Sebelum diangkat jadi pelatih, rasanya tak banyak yang tahu siapa Vilanova. Satu-satunya momen di mana profilnya terdongkrak adalah saat dia jadi korban aksi colok mata Jose Mourinho, dalam sebuah El Clasico beberapa musim lalu.
Di luar itu namanya tidaklah tenar. Termasuk saat menjadi pemain di Celta Vigo dan Real Mallorca. Karier sepakbolnya yang habis di tahun 2002 langsung dilanjutkan dengan menjadi salah satu pelatih di La Masia, akademi sepakbola Barcelona yang kesohor itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kembali ke perjalanan Vilanova, tahun 2007 dia dipercaya menjadi pelatih Tim B Barca dan semusim berselang menjadi asisten Guardiola. Segala fakta itulah yang membuat dia dianggap paling layak menjadi pelatih baru Barca, ketika Guardiola menyatakan mundur, April 2012.
"Fans Barca merasa Tito adalah pilihan logis karena dia sudah meraih banyak bersama Guardiola dam dia tahu segalanya tentang bagaimana menjalankan tim ini juga saat berlatih. Itu kontinuitas yang baik," sahut reporter Radio Marca, Carles Escolan, dalam wawancara dengan BBC.
"Fans juga menyukainya karena dia adalah Katalan dan menghabiskan banyak waktu di akademi, bekerja keras untuk bisa berada di puncak. Mereka (fans) melihatnya sebagai salah satu bagian dari diri mereka sendiri," lanjut Escola.
Keputusan manajemen Barca terbukti tak salah. Meski dibayangi sukses luar biasa Guardiola selama empat musim sebelumnya, sejauh ini Vilanova berhasil menjawab tantangan yang datang ke hadapannya. Di La Liga, Barca selalu memetik kemenangan dan sementara ini duduk di puncak klasemen, pun begitu di Liga Champions.
Pelatih 43 tahun itu bahkan bisa mencatatkan rekor hebat yang tak pernah diraih pelatih-pelatih Barca sebelumnya. Jika bisa menjungkalkan Madrid, dia akan mengantar The Catalans meraih tujuh kemenangan beruntun di awal musim, hal mana belum pernah terjadi sebelumnya sepanjang sejarah klub tersebut.
Tito dianggap punya filosofi sepakbola yang sama dengan Guardiola, yang membuat Barca nyaris tak mengalami perubahan skema dan strategi permainan. Meski begitu, Vilanova dan Guardiola secara personal sejatinya adalah dua sosok yang bertolak belakang.
"Filosofi sepakbola mereka sama, tapi Guardiola dan Vilanova adalah pribadi yang sangat berbeda. Pep seorang yang kharismatik, bersemangat dan penuh hasrat, baik di depan publik maupun saat di balik layar."
"Tito benar-benar berkebalikan. Dia lebih serius, dia mengeluarkan pernyataan sedikit mungkin di konferensi pers dan selalu tenang juga terencana. Pep seorang motivator; Tito adalah pemikir," lanjut Escolan.
Vilanova hingga kini mampu menjaga performa bagus Carles Puyol dkk. Tapi apakan dia bisa mengikuti jejak Guardiola yang mampu mengantar Barca mendominasi Madrid?
(din/roz)











































