Kelesuan Kiessling

Kelesuan Kiessling

- Sepakbola
Rabu, 18 Mar 2015 13:52 WIB
Kelesuan Kiessling
Reuters/Ina Fassbender
Madrid -

Beban ada di pundak Stefan Kiessling setelah Fernando Torres sukses mengeksekusi penalti dengan baik. Sial buat Kiessling, dia gagal memenuhi ekspektasi tim dan pendukungnya.

Pertandingan antara Atletico Madrid vs Bayer Leverkusen yang digelar Rabu (18/3) dinihari tadi, berujung pada adu penalti. Atletico unggul 1-0 atas Leverkusen lewat gol Mario Suarez pada menit ke-27, membuat agregat kedua tim menjadi sama kuat 1-1. Skor tersebut bertahan selama 120 menit, membuat penentuan pemenang dilakukan lewat babak tos-tosan.

Ketika Torres sukses mengeksekusi penalti, Atletico unggul 3-2. Kiessling, yang jadi penendang kelima Leverkusen, mau tidak mau harus memasukkan bola ke dalam gawang untuk menyamakan skor. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya. Tendangan Kiessling melambung di atas mistar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Atletico pun menang 3-2 lewat adu penalti itu dan berhak untuk lolos ke babak perempatfinal Liga Champions. Leverkusen terpaksa gigit jari.

Tentu, kegagalan Leverkusen di laga tersebut bukan salah Kiessling seorang. Hakan Calhanoglu dan Omer Toprak juga ikut bertanggung jawab lantaran tendangan penalti mereka juga gagal.

Namun, bagi Kiessling, kegagalan tersebut membuat kelesuan menghinggapi dirinya. Sebagai penyerang andalan Leverkusen selama bertahun-tahun, Kiessling menemukan dirinya harus bersaing dengan penyerang anyar yang lebih muda, Josip Drmic, pada musim ini.

Kiessling (31 tahun) bahkan harus mengawali laga melawan Atletico dinihari tadi dari bangku cadangan. Ketika Drmic tidak mampu menghasilkan satu shot on target pun, pelatih Leverkusen, Roger Schmidt, langsung menggantinya dengan Kiessling pada menit ke-69.

Kiessling dan Drmic memang beberapa kali dirotasi oleh Schmidt musim ini. Catatan gol keduanya di Bundesliga musim ini pun tidak beda jauh. Kiessling sudah mencetak 4 gol dalam 25 kali bermain, sementara Drmic mencetak 6 gol dari 19 kali bermain.

Namun, Kiessling unggul dalam torehan gol di semua ajang. Penyerang berambut pirang tersebut sudah mencetak 11 gol dari 33 kali bermain di semua kompetisi, sedangkan Drmic baru menorehkan 6 gol dari 26 kali bermain di semua kompetisi.

Drmic, yang didatangkan dari FC Nuremberg pada awal musim ini, aslinya adalah seorang sayap. Namun, belakangan posisinya berubah menjadi penyerang. Catatan 17 golnya --dari 33 kali bermain-- bersama Nuremberg musim lalu menunjukkan bahwa Drmic tidak buruk ketika dijadikan penyerang.

Ditambah dengan adanya Son Heung-Min dan Karim Bellarabi yang terbiasa bermain di posisi sayap, jadilah Drmic diplot sebagai penyerang di Leverkusen.

Leverkusen sendiri biasa bermain dengan formasi 4-4-2 ataupun 4-2-4 dengan dua gelandang tengah berdiri dekat lini pertahanan, dua sayap yang berposisi agak masuk ke dalam --tidak melebar--, dan dua orang penyerang.

Namun, meski menggunakan dua penyerang, Leverkusen seringkali tidak menggunakan dua penyerang murni. Biasanya, salah satu pos penyerang diberikan kepada Hakan Calhanoglu yang berdiri tepat di belakang penyerang murni. Maka, jadilah Kiessling dan Drmic "berebut" satu tempat di starting XI.

Pada laga melawan Atletico, Leverkusen kembali memainkan Calhanoglu sebagai pendamping penyerang murni. Dengan demikian, formasi 4-4-2 Leverkusen bisa berubah menjadi 4-2-4 ataupun 4-2-3-1 di tengah laga. Drmic dipasang sebagai starter, sementara Kiessling menunggu di bangku cadangan.

Kiessling memang sedang seret gol. Dalam sembilan pertandingan terakhir, hanya satu gol yang dia hasilkan. Sementara, catatan Drmic pada jumlah pertandingan yang sama lebih baik: tiga gol. Untuk penyerang yang dua musim lalu mencetak 25 gol dan menjadi top skorer Bundesliga, ini memang bukan situasi yang menyenangkan.

Dalam tiga musim terakhir, terhitung sejak musim 2012/2013, memang baru kali ini Kiessling kesulitan untuk mencetak dua digit gol di liga.

Di awal musim, Schmidt sempat meyakini bahwa Kiessling bisa mencetak 17 gol dalam semusim di liga. Namun, Schmidt juga meningatkan bahwa peran Kiessling di dalam tim bukan cuma urusan gol semata.

"Dia punya peran penting dalam sistem kami. Dia bisa menjadi penyuplai untuk rekannya juga, membuat mereka menjadi lebih baik. Fakta bahwa kami berbahaya dan fleksibel di lini depan juga tidak lepas dari peran Stefan. Dia kuat dan bisa memenangi duel perebutan bola mana pun," kata Schmidt di Bild.

(roz/a2s)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads