Sulitnya Mengubah Gaya Barca

Sulitnya Mengubah Gaya Barca

- Sepakbola
Kamis, 17 Apr 2014 10:54 WIB
Sulitnya Mengubah Gaya Barca
Reuters/Sergio Perez
Valencia - Tiki-taka ala Barcelona yang sudah sedemikian sukses dalam beberapa tahun terakhir mulai terbaca lawan. Gaya bermain tersebut bisa saja tak akan menghasilkan gelar pada akhir musim ini.

Dengan operan-operan pendek yang diperagakan oleh para pemainnya, Barca selalu sukses mendominasi setiap permainan. Blaugrana jarang gagal memaksa lawan bermain setengah lapangan. Untuk menuntaskan serangan, mereka biasanya memakai seorang false nine yang didukung oleh dua penyerang sayap.

Tapi, belakangan ini dominasi Barca di atas lapangan tak selalu berujung kemenangan. Lionel Messi dkk. bisa saja punya ball possession di atas 60 persen, tapi tak mampu melepaskan tembakan ke arah gawang dan bikin gol karena lawan mereka membangun pertahanan berlapis yang sangat rapat. Sebaliknya, lawan yang cuma mengandalkan serangan balik mungkin cuma membutuhkan sedikit peluang untuk menembus lini belakang Barca.

Tiga pertandingan terakhir yang dilakoni Barca bisa dijadikan contoh. Pada tiga pertandingan tersebut, Barca kalah meski selalu mendominasi permainan.

Yang pertama adalah ketika Barca dijamu Atletico Madrid di leg kedua perempatfinal Liga Champions. The Catalans unggul penguasaan bola sampai 64 persen, tapi kalah 0-1 gara-gara tak bisa membalas gol Koke. Mereka pun tersingkir dari kompetisi antarklub Eropa tersebut.

Barca lebih superior saat bertemu Granada dalam lanjutan La Liga. Mereka menguasai bola hingga 81 persen dan melepaskan 29 tembakan dengan sembilan tembakan di antaranya tepat sasaran. Berapa gol yang dicetak Barca? Tak ada. Mereka kalah 0-1 oleh gol Yacine Brahimi.

Laga final Copa del Rey melawan Real Madrid di Mestalla, Kamis (17/4/2014) dinihari WIB, menjadi pertunjukan terakhir dari dominasi Barca. Ball possession hingga 68 persen tak cukup untuk memberi kemenangan untuk Barca karena Madrid lebih efisien. Madrid mencetak dua gol lewat serangan balik, sementara Barca cuma mencetak satu gol. Satu gol Barca yang dibuat Marc Bartra pun berawal dari tendangan sudut. Madrid menang 2-1 dan berhak mengangkat trofi.

"Mereka memanfaatkan keuntungan dari senjata mereka. Mereka melukai kami dengan serangan balik mereka," ucap gelandang Barca, Xavi Hernandez, seusai pertandingan.

"Kalau ada yang salah, maka itu adalah tim. Dari manajer sampai para pemain. Ini adalah kesalahan-kesalahan kami, dan rival kami memanfaatkannya," katanya.

Seusai pertandingan melawan Madrid, pelatih Barca Gerardo Martino mendapatkan pertanyaan soal gaya main timnya yang makin terbaca lawan. Tapi, dia tak berencana menerapkan gaya permainan yang baru.

"Barca punya cara bermain yang sulit untuk dimodifikasi," ujar Martino.

"Tidak ada bola-bola panjang untuk penyerang murni nomor sembilan. Kami adalah tim yang mengoper bola, mengembangkan permainan, dan ketika kami tidak tepat dalam menemukan ruang, kami menjadi tak nyaman dalam pertandingan," bebernya.

"Ketika kami tidak mencetak gol lebih dulu, segalanya jadi rumit," kata Martino.

Setelah dipastikan gagal juara di Liga Champions dan Copa del Rey, Barca kini tinggal mengharapkan La Liga. Peluang mereka untuk menjadi juara di ajang tersebut pun tidak terlalu besar karena mereka sekarang menempati posisi ketiga dan tertinggal empat poin dari Atletico yang berada di puncak.

(mfi/raw)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads