Barcelona melakukan perubahan besar sepeninggal beberapa sosok senior nan penting. Bisakah perubahan besar ini membuahkan hasil setelah musim kemarin mereka gagal di mana-mana.
Di bawah arahan Gerardo Martino, Barca berharap bisa melanjutkan kejayaan yang pernah ditorehkan bersama Pep Guardiola. Andai Tito Vilanova tidak terganggu kesehatannya, tugas melanjutkan legacy Pep ada di tangannya. Namun, Martino --yang dinilai punya filosofi yang sama dengan gaya main Barca-- diberikan tangggung jawab tersebut.
Tapi, setelah mempersembahkan trofi Piala Super Spanyol, Martino gagal membawa Barca berbicara banyak, entah itu di La Liga, Copa del Rey ataupun Liga Champions. Martino pergi, Luis Enrique pun datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Enrique pun diserahi tugas yang tidak bisa dibilang mudah. Sementara wajib mempertahankan filosofi Barca, dia juga harus menambal beberapa lubang yang selama ini disinyalir jadi masalah.
Salah satunya adalah problem di lini belakang. Tanpa Puyol, lini pertahanan Barca kerap gamang dan kini kapten berambut keriting itu sudah pensiun. Jadilah, Enrique mendatangkan Thomas Vermaelen dan Jeremy Mathieu.
Kendati usia keduanya sudah tidak muda lagi --Vermaelen 28 tahun, sementara Mathieu 30 tahun--, namun keduanya adalah sosok yang dibutuhkan oleh barisan belakang Barca. Keduanya sama-sama bisa dimainkan sebagai bek tengah ataupun bek kiri.
Ada alasan khusus mengapa Louis van Gaal sempat mengincar Vermaelen untuk Manchester United. Sebagai bek berkaki kidal, dia bisa dimainkan sebagai bek paling kiri pada formasi tiga bek sejajar United. Namun, Arsenal enggan melepasnya kepada sesama tim Inggris.
Kendati sulit untuk menemukan tempat di tim utama Arsenal pada beberapa musim belakangan, Vermaelen disinyalir bisa menambah kedalaman lini belakang Barca.
Yang menarik adalah Mathieu. Musim lalu, dia tampil 32 kali untuk Valencia dan menyumbang tiga gol. Sebagai bek, Mathieu dikenal punya kemampuan dribble mumpuni dan passing akurat. WhoScored mencatat, akurasi passing-nya pada musim kemarin mencapai 83%. Tidak jarang pula Mathieu melakukan tekel --catatannya adalah melakukan 1,9 tekel per laga.
Di lini tengah, batal hengkangnya Xavi Hernandez boleh jadi patut disyukuri. Tapi, Xavi sudah berusia 34 tahun, mengharapkannya tampil luar biasa sepanjang musim bukan hal yang bisa dilakukan lagi. Untuk itulah Ivan Rakitic dibeli.
Sempat digadang-gadang jadi pemain masa depan ketika memperkuat Schalke, Rakitic justru meredup. Di Sevilla-lah dia kemudian menemukan sentuhannya kembali.
Rakitic membuat 12 gol dan 10 assist di Liga Spanyol musim kemarin. Catatan lainnya adalah gelandang Kroasia tersebut rata-rata membuat 2,3 umpan kunci tiap pertandingan.
Di depan, Enrique kini punya Lionel Messi, Neymar, dan Luis Suarez. Enrique amat menyukai formasi 4-3-3, namun ada kabar bahwa dia berniat untuk memasang 4-3-1-2 dengan menduetkan Neymar dan Suarez di lini belakang, sementara Messi ditempatkan sebagai penyerang lubang di belakang keduanya.
Satu-satunya yang belum diketahui adalah siapa yang akan jadi kiper utama Barca musim ini. Enrique mengaku belum memutuskan, apakah Marc-Andre Ter Stegen atau Claudio Bravo yang dipasangnya sebagai penjaga gawang utama. Namun, dia mengaku sudah memiliki preferensi tersendiri.
(roz/krs)











































