Mereka patah hati dan perasaan mereka remuk redam demi melihat klub kesayangannya dibantai Barcelona dengan skor mencolok 2-6. Kalah itu biasa; tetapi kalah dengan skor besar dari rival tersengit jelas bukan sebuah hal yang mudah diterima, bahkan oleh seorang fans paling tidak fanatik sekalipun.
Tetapi itulah kenyataannya. Madrid tertunduk lesu dan malu. Dua gol Los Blancos melalui Gonzalo Higuain dan Sergio Ramos tak cukup menandingi enam gol dari Lionel Messi (2), Thierry Henry (2), Carles Puyol dan Gerard Pique.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat itu, gol-gol dari Juan Manuel Asensi (2), Johan Cruyff, Juan Carlos Perez dan Hugo Sotil sukses mencoreng muka Madrid di depan puluhan ribu suporternya di Bernabeu.
Inilah kali kedua dalam rentang lebih dari tiga dekade Barcelona bisa menjebol gawang Madrid lima kali atau lebih. Kekalahan 0-3 di Bernabeu pada 19 November 2005 saja terasa tidak seburuk ini.
Bila Madrid bersuka, Barcelona tentu berhak bersuka. Dan di antara mereka yang paling gembira, Lionel Messi adalah salah satunya. Dua gol yang dicetak penyerang mungil itu membuatnya mencatat sejarah pribadi.
Sejak melakoni debutnya pada tahun 2003, Messi pastinya sudah berkali-kali membela Barca memasuki El Clasico melawan Madrid. Tetapi baru kali inilah pemain Argentina itu berhasil menjebol gawang lawan di Bernabeu.
Catatan Messi melawan Madrid tak buruk. Ia pernah mencetak hat-trick, ia juga pernah sekali lagi menjebol gawang 'Si Putih'. Namun keempat-empatnya dicetak di markas sendiri, Stadion Camp Nou.
(arp/din)











































