sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Jumat, 17 Mei 2019 11:53 WIB

Luka Jovic: Antara Tarkam, Donat, dan Real Madrid

Yanu Arifin - detikSport
Luka Jovic. (Foto: Emilio Andreoli/Getty Images) Luka Jovic. (Foto: Emilio Andreoli/Getty Images)
Jakarta -

Luka Jovic selangkah lagi menuju Real Madrid. Pemain jebolan tarkam dan penggila donat itu sebentar lagi akan berlaga di Santiago Bernabeu.

Jovic kabarnya bakal dilepas ke Madrid. Eintracht Frankfurt, klub pemiliknya, bersedia melepas penyerang 21 tahun itu ke Los Blancos.

Sebelum Madrid, Jovic lebih dulu dikaitkan dengan Barcelona. Blaugrana sempat dirumorkan mengincarnya, sebelum kini isunya penyerang asal Serbia itu lebih merapat ke Madrid.

Jovic kabarnya ditebus 60 juta euro atau sekitar Rp 970 miliar. Siapa Jovic? dan kenapa mahal harganya?




Jebolan Tarkam


Pemandu bakat terbaik Red Star Belgrade, Tomislav Milicevic tertegun melihat aksi Jovic dalam sebuah turnamen anak-anak antar kampung di Bijeljina, Bosnia.

"Setelah 10 menit melihatnya bermain, saya mendapat sesuatu yang luar biasa," kata Milincevic, kepada Bleacher Report.

Milicevic lantas mengajaknya ke akademi Red Star. Jovic, yang kondisi keluarganya masih sulit saat itu, tak pakai lama menerima tawaran Milicevic.

"Itu tak mudah baginya. Awalnya, dia berkelana setiap hari dengan bus dari Bijeljina ke Belgrade dan kembali. Dia berkorban dan keluarganya mendukungnya. Dia tumbuh di lingkungan yang sangat buruk, saat saya melihatnya, saya makin yakin dia akan berhasil," kenangnya.


Penggila Donat, Coklat, dan Makanan Ringan


Di masa-masa bermain di akademi Red Star, ada cerita menarik soal Jovic. Ia ternyata kedapatan hobi makan makanan ringan, coklat, dan donat. Hal yang membuat pelatihnya kesal.

Slavisa Stojanovic, pelatih Red Star kala itu, sampai meminta bantuan senior-senior untuk mengambil makanan Jovic. Hal itu dilakukan demi perkembangan Jovic sendiri.

"Dia benar-benar menyukai hal-hal semacam itu pada waktu itu. Para pemain akan mengeluarkannya (makanan ringan) dari kamarnya dan dia tidak akan senang," ungkapnya.

Tapi Stojanovic sadar, Jovic memang pemain yang istimewa. "Dia pemain yang bertelanta. Dia punya insting gol, bakat alami," pujinya.

Sejak 2005 hingga 2014, Jovic menjadi pemain binaan Red Star. Ia kemudian naik ke tim utama, dengan debutnya terjadi di usia 16 tahun 5 bulan 5 hari, saat melawan Vojvodina.

Saat itu, Jovic dimainkan saat laga tersisa 17 menit. Tapi baru beberapa menit berada di lapangan, ia langsung bikin gol dan mengubah skor menjadi 3-3. Hasil itu membuat Red Star menjuarai Superliga Serbia. Jovic pun menorehkan rekor lewat golnya, dengan menjadi pencetak gol termuda Red Star sepanjang sejarah melewati Dejan Stankovic.

Seperti dlansir The Sun, Jovic menjadi pahlawan baru di Serbia. Situasi itu sempat membuat keluarganya diperas seseorang, namun penjahat itu kemudian ditangkap pihak berwenang.

Pada 2016, Jovic memutuskan pindah ke Portugal. Ia bergabung dengan Benfica, dan menemui tantangan sesungguhnya. Ia tak mendapat banyak kesempatan dan hanya menjadi penghuni tim reserve.



Semusim berselang, Frankfurt datang dan memboyongnya ke Jerman. Ia dipinjam selama dua tahun dengan opsi dipermanenkan. Beberapa waktu lalu, Jovic pun menjadi pemain tetap Frankfurt setelah ditebus 7 juta euro.

Di Jerman, Jovic bersinar dan menjadi salah satu striker yang disegani. Pada Oktober lalu, ia memborong lima gol sekaligus saat Frankfurt menggasak Fortuna Dusseldorf 7-1. Gol demi gol lahir dari pemain yang mengidolakan Radamel Falcao dan Zlatan Ibrahimovic ini.

Musim ini, Jovic makin menggila dengan torehan 27 gol dari 47 laga. Performa itu yang membuat si jebolan tarkam dan penggila donat itu menjadi bidikan para raksasa, yang akhirnya dimenangkan Madrid.

(yna/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed