after the Barclays Premier League match between Leicester City and Everton at The King Power Stadium on May 7, 2016 in Leicester, United Kingdom. (Photo by Michael Regan/Getty Images)Leicester saat menangi Liga Inggris musim 2015/2016 (Foto: Michael Regan/Getty Images)

ADVERTISEMENT

Pencapaian itu adalah buah manis dari Vichai Srivaddhanaprabha, pengusaha Thailand ketika membeli Leicester City sejak 2010. Investasi besar-besaran dilakukan.

Tapi setelah jadi kampiun, Leicester tak kuasa menahan para punggawanya. Mahrez dibeli Man City, Kante dibeli Chelsea, beberapa pemain yang jadi tulang punggung pergi.

Kabar duka selanjutnya datang di tahun 2018. Vichai tewas akibat kecelakaan helikopter di dekat Stadion King Power.

Anak-anak dan keluarganya melanjutkan perjuangan. The Foxes sempat merengkuh titel Piala FA di 2021.

A man holds a tribute outside Leicester City's King Power stadium, after the club's owner Thai businessman Vichai Srivaddhanaprabha and four other people died when the helicopter they were travelling in crashed as it left the ground after the match on Saturday, in Leicester, Britain, October 29, 2018. REUTERS/Peter NichollsPara penggemar Leicester memberikan penghormatan pada Vichai Srivaddhanaprabha (Foto: Peter Nicholls/Reuters)

Setelahnya, Leicester City kembali jalani periode buruk. Leicester terdegradasi pada musim 2022/23, sempat balik ke Premier League, lalu degradasi lagi pada 2024/25.

Kondisi keuangan menghantam klub. Ketika main di Divisi Championship pada 2025/26, mereka kena pengurangan poin akibat melanggar aturan aturan Profitabilitas dan Keberlanjutan (PSR). Itu membuat mereka degradasi ke League One alias kompetisi kasta ketiga untuk musim 2026/27.

Kondisi keuangan yang memburuk karena kombinasi beban gaji pemain yang terlalu tinggi, kebijakan transfer yang kurang efektif, penurunan bisnis akibat pandemi, sampai hilangnya pendapatan utama setelah terdegradasi dari Liga Inggris.

Sejak 2021, Leicester merugi terus. Tak main-main angkanya, masing-masing per tahun kerugiannya adalah 92,5 juta Pounds, 89,7 juta Pounds, 19,4 juta Pounds, dan terbaru 71,1 juta Pounds.

Keluarga Srivaddhanaprabha diketahui sudah angkat bendera putih dan mau menjual klub. Aiyawatt Srivaddhanaprabha, sosok pemimpin di keluarhanya mulanya menolak wacana penjualan klub. Tapi sepertinya, mereka sudah tidak bisa menahan kerugian yang berkelanjutan.

Leicester City bakal dijual dengan proposal 'Project Lineup'. Mereka buka harga mulai dari 222 juta Pounds atau setara Rp 5,4 triliun!

Mereka menawarkan semua portofolio klub. Itu termasuk Stadion King Power, pusat pelatihan Seagrave, dan Belvoir Drive yang ditaksir bernilai 204 juta Pounds.

(aff/rin)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads