Bayangkan saja, kombinasi Real Madrid dan Barcelona sudah merebut 50 titel La Liga; dengan perincian Madrid merengkuh 31 titel dan Barca menyabet 19 gelar.
Selain mereka, ada tujuh klub lain yang pernah menjuarai La Liga. Tapi total gelar tujuh tim itu cuma 28 gelar; bahkan masih kalah banyak bila dibandingkan dengan koleksi gelar Madrid saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bersama Deportivo La Coruna dan Atletico Madrid, Valencia adalah tim yang bisa sedikit mengganggu dominasi Madrid dan Barca di era 1990-an. Valencia melakukannya dua kali di 2003-04 dan 2001-02.
Melihat peta persaingan terkini, agak sulit untuk mengharapkan terjadinya kejutan dari para outsiders. Tapi setidaknya, mereka masih bisa bertarung untuk memperebutkan posisi 3 dan 4 yang berarti satu tiket ke Liga Champions musim depan.
Ada beberapa tim yang menjadi kandidat kuat pengisi posisi 3 dan 4. Sekadar menyebut nama, mereka adalah Sevilla, Atletico Madrid, Villarreal dan Valencia.
Sevilla yang musim lalu menduduki peringakt tiga boleh dikedepankan di muka. Selain tak kehilangan para pemain pilarnya, Los Rojiblancos justru mendapatkan beberapa pemain yang bisa memperkuat tim seperti Didier Zokora dan Alvaro Negredo.
Manolo Jimenez sebagai arsitek Sevilla masih akan mengandalkan Luis Fabiano dan Fredrik Kanoute. Zokora akan menambah kekuatan di lini tengah yang sudah punya gelandang agresif Jesus Navas.
Sama dengan Sevilla, kekuatan Atletico juga tak berkurang. Tim sekota Real Madrid itu kehilangan dua kiper berpengalaman, Leo Franco dan Gregory Coupet, tetapi mendapatkan penjaga gawang muda berbakat Sergio Asenjo dari Real Valladolid.
Atletico akan menggantungkan asanya pada duet penyerang Amerika Selatan, Diego Forlan dan Sergio Aguero. Musim lalu, Forlan adalah el pichichi La Liga dengan 32 gol, sementara Aguero melesakkan 17 gol.
Hambatan terbesar Villarreal adalah pergantian pelatih. Manuel Pellegrini yang telah sukses membangkitkan klub dari kota kecil itu kini telah pergi ke Madrid. Patut ditunggu kiprah sang pengganti, Ernesto Valverde.
Unai Emery adalah faktor kejutan Valencia musim lalu. Dengan pengalaman yang minim, pelatih 37 tahun itu sukses menghela Valencia bertengger di posisi akhir keenam di La Liga. Tangan dingin Emery akan menjadi determinan langkah Valencia yang kehilangan beberapa pemain penting macam Edu, Emiliano Moretti dan penyerang gaek yang sangat berguna, Fernando Morientes.
Tentu saja, tim-tim di atas tidak akan puas hanya dengan berebut posisi 3-4. Mereka tentu ingin menciptakan kejutan dengan menggeser Madrid atau Barca. Namun secara realistis, mereka baru dalam taraf 'pengganggu', bukan kandidat juara.
(arp/roz)











































