Arsenal Menang karena Kuasai Lini Tengah dan Faktor Arteta

Liga Inggris: Arsenal 2-0 Liverpool

Arsenal Menang karena Kuasai Lini Tengah dan Faktor Arteta

Pandit Football Indonesia - Sepakbola
Minggu, 03 Nov 2013 14:55 WIB
Arsenal Menang karena Kuasai Lini Tengah dan Faktor Arteta
Arsenal FC via Getty Images/David Price
London - Arsenal berhasil melanjutkan dominasinya di Liga Inggris, dengan mengalahkan Liverpool dua gol tanpa balas. Kemenangan ini membuat anak asuh Arsene Wenger semakin kokoh di puncak klasemen.

Gol pembuka diciptakan oleh Santi Cazorla di menit ke-18. Sementara itu, gol tambahan tercipta melalui kaki Aaron Ramsey pada menit ke-58, menyempurnakan penampilan apik gelandang ini.

Arsenal memang bermain dominan sejak awal pertandingan, lini tengah benar - benar dikuasai oleh tuan rumah. Khususnya di babak pertama. Meski manajer Liverpool, Brendan Rodgers, mencoba mengejar ketertinggalan dengan merombak taktik di babak kedua, namun tetap saja belum membuahkan hasil.

Formasi Dasar Kedua Tim (credit: whoscored.com)

Kelemahan Sistem Pertahanan Liverpool

Formasi 3 bek (3-5-2/3-4-1-2) sebagai formasi dasar yang dipakai Rodgers tidak berjalan sempurna. Lazimnya formasi ini menempatkan 3 bek yang kuat dalam duel udara dan tangguh menghadapi situasi 1 vs 1. Ketiga bek ini bekerja dalam satu sistem pertahanan, dan harus dilindungi para gelandang ketika bertahan.

Masalah yang terjadi adalah ketidakmampuan gelandang Liverpool untuk melindungi tiga bek yang ada. Seperti yang terjadi pada gol Cazorla, saat Mamadou Sakho yang menjadi center back harus menutup gerakan Bacary Sagna di sayap. Hal ini terjadi karena Aly Cissokho gagal menutup pergerakan Sagna, yang kemudian memberikan crossing kepada Cazorla. Kondisi ini diperparah dengan gelandang bertahan Liverpool yang terlambat mengisi kekosongan yang ditinggalkan Sakho.

Cissokho memang seharusnya menjadi palang pertahanan utama, sekaligus tumpuan utama penyerangan dari sayap. Ini jika melihat pakem formasi 3-5-2 yang digunakan Liverpool. Di babak pertama, Cissokho sendiri memang banyak dihajar oleh pemain Arsenal. Sisi ini kerap dieksploitasi The Gunners melalui Ramsey, Tomas Rosicky, dan Sagna.

Proses Gol Cazorla

Sakho yang tertarik keluar untuk menutup Sagna, menciptakan situasi 2 vs 2 didalam kotak penalti. Maka, tidak heran ketika Cazorla dapat dengan leluasa menyambar kembali bola hasil sundulannya.

Gol pertama ini membuktikan bahwa pertahanan Liverpool masih menyisakan PR besar bagi Rodgers. Bahkan, dari 3 tim teratas klasemen sekarang (Arsenal, Liverpool, dan Chelsea), Liverpool yang paling banyak kebobolan. Dari 8 pertandingan terakhir, Liverpool juga tidak pernah mencatatkan clean sheet.

Mikro Taktik Arsenal

Salah satu kunci dominasi Arsenal adalah taktik yang dipakai oleh Arsene Wenger, yaitu memanfaatkan umpan pendek untuk menyusuri sayap. Ini dilakukan dengan memanfaatkan pembagian tugas poros ganda antara Ramsey dan Mikel Arteta.

Gambar Action Ramsey (credit: fourfourtwo.com)

Arteta bertugas sebagai holding midfielder, sedangkan Ramsey box to box. Perpaduan keduanya lalu dibantu oleh Mesut Oezil yang bertugas sebagai pengatur serangan.

Sistem kerjanya adalah Ramsey dan Oezil akan bergerak mengikuti aliran bola ke arah sayap. Mereka akan bekerjasama dengan kedua sayap, Cazorla dan Rosicky. Di saat bersamaan, fullback bersiap melakukan overlap untuk melakukan crossing atau memasuki final third.

