Pertemuan Barcelona dengan Real Madrid di lapangan bukanlah sebuah pertandingan sepakbola semata. Ada gengsi, reputasi, bahkan simbol-simbol pergulatan di dalamnya.
Maka jangan heran jika muncul kibaran bendera Catalan, spanduk "Catalunya bukanlah Spanyol", dan siulan gangguan saat lagu kebangsaan Spanyol diperdengarkan ketika El Clasico digelar di Camp Nou, dan sebaliknya gegap gempita lagu 'Viva Espana' dari fans Madrid jika laga digelar di Santiago Bernabeu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persaingan Barca dan Madrid sendiri belakangan membuat mereka jadi sering berhadapan. Musim lalu saja, tercatat ada lima El Clasico yang muncul, dengan empat di antaranya dimainkan dalam kurun waktu 18 hari--dari 16 April sampai 3 Mei 2011. Atmosfer panas mengiringi partai-partai itu, tak lepas dari fakta bahwa Madrid sudah dipermalukan Barca 0-5 di El Clasico pertama musim tersebut.
Musim ini, El Clasico langsung tersaji saat Barca dan Madrid berebut Piala Super Spanyol di kancah pembuka musim. Tensi tinggi mewarnai dua leg laga itu karena kedua klub terlibat kericuhan di tepi lapangan, yang mana kemudian memunculkan istilah El dedo de 'Mou' alias insiden "jari-jari Mourinho"--mengacu kepada insiden yang melibatkan entrenador Madrid Jose Mourinho.
Setelah Barca memenangi Piala Super Spanyol, El Clasico ketiga hadir bulan Desember lalu di kancah La Liga. Di kandang Madrid, Barca berhasil memetik poin penuh berkat kemenangan 1-3.
Kini sampailah ke El Clasico keempat dan kelima, setelah kedua tim berhadapan di dua leg perempatfinal Copa del Rey yang dimainkan tengah pekan ini dan tengah pekan depan.
Dengan tujuh El Clasico sudah dimainkan dalam kurun waktu 12 bulan terakhir, bukan tak mungkin akan ada yang mulai "jenuh". Cukup wajar karena bahkan kapten Madrid, Iker Casillas, sempat menyuarakan hal serupa.
"Ketika ada sedikit (El Clasico) ini masih oke, (tapi) saat ada banyak, Anda jadi bosan. Menurut saya, saat kami memainkan sejumlah banyak pertandingan, terkadang Anda merasa sedikit jenuh," kata Casillas kepada Mundo Deportivo akhir pekan lalu.
Sudah begitu, El Clasico tengah pekan ini justru memunculkan nuansa adem-ayem, alih-alih sengit. Ini ditunjukkan Mourinho yang dengan langka memutuskan bicara kepada media--jelang El Clasico sebelumnya ia mengutus sang asisten Aitor Karanka--dan kemudian memuji-muji Barca.
"Barcelona adalah tim yang hebat dan lawan yang tangguh terlepas dari berapa pemain bertahan yang mereka pasang melawan kami. Hubungan saya dengan Barcelona seperti biasa. Saya tak punya dan tidak pernah punya masalah dengan mereka," kata Mourinho di situs Madrid.
Pernyataan Mourinho itu boleh jadi bakal dianggap sebagai indikasi bahwa El Clasico kali ini akan berjalan "damai" akibat akumulasi kebosanan.
Akan tetapi, secara garis besar El Clasico tetap layak dinanti. Fans Madrid sudah pasti tak mau timnya kalah lagi dan segera membalas si seteru berat, sementara fans Barca sebaliknya ingin timnya terus berjaya sehingga tak kehabisan bahan untuk mengolok-olok suporter rival. Pencinta sepakbola umumnya juga niscaya tak mau kehilangan peluang menyaksikan momen-momen, misalnya, gocekan maut Lionel Messi atau tendangan roket Cristiano Ronaldo.
Nah, sudah siapkah mendukung tim jagoan Anda di El Clasico kali ini?
(krs/a2s)











































