Dominasi Bayern dan Politik 'Menggembosi' Para Rival

ADVERTISEMENT

Jelang Bundesliga 2014/2015

Dominasi Bayern dan Politik 'Menggembosi' Para Rival

- Sepakbola
Selasa, 19 Agu 2014 13:53 WIB
Lars Baron/Bongarts/Getty Images
Jakarta -

Rasanya tidak ada klub di Eropa yang punya kebijakan belanja (atau politik?) 'penggembosan' seperti yang dipraktikkan Bayern Munich. Dari tahun ke tahun Bayern terus mendatangkan pemain bintang dari rival utamanya.

Tentunya tidak ada yang salah dari kebijakan transfer Bayern tersebut. Setiap klub jelas berhak membeli pemain yang mereka inginkan atau butuhkan demi membuat skuatnya menjadi lebih baik, memiliki kemampuan berkompetisi yang lebih oke.

Tapi tak seperti klub-klub Eropa pada umumnya yang mencari pemain ke negeri seberang atau bahkan benua yang berbeda, Bayern terhitung sangat sering membeli pemain langsung dari klub yang merupakan rival utama mereka. Robert Lewandowski jadi pembuktian terakhir fenomena tersebut, setelah musim lalu Mario Goetze juga diboyong ke Allianz Arena.

Goetze dan Lewandowski sebelumnya memperkuat Borussia Dortmund, klub yang mengusik dominasi Bayern setelah mereka berhasil dua kali menjuarai Bundesliga pada 2010/2011 dan 2011/2012. Skuat besutan Juergen Klopp bahkan meraih gelar ganda pada 2011/2012 yakni Bundes Liga dan DFB Pokal.

Kalau mau jujur, Dortmund tak akan 'membiarkan' dua pemainnya itu menyeberang ke Bayern. Tapi upaya yang dilakukan Dortmund tak cukup. Pada kasus Goetze, Bayern sepakat untuk memenuhi nilai klausul pelepasan sang pemain. Dortmund pun tak bisa berbuat apa-apa. Tinggal kemarahan yang bisa diluapkan pendukung mereka dengan membakar jersey Goetze dan memberinya julukan Judas.

Terkait Lewandowski, kontraknya yang habis pada 30 Juni 2014 membuat dia bisa pergi dengan bebas. Dortmund juga sudah melakukan segalanya untuk mempertahankan penyerang yang dalam empat musim berhasil melesakkan 103 di semua kompetisi itu. Dortmund sebenarnya bisa saja melepas Lewandowski pada musim panas 2012 demi mendapat sejumlah uang, namun mereka memilih mempertahankan sampai kontranya benar-benar habis dengan harapan bisa membujuknya menandatangani deal baru. Namun penyeran asal Polandia itu lebih terpikat untuk merumput bersama Thomas Mueller dkk di Allianz Arena.

Strategi 'penggembosan' Bayern itu terbukti berhasil. Rumor soal Goetze mengganggu Dortmund dan akhirnya kalah dalam final Liga Champions di mana Goetze tak main (meski ketika itu sang pemain juga tengah cedera). Sementara di Liga Jerman, Bayern kembali jadi penguasa dalam dua tahun terakhir.

'Penggembosan' yang dilakukan Bayern bisa jadi belum selesai. Dalam beberapa pekan terakhir Bayern dan Dortmud tengah bersitegang terkait rumor nilai transfer Marco Reus yang dihembuskan Die Roten, yang disebut-sebut 'cuma' senilai 20 juta poundsterling. Kubu Dortmund dibuat naik darah karena mereka jelas tak mau kehilangan pilar lapangan tengahnya itu.

"Jujur saja, bukan maksud kami untuk melemahkan tim lain. Kami memang sudah melakukannya beberapa kali di masa lalu, tapi kini itu cuma isu saja," cetus Presiden Bayern, Uli Hoeness, sekitar dua tahun lalu.

CEO Dortmund, Hans-Joachim Watzke, punya pandangan berbeda. Disebutnya kebijakan transfer Bayern adalah sekaligus merupakan upaya menghambat para rival bersaing dengan mereka. "Saya pikir Bayern sudah mengikuti sebuah pola yang untuk periode yang panjang, yakni untuk melemahkan para kompetitor," sahut Watzke beberapa waktu silam.

Pernyataan Watzke tersebut dibenarkan Ottmar Hitzfeld, pelatih yang sukses memberi Bayern trofi Liga Champions di tahun 1997.

"Itu merupakan strategi Bayern untuk tidak cuma memperkuat skuatnya, tapi juga secara langsung melemahkan para rival. Dan Dortmund adalah kompetitor utama. Jadi strategi itu sebenarnya sudah jelas," ujar Hitzfeld.

Striker Karl Del'Haye dianggap sebagai pemelian utama Bayern yang sekaligus bertujuan melemahkan lawan. Del'Haye diboyong dari Moenchengladbach pada tahun 1980, padahal ketika itu Bayern sudah memiliki Karl-Heinz Rummenigge dan Dieter Hoeness. Alhasil Del'Haye cuma jadi cadangan di belakang dua nama tersebut.

Kondisi serupa terjadi pada Jan Schlaudraff, yang dianggap sebagai calon rising star Jerman. Bayern membelinya pada tahun 2007 dari Alemannia Aachen hanya supaya Schlaudraff tidak memperkuat rival utama mereka saat itu yakni Werder Bremen. Schlaudraff kemudian cuma delapan kali tampil dalam seragam Bayern pada 2007/2008 dan kemudian dilepas ke Hanover. Sejak saat itu Schlaudraff tak pernah lagi dipanggil masuk timnas.

Sebelum itu Bayern juga berhasil mendatangkan duo Bayer Leverkusen: Michael Ballack dan Ze Roberto. Keduanya diangkut setelah mengantar Leverkusen lolos ke final Liga Champions 2002 dan finis di posisi dua Liga Jerman - setelah cuma kalah satu poin dari Bayern yang jadi kampiun.

Tak ketinggalan Manuel Neuer. Kiper yang kini jadi nomor satu di Jerman itu didatangkan dari Schalke 04 hanya setahun setelah klub tersebut finis sebagai runner up Liga Jerman 2004/2005 - Bayern jadi juara di tahun itu. Miroslav Klose pun punya cerita yang sama. Dia didatangkan Bayern pada 2007 setelah dua musim beruntun mengantar Werder Bremen finis di posisi dua dan tiga.

Juergen Klopp terdengar putus asa saat dimintai komentarnya terkait aksi Bayern memberi pemain pilarnya dan juga kebiasaan mereka membeli pemain bintang dari para rival.

"Saya harap kami masih bisa dapat potongan kuenya di masa depan," sahut Klopp beberapa waktu lalu.

Sejak format Bundesliga mulai digunakan di Jerman pada 1963, Bayern sangat dominan. Mereka menciptakan hegemoni dengan total telah mengumpulkan 24 gelar juara dan 10 kali jadi runner up. Klub berikutnya yang mengumpulkan gelar terbanyak adalah FC Nürnberg dengan sembilan titel (3 runner up) serta Dortmund yang sudah mengoleksi delapan gelar juara plus enam kali jadi runner up.





(din/raw)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT