Clement Lenglet Dikritik, Barcelona Harusnya Membela

Adhi Prasetya - Sepakbola
Selasa, 23 Feb 2021 14:00 WIB
BARCELONA, SPAIN - OCTOBER 20: Clement Lenglet of FC Barcelona conducts the ball during the UEFA Champions League Group G stage match between FC Barcelona and Ferencvaros Budapest at Camp Nou on October 20, 2020 in Barcelona, Spain. (Photo by Alex Caparros/Getty Images)
Lenglet bermain di Barcelona sejak 2018. Foto: Getty Images/Alex Caparros
Jakarta -

Clement Lenglet dijadikan kambing hitam atas buruknya lini belakang Barcelona musim ini. Mantan bek El Barca, Jeremy Mathieu, angkat bicara soal ini.

Musim ini, sudah tiga kali Lenglet melakukan kesalahan sendiri, semuanya berakibat penalti untuk tim lawan dan gagalnya Barcelona mendulang poin penuh.

Pertama, Lenglet membuat Real Madrid dihadiahi penalti karena menarik kaus Sergio Ramos dalam kekalahan Barcelona 1-3 di El Clascio, 24 Oktober lalu.

Lanjut ke 9 Desember 2020, duel matchday keenam Liga Champions antara Barcelona vs Juventus. Lenglet melakukan handball di kotak penalti, dan Cristiano Ronaldo mengeksekusinya menjadi gol, membawa Bianconeri menang 3-0 dan mengunci posisi juara grup G.

Ketiga, yang terbaru, Lenglet melanggar Ruben Sobrino di kotak terlarang dalam laga Barcelona vs Cadiz di Liga Spanyol akhir pekan lalu. Sudah unggul 1-0, Lionel Messi dkk akhirnya hanya bermain imbang 1-1 usai Alex Fernandez mencetak gol dari titik putih.

Tiga error tersebut membuat Lenglet menjadi sasaran kritik. Apalagi pelatih Barcelona Ronald Koeman juga mempertanyakan pengambilan keputusan pemain asal Prancis itu dalam menghalau lawan.

Namun Mathieu pasang badan atas kritik yang diterima rekan senegaranya itu. Menurutnya, kultur ruang ganti di Barcelona memang buruk sejak dulu, karena hanya menyalahkan individu.

"Semua orang sekarang menyalahkan Lenglet. Saya tahu seperti apa rasanya. Dia sekarang perlu berpikir positif, lalu berusaha sebaik mungkin untuk membalikkan situasinya," kata Mathieu kepada RAC1, dikutip Marca.

BARCELONA, SPAIN - MARCH 22:  Jeremy Mathieu of Barcelona reacts during the La Liga match between FC Barcelona and Real Madrid CF at Camp Nou on March 22, 2015 in Barcelona, Spain.  (Photo by Alex Caparros/Getty Images)Mathieu sewaktu berseragam Barcelona. Foto: Alex Caparros/Getty Images

Mathieu berbicara soal ini dari pengalamannya sendiri. Di musim terakhirnya di Barcelona, yakni pada 2016/17, ia dituding sebagai biang kerok kekalahan 0-3 dari Juventus di leg pertama perempatfinal Liga Champions di Turin.

Barcelona akhirnya tersingkir karena hanya bermain imbang 0-0 di leg kedua di Camp Nou. Laga di Turin menjadi penampilan terakhir Mathieu berseragam Barcelona, karena tak lama setelahnya ia cedera hingga akhir musim.

"Saya punya momen buruk di musim terakhir bersama Barcelona. Saya merasa kekalahan di Turin disebabkan oleh saya," kata Mathieu lagi.

"Yang tak saya pahami, mereka menyerang saya, padahal ada 11 orang di lapangan. Saya merasa terasing di ruang ganti. Tak ada yang memberikan dukungan. Buat saya, itu bukan sepakbola," jelas pemain Barcelona pada 2014-2017 itu.

(adp/aff)