Kombinasi ini berjalan apik dalam skema 4-2-3-1. Dengan kedua sayap tidak bermain terlalu melebar, tentu untuk memberi ruang bagi fullback melakukan overlap. Apalagi, skema kerjasama ini tidak mendapatkan tekanan lebih dari para gelandang Liverpool.

Para gelandang Arsenal memang lebih banyak berhadapan langsung dengan bek Liverpool. Lagi–lagi karena gelandang Liverpool sering terlambat untuk turun.

Pergerakan yang baik juga dilakukan pemain Arsenal saat bertahan. Kedua poros ganda, terutama Arteta, mampu meredam serangan Liverpool. Caranya adalah dengan tidak meninggalkan ruang antara bek dan Arteta-Ramsey. Dengan cara ini, duet Luis Suarez dan Daniel Sturridge tidak mempunyai ruang yang bebas.

Penampilan apik dari Arteta juga merupakan salah satu kunci dominasi possesion Arsenal. Selain membantu pertahanan, Arteta juga piawai menahan bola dan mengatur tempo permainan. Sesuai dengan perannya sebagai holding midfielder.

Gambar Action Arteta

Dominasi lini tengah Arsenal atas Liverpool juga terlihat pada jumlah passing combination yang dilakukan. Dari daftar teratas jumlah passing antar dua pemain ini, sepuluh urutan tertinggi adalah milik pemain Arsenal. Kombinasi tertinggi di Liverpool adalah Steven Gerrard dan Lucas Leiva yang menempati urutan ke-11.

(Source: fourfourtwo.com/statszone)

Taktik Liverpool yang Statis

Berbeda dengan Arsenal, Liverpool cenderung bermain statis. Pakem formasi dasar 3-5-2 yang digunakan Rodgers di awal pertandingan nyaris tidak ada variasi. Meski di babak kedua, mengubah formasi ke 4-4-2 namun tetap saja taktik nyaris tidak berjalan.

Para pemain Liverpool bermain dengan base on position, yaitu cenderung tidak banyak bergerak di tempatnya masing-masing. Hanya melakukan tanggung jawab posisi per-permain. Bahkan 3 gelandang tengah; Gerrard, Lucas, dan Jordan Henderson juga melakukan hal yang sama.

Pergerakan pemain yang statis tentu menyulitkan jika harus melawan para pemain Arsenal yang dinamis. Akibatnya perpindahan bola antar lini tidak berjalan dengan baik. Gelandang Liverpool sering terlambat untuk turun menjemput bola dan menahan serangan saat bertahan. Buruk dalam bertahan, namun juga tidak mampu berbuat banyak saat menyerang.

Tugas untuk menjemput bola bahkan lebih banyak dilakukan oleh Suarez. Pemain Uruguay ini memang menjadi salah satu pemain yang paling dinamis dalam bergerak, tidak hanya menjemput bola tetapi juga aktif bergerak membuka ruang saat menyerang.

Suarez membuka ruang dengan bermain melebar untuk menembus pertahanan Arsenal, dengan meninggalkan Sturridge di kotak penalti. Melebarnya Suarez juga karena memang di area final third Liverpool, para pemain sayapnya jarang naik.

Tidak dimanfaatkannya flank ini terjadi tidak hanya saat babak pertama, ketika Rodgers masih memakai satu sayap dalam 3-5-2. Namun juga saat babak kedua dimana kedua sayap Liverpool diisi oleh 2 pemain dalam formasi 4-4-2 (fullback dan flank).

Kesimpulan

Perbandingan permainan kedua tim memang sangat jelas. Bahkan, dominasi Arsenal pun begitu kentara. Permainan mikro taktik yang berhasil dibangun Wenger memang membuat lini tengah Liverpool tidak mampu berbuat banyak.

Sementara itu, formasi dan taktik dari Rodgers kembali mendapatkan sorotan. Setelah sukses di beberapa pertandingan awal kompetisi, kini formasi 3 bek justru banyak mendapat cemooh dari berbagai pengamat. Taktik ini dirasa terlalu usang, dan minim inovasi.

Berbeda dengan pendukung Liverpool yang masih was-was terhadap permainan yang dibangun Rodgers, pendukung Arsenal patut tersenyum dengan semakin berkembangnya permainan tim idolanya. Jika berhasil mempertahankan performa demikian, bisa jadi Arsenal sulit untuk digoyahkan dari puncak klasemen hingga waktu lama. (mfi/mfi)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads