Ferguson marah kepada Madrid ketika klub Spanyol itu mendekati bintangnya, Cristiano Ronaldo. Meski pada akhirnya Los Blancos gagal menggaet Ronaldo dari Manchester United, tampaknya Fergie masih menyimpan dendam.
Persoalan yang bagai api dalam sekam itu membara lagi akibat sebuah wawancara Ferguson dengan majalah GQ baru-baru ini. Fergie menghubungkan Madrid dengan rezim Jenderal Franco yang pernah berkuasa di Spanyol.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan yang sama, Fergie juga menyerang pembelian Gabriel Heinze dari MU tahun 2007. Menurut pria Skotlandia itu, Heinze hanya jadi alat untuk membujuk Ronaldo. Sebuah hal yang langsung dibantah oleh yang bersangkutan.
Presiden Madrid Ramon Calderon sebetulnya tak banyak bereaksi atas pernyataan Ferguson ini. Lagipula, Calderon malah tidak suka persoalan Ronaldo ini muncul lagi karena ia juga mulai mendapat tuntutan dari suporter untuk memenuhi janjinya mendatangkan Ronaldo.
"Saya tidak akan membuang-buang waktu untuk menjawab dia. Saya menghormati prestasinya, tapi dia sudah menua," kata Calderon kepada Marca.
Marca yang memang koran pro-Madrid langsung menanggapinya dengan sebuah olok-olok. Di edisi hari Kamis (30/10/2008), Marca memuat lima gambar berseri yang menunjukkan wajah Ferguson yang perlahan bermetamorfosis jadi Jenderal Franco. Di bawahnya, tertulis judul besar 'Ferguson Chochea' alias 'Ferguson Pikun'.
Di bagian dalamnya, Marca menulis bahwa Fergie banyak hal yang diucapkan dan diperbuat di Old Trafford dipengaruhi oleh umurnya. Kepikunan tersebut menjadi jelas ketika Fergie melakukan wawancara seperti tersebut, demikian Marca.
(arp/krs)











































