Capello Tetaplah Don yang Hebat
Jumat, 29 Jun 2007 06:51 WIB
Jakarta - Dipecat adalah diberhentikan secara satu pihak. Dipecat merupakan sinonim dari didepak. Yang lebih dramatis lagi, dipecat sama seperti ditendang, didepak, dicampakkan.Don Fabio Capello dicampakkan. Itulah yang terjadi dan salah satu pelatih paling efektif di dunia itu harus merasakan hal memalukan itu, yang sebelumnya hanya satu kali ia alami sejak menjadi pelatih/manajer.Capello adalah sosok penuh gengsi. Sepanjang karirnya di lapangan hijau, baik sebagai pemain maupun pelatih, ia tak pernah bermain di tim medioker apalagi kecil, kecuali SPAL tempat ia memulai debutnya sebagai pemain profesional.Setelah memperkenalkan dirinya di klub kota Ferrara itu, Capello langsung naik kasta. Berposisi gelandang, pria kelahiran San Canzian d'Isonzo di provinsi Gorizia itu kemudian malang melintang bersama AS Roma, Juventus, dan AC Milan.Kostum Azzurri juga pernah ia kenakan sebanyak 32 kali dalam periode 1972-1976. Dari jumlah caps itu ia mencetak delapan gol, termasuk gol bersejarah di Stadion Wembley, ketika Italia untuk pertama kalinya mengalahkan Inggris di markas kebesarannya itu.Gantung sepatu di tahun 1980, Capello muncul lagi sebagai figur sepakbola di awal 90-an. Tidak tanggung-tanggung, ia langsung ditunjuk sebagai arsitek Milan, menggantikan pelatih sukses Arrigo Sacchi di tahun 1991.Hasilnya? Selama lima musim Capello memberi Rossoneri empat titel Seri A, tiga gelar Copa Italia, dan satu tropi Liga Champions. Milan yang telah bergengsi tentu bertambah bergengsi di tangan pelatih bergengsi ini.Gengs itu pula yang membuat Real Madrid merekrut Capello untuk musim 1996/1997. Berbekal skuad yang mumpuni, di antaranya Davor Suker, Predrag Mijatovic, Roberto Carlos, Clarence Seedorf, Bodo Illgner, dan Christian Panucci, Les Merengues langsung dibawanya menjuarai La Liga.Namun Capello memutuskan kembali ke Italia dan memenuhi panggilan Milan untuk kali kedua. Sayang, sentuhan emasnya kali itu tidak berhasil. Paolo Maldini kehilangan gengsinya karena harus finis di urutan ke-10 kompetisi domestik dan hanya jadi runner up Copa Italia.Itulah untuk kali pertama Capello merasakan pemecatan. Ia ditendang. Namun Capello tidak kehilangan peminat dan langsung digaet Roma. Masuk di tahun 1999, klub ibukota itu diantarkannya ke gerbang Scudetto 2001 -- untuk pertama kalinya dalam satu dekade.Di tahun 2004 giliran Juventus merasakan polesan ajaibnya. Dua tahun berturut-turut Capello menjadikan Bianconeri klub terbaik di Italia. Sayang, gelar terakhirnya dicabut karena "Si Nyonya Tua" terlibat skandal Calciopoli.Capello pun meninggalkan Turin sebagai pelatih pertama yang memenangi gelar scudetto bersama tiga klub berbeda. Di awal musim ini ia memenuhi teriakan S.O.S dari Real Madrid, yang saat itu baru memiliki presiden baru bernama Ramon Calderon.Meskipun jalan yang ditempuh terjal dan berliku-liku -- Capello dikritik karena memakai taktik konservatif, strategi bertahan, dan sempat menyia-nyiakan David Beckham -- namun di ujung kompetisi Real Madrid tampil sebagai juara, menyudahi mimpi terburuk raksasa Spanyol itu karena bertangan hampa dalam tiga musim berturut-turut.Biarpun gagal di Liga Champions dan Copa del Rey, tapi kemenangan di level liga itu seharusnya membuat Capello bertahan di posisinya. Namun Calderon adalah bos terbesar di Santiago Bernabeu, yang lebih suka membuang duit 9 juta euro sebagai kompensasi memecat Capello, ketimbang merajut misi berikutnya bersama "Si Raja Midas" di musim-musim selanjutnya.Capello pun untuk kali kedua dalam karirnya ditendang, didepak, dicampakkan, atau apapun namanya. Satu hal yang pasti adalah, dengan reputasi, prestasi dan gengsi yang dimiliki, Italiano berusia 61 tahun ini akan selalu dicatat sebagai pelatih luar biasa dan sederet sinonim lain dari setiap kata bermakna "hebat". (a2s/a2s)











































