Kalau Anda menonton langsung di Santiago Bernabeu saat Real Madrid bermain, Anda pasti akan tahu kalau yang disoraki suporter El Real bukan cuma Rafael Benitez. Florentino Perez juga sudah diminta mundur.
Chant yang diteriakan suporter Madrid agar Perez mundur dari jabatannya terdengar sama keras dengan desakan supaya Rafael Benitez diberhentikan sebagai pelatih. Di sepanjang musim ini hal itu sudah jadi hal yang umum terdengar saat El Real bertanding, entah mereka menang atau (terlebih lagi) kalah.
'Florentino dimision!' (Florentino mundur) ramai terdengar di stadion sampai di jejaring sosial. Sekitar dua bulan lalu malah muncul spanduk besar di Santiago Bernabeu yang meminta Perez mundur, yang cepat-cepat diamankan petugas di stadion. "Not ultra, not violent, just tired of your dictatorship, Florentino," begitu spanduk itu berbunyi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan pelatih Madrid, John Toshack, menyebut pemecatan Benitez dan penunjukan Zizou adalah sebuah upaya Perez untuk melindungi dirinya sendiri. Zidane disebutnya kini menjadi perisai hidup sang presiden.
[Baca juga: 'Zidane Masih Minim Pengalaman Melatih, Kini Jadi Perisai Hidup Perez']
Madrid sebenarnya belum bisa dibilang gagal musim ini. Kecuali tersingkir di Copa del Rey karena kecerobohan administratif, mereka masih punya kans di Liga Champions dan untuk sementara cuma tertinggal empat poin dari Atletico Madrid di puncak klasemen.
Tapi Madrid tak bisa dipungkiri tampil mengecewakan. Mereka tak pernah menang atas sesama tim papan atas La Liga, dan yang paling menyakitkan adalah tunduk 0-4 saat menjamu Barcelona. Itu adalah dua dosa terbesar Benitez selama tujuh bulan jadi manajer Los Merengues.
Perez jelas ikut bertanggung jawab atas hal tersebut. Dialah yang menunjuk Benitez sebagai pelatih di musim panas lalu, menggantikan Carlo Ancelotti yang sangat dicintai Cristiano Ronaldo dkk. Penunjukan Benitez sudah salah sejak awal karena pria asal Spanyol itu dikenal dengan gaya main yang defensif, bertolak belakang dengan komposisi pemain El Real.
Benitez bukan cuma gagal di atas lapangan. Di ruang ganti dia tak cukup cakap untuk menjalin hubungan yang baik dengan pemain-pemain utama Madrid. Cristiano Ronaldo sudah mengritiknya hanya beberapa hari setelah dia resmi dikontrak, James Rodriguez kecewa berat karena jatah bermainnya banyak dipangkas, pun begitu dengan Isco.
Ada dua hal lain yang menjadi tanggung jawab Perez atas kondisi Madrid saat ini.
Yang pertama, dia membangun skuat yang tidak seimbang dengan sangat banyak menumpuk pemain dengan karakter menyerang tinggi (Ronaldo, Bale, James, Isco) dan relatif punya posisi yang sama. Perez dinilai menggulang kesalahan yang sama saat membangun Los Galactico sekitar satu dekade lalu.
Ingat bagaimana Perez mendepak Claude Makelele karena menganggapnya kurang punya peran di lapangan tengah El Real? Makelele adalah pilar utama di lapangan tengah, pemain yang melakukan pekerjaan kotor untuk melindungi barisan belakang Madrid sementara Zidane, Raul Gonzalez, atau pemain bintang lainnya mencetak gol-gol indah di lini depan.
"Dia jarang sekali mengoper bola lebih dari tiga meter. Pemain muda yang datang akan memastikan Makelele dilupakan," cetus Perez saat itu.
Keputusan itu kemudian jadi blunder besar karena Makelele adalah sosok yang sangat penting buat Madrid. Pindah ke Chelsea, Makelele mengantar The Blues menguasai Premier League.
"Kenapa harus menambahkan lapisan emas pada Bentley sementara Anda kehilangan mesinnya?" sahut Zidane mengomentari kebijakan transfer Madrid ketika itu saat Makelele dilepas dan David Beckham datang.
Dua tahun lalu Perez melakukan hal yang sama saat membiarkan Xabi Alonso pergi. Madrid kemudian memang memboyong Toni Kroos, Luka Modric, juga Asier Illarramendi. Tapi itu tak cukup.
Kegagalan kedua Perez adalah terkait persoalan-persoalan administratif. Di awal musim ini Madrid dapat malu setelah transfer David De Gea 'dibatalkan' mesin fax.
Lalu di Desember, Madrid melakukan 'kecerobohan' besar ketika menurunkan pemain yang sebenarnya tidak boleh dimainkan. Bukan semata kesalahan Benitez kalau dia menunrunkan Denis Cheryshev dalam laga dengan Cadiz. Ada yang salah dengan manajemen Madrid hingga mereka sampai tidak tahu sang pemain ternyata tengah dalam periode hukuman akibat akumulasi kartu di musim sebelumnya.
Kesalahan tersebut harus dibayar mahal. Madrid kehilangan begitu saja peluang jadi juara Copa del Rey karena mereka didiskualifikasi.
Sebagai pebisnis yang juga mantan politisi, penunjukkan Zidane adalah langkah strategis terbaik yang bisa diambil Perez. Zidane - pelatih ke-11 yang dipekerjakan Perez - adalah sosok kesayangan suporter Madrid yang memberi banyak trofi untuk Los Merengues saat masih aktif bermain.
Penunjukan Zidane diharapkan Perez bisa mengembalikan lagi dukungan suporter padanya dan menyelamatkan dirinya dari upaya penggulingan dari kursi presiden. Sebagaimana dikatakan Toshack, Perez kini berlindung di balik nama besar Zizou.
(din/mrp)











































