Perez Mundur
Berakhirnya Sebuah Era?
Selasa, 28 Feb 2006 11:15 WIB
Jakarta - Enam tahun menjadi pemimpin Real Madrid tampaknya sudah cukup buat Florentino Perez. Akankah mundurnya Perez mengakhiri era Galacticos? Tampilnya Perez sebagai Presiden Real sejak 2000 adalah salah satu fenomena di sepakbola moderen. Pria kelahiran 8 Maret 1947 ini tampil beda dengan kebijakan zidane y pavon yang fenomenal, serta hobinya mengganti-ganti pelatih. Sejak melamar sebagai kandidat presiden pun sebetulnya Perez sudah menunjukkan tanda yang tak biasa. Tidak seperti calon presiden sebelumnya, untuk menarik simpati pemilih dia mencetuskan ide mendatangkan ikon klub rival Barcelona, Luis Figo, ke Santiago Bernabeu. Sebagai bukti keseriusan, Perez berjanji memborong ribuan season ticket Real senilai US$ 8,5 juta, jika ambisinya tidak kesampaian. Gebrakan Perez berhasil mendapatkan simpati. Figo menandatangani kontrak enam tahun dengan Los Blancos dengan transfer yang kala itu menjadi termahal sejagad: US$ 56 juta. Semenjak mendatangkan Figo, Perez makin ambisius. Sejak itu dicanangkan kebijakan mendatangkan pemain bintang yang dikenal sebagai zidane y pavon (zidane dan pavon), yang idealnya adalah memadukan bintang-bintang dunia dengan talenta-talenta lokal. Meskipun Real terpaksa menjual lapangan latihannya demi membayar utang klub di tahun 2001, Perez berhasil mendatangkan superstar lainnya, Zinedine Zidane, dengan rekor transfer yang belum terpecahkan sampai sekarang (US$ 66 juta). Kenekatan Perez terus berlanjut sampai tahun berikutnya. Sebabnya sudah jelas. Para pemain bintangnya membuat Real tidak kering prestasi. Juara Liga Spanyol (2001) dan Liga Champions (2002) adalah buktinya. Kedatangan Ronaldo (2003) dengan transfer US$ 44 juta makin membuat Real perkasa. Lagi-lagi gelar juara liga mereka rebut. Itu masih ditambah dengan raihan gelar juara dunia. Tiga tahun bergelimpang prestasi, Real menuai hasil lain dari investasi Perez, yakni citra. Kedatangan David Beckham tahun 2004 membuat Real menjadi klub yang mengglobal. Penjualan jersey klub meningkat pesar. Televisi pun tertarik untuk membeli hak siar klub ini dengan harga tinggi. Dari klub yang berutang 270 juta euro, El Real merangkak ke posisi dua klub terkaya dunia pada akhir tahun 2004. Akhir tahun 2005 Real bahkan merebut posisi Manchester United sebagai klub terkaya dengan kekayaan sebesar 186,2 juta pounds. Karena banyaknya bintang yang bertaburan di sana, media pun sepakat menamai Real sebagai Los Galacticos alias skuad dari galaksi lain. Sayang gelimpang kekayaan dan citra tak dibarengi dengan gelimpang prestasi. Kekalahan demi kekalahan diderita klub. Sampai kini Real pun belum sepenuhnya terbangun dari tidur panjangnya. Meski Perez terus mendatangkan pemain bintang seperti Michael Owen (2005) dan Robinho (2006) tetapi prestasi tak kunjung datang. Sudah dua tahun lemari piala Real tidak bertambah. Tahun ini pun Real terancam puasa gelar. Usai terdepak dari Copa Del Rey, peluang Real di Liga Champions pun terancam setelah menelan kekalahan atas Arsenal di Bernabeu. Di Liga Spanyol, Real ketinggalan 10 poin dari Barca setelah dihajar Real Mallorca 1-2. Yang terakhir ini akhirnya memicu Perez membuat keputusan yang mengejutkan: mundur. Sekarang estafet kepemimpinan Real beralih ke Fernando Martin. Pengusaha kelahiran 1947 itu merupakan orang kepercayaan Perez sejak lama. Dia akan menangani klub sampai tahun 2008, tahun di mana Perez semestinya mengakhiri jabatannya. Akankah kehadiran Martin mengakhiri era Galacticos? (mel/)











































