Lux Bukan The Flash

Lux Bukan The Flash

- Sepakbola
Senin, 05 Des 2005 10:39 WIB
Lux Bukan The Flash
Jakarta - Barangkali Florentino Perez tidak kenal istilah "yang terpenting adalah proses". Dan Vanderlei Luxemburgo juga bukanlah seorang The Flash. Buat dia cukup satu tahun saja.Itulah benang merah dari cerita yang dirajut seseorang pria Brasil kelahiran 10 Mei 1952, yang datang pertama kali ke Santiago Bernabeu pada Desember 2004, dan harus meninggalkannya pada Desember 2005.Lux -- sapaan pendeknya -- harus menerima nasib tak mengenakkan pada pengalaman pertamanya melatih di Eropa -- di klub raksasa pula. Ia dinilai telah menghambat pertumbuhan raksasa ini dan nota pemecatan harus ia terima dengan tanpa syarat.Laki-laki yang pernah jadi bek sewaktu jadi pemain ini menjadi pelatih kelima yang dijatuhkan dari kursi kepelatihan Real Madrid dalam kurun waktu dua setengah tahun terakhir -- sebuah periode berat buat klub sebesar El Merengues karena lemari tropinya tidak bertambah barang satu pun.Tapi Lux pasti sadar untuk siapa dia bekerja. The Big Boss, Perez, adalah seorang ambisius yang ingin memindahkan sebuah tim sisa dunia ke Bernabeu. Ujung-ujungnya, yang ia butuhkan adalah hasil. Investasi besar harus dibayar dengan kesuksesan, dan buat sebuah tim sepakbola ukuran kesuksesan adalah kemenangan, titel juara, gelar kampiun -- sesuatu yang tidak bisa dipersembahkan oleh Lux.Menggantikan Mariano Garcia Remon, Lux sempat merasakan nikmatnya berbulan madu di kota Madrid yang hangat. Ia memunculkan ekspektasi positif buat fans dengan meraih kemenangan berturut-turut di tujuh pertandingan awalnya.Masa bulan madu berakhir setelah Raul cs tersingkir lebih cepat di Copa del Rey dari klub divisi dua Valladolid pada pertengahan Januari. Dua bulan kemudian kandas pula perjalanan Real di babak 16 besar Liga Champions, usai ditekuk Juventus dengan agregat 2-1.Di akhir musim Real finis di tempat kedua La Liga, kalah empat poin dari musuh besarnya, Barcelona. Tapi capaian Lux masih diterima karena ia dinilai datang kurang cepat, setelah fondasi yang dibuat Remon di awal musim tidaklah kuat. Remon sendiri "ketiban pulung" setelah kursi itu ditinggalkan Jose Antonio Camacho sebelum kompetisi dimulai. Statistik hasil Lux juga tidak jelek: hanya kalah tiga kali dari 21 pertandingan liga.So, beban utama Lux ada di musim baru. Ia mengakhiri konfliknya dengan Luis Figo dengan melepas bintang veteran Portugal ke Inter Milan. Ia juga meminta Perez merogoh kas klub sebesar 90 juta euro untuk membeli Julio Baptista, Sergio Ramos, Pablo Garcia, Carlos Digo, dan bintang muda Brasil Robinho.Hasilnya? Tiga kekalahan beruntun dialami Real dari Olympique Lyon, Celta Vigo, dan Espanyol. Di bulan Oktober lagi-lagi anak-anak Madrid dipecundangi Valencia dan Deportivo La Coruna. Real tiba-tiba menjadi tim yang tidak sulit untuk ditundukkan, termasuk di markas kebesarannya.Di Bernabeu pula Lux menelan pil paling pahit ketika skuadnya dipermalukan El Barca 3-0. Penonton tuan rumah bertepuk tangan buat bintang lawan, Ronaldinho, dan memberi isyarat jempol ke bawah buat Lux dan timnya.Madridista makin berani menyerang Lux di pertandingan berikutnya. Menjamu Lyon di Liga Champions, ia menarik keluar David Beckham dengan Michel Salgado di menit-menit akhir, sementara kapten Inggris itu dinilai yang main paling bagus malam itu. Apa yang diteriakkan fansnya? "Out! Out! Out!" Pada 21 November wakil presiden Emilio Butragueno mengeluarkan pernyataan bahwa klub tetap berdiri di belakang Lux -- sebuah deklarasi yang seringkali bisa bermakna sebaliknya karena menunjukkan betapa pentingnya perhatian itu diberikan buat sang pelatih.Akhir pekan lalu momen untuk menyudahi kepercayaan klub pada Lux ditemukan. Meski unggul 1-0, tapi kemenangan atas Getafe diraih lewat proses permainan yang buruk. Tim lawan bahkan tampil lebih dominan. Saking buruknya, mental pemain jatuh sampai-sampai Beckham diusir dari lapangan. Dan benar saja, deklarasi Butragueno diganti tadi malam. Ia menyatakan Lux dipecat. Juan Ramon Lopez Caro untuk sementara diserahi tugas meneruskan pekerjaan yang sangat rawan ini.Real memang butuh achievement dengan cepat. Dua musim berturut-turut tanpa gelar juara membuat mereka jadi tidak sabaran. Lux pun bukan super hero macam The Flash yang bisa berlari secepat kilat. Dan Perez tak mau tahu bahwa kesempatan itu sebenarnya belum habis, bahwa Real baru tertinggal enam poin dari Barca di Liga Spanyol serta masih bertahan di Copa del Rey dan Liga Champions, sementara kompetisi masih tersisa enam bulan lagi.Cuma itu tadi, sekadar gejala pun bisa dengan cepat dijadikan konklusi oleh petinggi Real -- hal yang barangkali tidak bisa juga dibilang tergesa-gesa. Real Madrid adalah sebuah gengsi, dan gengsi tidak mengenal posisi bawah. (a2s/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads