Spanyol 'Terbelah' dalam Tanggapi Aksi Madrid

Spanyol 'Terbelah' dalam Tanggapi Aksi Madrid

- Sepakbola
Jumat, 12 Jun 2009 01:08 WIB
Spanyol Terbelah dalam Tanggapi Aksi Madrid
Madrid - Aksi Real Madrid di bursa transfer musim ini menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat Spanyol. Ada yang pro, tak sedikit yang kontra. Seperti apa opini yang beredar di tengah masyarakat Negeri Matador itu?

Madrid di bawah kepemimpinan presiden Florentino Perez bertindak agresif di bursa transfer musim ini. Satu pemain bintang telah didapat, yakni Kaka. Gelandang asal Brasil itu diboyong dengan nilai lebih dari 930 miliar rupiah.

'Si Putih' belum mau berhenti beraksi. Kini Cristiano Ronaldo tengah didekati. Dana lebih dari satu triliun rupiah disiapkan untuk membujuk Manchester United agar melepas pemain bintangnya itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seperti dilansir dari Reuters, aksi Madrid mengundang pro-kontra di tengah masyarakat Spanyol. Opini masyarakat tersebut dituliskan di sejumlah media di Spanyol.

"Apa yang dilakukan Florentino (Perez) menurut saya positif. Apakah Anda semua telah melakukan sesuatu besar dalam hidup Anda, seperti yang sudah dilakukan Florentino? Tidakkah Anda berpikir bahwa Florentino tidak mengerti apa yang dilakukannya?" tulis pembaca yang mencantumkan nama Leonidas III yang dimuat di El Mundo.

"Florentino adalah pribadi yang unik. Kebijakannya akan membuat Madrid mendapat keuntungan lebih dari 600 juta euro," tulis seorang bernama EmiCR7.

Tak sedikit pula yang mengecam Madrid. "Ada empat juta pengangguran di Spanyol. Cara Madrid menghamburkan uang sungguh tidak bermoral. Saya sebagai fans Real Madrid sungguh malu," demikian pendapat dari pembaca bernama Juancarlosm.


"Kemanakah nilai-nilai sepak bola? Dia telah pergi jauh. Jauh sekali," timpal pembaca yang menuliskan nama Frankie dalam opininya.

Bahkan sikap Madrid ini membuat seorang pembaca bernama Pepe merasa malu sebagai warga negara Spanyol. "Masyarakat Spanyol hidup di 'Republik Pisang'. Ketika saya ke luar negeri, saya sering mengaku sebagai orang Italia. Itu karena saya malu dengan negara saya," tulisnya. 'Republik Pisang' adalah penghalusan untuk negara yang dikuasai sekelompok kecil orang kaya, sementara masyarakatnya hidup dalam kemiskinan.

Di tengah pro-kontra, ada sejumlah pendapat yang bersikap netral. "Terlalu mahal? Jelas. Namun harus diakui bahwa pemain terbaik memang berharga selangit. Yang jelas, Madrid telah terpenjara oleh sejarahnya sendiri. Bila tidak ada pemain terbaik di dalamnya, maka itu bukan Madrid," demikian pendapat dari Raphael pada El Pais.

(krs/key)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads