Di Inggris, McClaren sulit untuk disebut sukses. Raihan Piala Liga tahun 2004 bersama Middlesbrough adalah satu-satunya prestasi pria 49 tahun itu saat menduduki kursi manajer sebuah tim.
Tahun 2006, McClaren naik pangkat dengan ditunjuk sebagai manajer timnas Inggris. Tapi kegagalan lolos ke Euro 2008 membuat eks asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United itu harus lengser.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski sukses bersama Twente, tahun ini McClaren memutuskan menerima tantangan membesut VfL Wolfsburg, yang selama setengah musim sebelumnya ditangani caretaker Lorenz-Guenther Koestner setelah pemecatan Armin Veh.
McClaren diboyong dengan harapan mampu mengangkat prestasi juara Bundesliga 2008-09 itu. Di musim 2009-10, Die Wolfe cuma bisa merampungkan liga di posisi kedelapan.
Untuk musim depan, McClaren sudah dibekali dengan beberapa amunisi tambahan. Dua di antara yang paling mentereng adalah bek timnas Jerman Arne Friedrich yang digaet dari Hertha Berlin dan Simon Kjaer yang diangkut dari Palermo.
Selain Friedrich dan Kjaer yang sama-sama bek, Wolfsburg punya Cicero (gelandang) yang dipinjam dari Tombanese, Mario Mandzukic (penyerang) yang dibeli dari Dinamo Zagreb, serta Nassim Ben Khalifa (gelandang) yang didapat dari Grasshopper.
Namun Die Wolfe juga ditinggal beberapa pemain seperti Obafemi Martins (ke Rubin Kazan), Jan Simunek (Kaiserslautern), Rever (Atletico Mineiro), Jonathan Santana (Kayserispor) dan Christian Gentner (VfB Stuttgart).
Pergerakan Wolfsburg di pasar transfer tampaknya masih belum selesai. Mereka masih membidik playmaker Diego Ribas yang gagal di Juventus serta striker Liverpool yang terpinggirkan, Ryan Babel.
Secara obyektif, sulit untuk mengharapkan McClaren langsung sukses di musim pertamanya meracik Die Wolfe, apalagi mengingat Liga Jerman jauh lebih ketat ketimbang Liga Belanda. Tapi bagaimanapun, kiprah McClaren kali ini layak disimak.
(arp/nar)











































