sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Minggu, 15 Jun 2014 16:02 WIB

Momen Pembuktian Lionel Messi (Lagi)

- detikSport
Getty Images/Ronald Martinez Getty Images/Ronald Martinez
Jakarta - Ini bukan perkara cara menyerang skuat Argentina. Mencetak gol seharusnya bukan masalah serius pasukan Alejandro Sabella. Sebaliknya, kekhawatiran utama La Albiceleste adalah pertahanan.

Argentina akan menuju Piala Dunia 2014 Brasil dengan harapan setidaknya mencapai semifinal. Taget itu seharusnya patut dianggap sebagai kemajuan sepakbola Argentina dalam sepakbola nasional mereka dalam dua dekade terakhir. Argentina hanya mampu mencapai perempat final di Prancis (1998), Jerman (2006), dan Afrika Selatan (2010).

Di zona CONMEBOL, Argentina senior juga tak pernah juara sejak Copa America 1993. Mereka hanya mentok sebagai runner-up di kompetisi akbar Amerika Selatan tersebut pada 2004 dan 2007. Namun, Argentina kini boleh berharap meneruskan langkah tim yunior yang berhasil meraih medali emas Olimpiade 2004 di Athena dan 2008 di Beijing.

Senjata utama mereka di depan, tidak lain dan tidak bukan, adalah Lionel Messi. Penyerang FC Barcelona ini sekarang berusia 26 tahun -- usia legenda Diego Maradona ketika Argentina mengangkat trofi Piala Dunia 1986 atau yang kedua kalinya sekaligus yang terakhir.

Dalam hal kemampuan dan talenta, penyerang seperti Messi, Sergio Aguero, dan Gonzalo Higuain (sayang tidak ada Carlos Tevez di sini) merupakan jaminan menjadi top skorer di Brasil. Artinya bila trio ini dimainkan sekaligus oleh Sabella maka gol bukan isu utama bagi Argentina.

Sabella Sosok Pelatih Tepat

Argentina terkenal sebagai tim penuh masalah di ruang ganti sepanjang tampil di Piala Dunia. Pada edisi 1994, isu doping menjadi akar kepanikan tim. Pada 1998, terjadi perselisihan internal tim. Pada 2002, ada kekhawatiran terhadap standar kebugaran yang terlalu tinggi dari pelatih Marcelo Bielsa. Pada 2006 dan 2010, terjadi konflik antar beberapa kelompok pemain. Artinya, kepala dingin adalah suatu keharusan jika Argentina ingin memaksimalkan kesempatan di Brasil.

Sejak ditunjuk sebagai pelatih pada pada Agustus 2011, Sabella -- asisten pelatih Daniel Passarella ketika Argentina berhasil mencapai perempat final di Piala Dunia 1998 Prancis -- cenderung memilih pemain yang sama. Pelatih berusia 59 tahun ini mengabaikan bintang seperti Tevez dan Esteban Cambiasso untuk menghindari kemungkinan perselisihan di kamar ganti, menolak mencoba-coba penjaga gawang, dan menyukai pemain belakang berlatar low-profile.

Sabella pernah menjuarai Copa Libertadores 2009 bersama Estudiantes. Eks pemain Sheffield United dan Leeds United ini terkenal jujur dan punya tekad kuat dalam memimpin tim. Meski demikian, Sabella sempat dicap sebagai pilihan pragmatis oleh publik Argentina. Tapi perlahan-lahan Sabella berhasil mengambil hati mereka.

Di masa kualifikasi, meski sempat kalah dari Venezuela dan bermain imbang dengan Bolivia, Sabella berhasil membawa Argentina tidak terkalahkan selama 18 bulan sebelum akhirnya takluk dari Uruguay di partai terakhir.

Messi Sebagai Pusat Permainan

Mengacaukan pesta karnival Brasil tentu menjadi motivasi kuat pasukan Argentina. Sejak Sabella mengambil alih tim ini, Messi seakan mendapatkan sentuhan magisnya seperti yang dia tunjukkan di Barcelona. Argentina seperti bermain untuknya.

Bila tim nasional Inggris enggan meletakkan nasib di pundak penyerang Wayne Rooney, Argentina justru sebaliknya. Publik rela dan bahkan menyandarkan nasibnya pada Messi -- pemain terbaik dunia tiga kali beruntun (2010-2012). Padahal Argentina bukan tim yang mengandalkan skil invidu pemain tertentu.

Sejak musibah pada Copa America 2011 di rumah sendiri, penyerang mungil ini berhasil bertransformasi menjadi pemain mematikan. Meski gagal membawa Barcelona juara La Liga musim ini, mantan pemain Newell's Old Boys ini mencetak 41 gol dalam 46 pertandingan klub Catalan itu di segala kompetisi.

Messi, yang ikut meraih medali emas cabang olahraga sepakbola di Olimpiade 2008 Beijing, juga sudah mencetak 18 gol bagi Argentina dalam 17 pertandingan terakhir. Citra Messi yang setengah hati jika bermain dengan kaus biru-putih pun telah sirna dan kini menjabat kapten negaranya.
Permainan Argentina terkesan dibangun di sekitar Messi. Namun tim ini bukan versi Catalan-nya Amerika Selatan yang gemar melakukan pressing sejak dari depan dan mengincar dominasi penguasaan bola.

Pasukan Sabella justru merancang permainan dengan serangan balik dari posisi yang lebih dalam ketimbang Barca. Rencana utama mereka sederhana, yakni memaksimalkan kualitas, kecepatan, dan ketajaman penyelesaian akhir Messi, Aguero, dan Higuain.

Pada sistem berbasis formasi 4-3-3, Messi dibebaskan bergerak melebar atau ke dalam. Sementara Aguero menjadi jembatan penghubung antara Messi dan Higuain yang aktif bergerak mencari posisi strategis untuk mencetak gol.

Permainan dinamis Angel Di Maria dalam menyerang, termasuk rajin melakukan track back di sisi kiri lapangan, membuat permainan tim menjadi seimbang. Gelandang Fernando Gago atau Lucas Biglia akan mengisi sektor sentral dengan visi yang baik. Gago atau Biglia bersama Javier Mascherano biasanya memainkan peran ball-winners pula di lapangan tengah Argentina.

Sabella juga bisa mempertimbangkan Maxi Rodriguez, Rodrigo Palacio, dan Ezequiel Lavezzi yang punya pergerakan melebar di lapangan tengah untuk barisan serang. Sementara fullback Pablo Zabaleta di sisi kanan dan Marcos Rojo di sisi kiri -- yang biasanya tampil sebagai bek tengah di klub Sporting Lisbon -- diandalkan Sabella untuk membantu lini depan.

Untuk rencana cadangan bila dibutuhkan, Sabella tidak segan memainkan sistem "aneh" dengan formasi 5-3-2. Argentina akan memainkan lima bek seperti beberapa kali dipraktekkan di babak kualifikasi.

Sistem tersebut dioperasikan dengan tambahan bek tengah atau pemain tengah seperti Biglia sehingga Mascherano bisa bermain lebih dalam. Peran ini beberapa kali dimainkan Mascherano di Barcelona.

Pertahanan dan situasi bola mati untuk duel udara merupakan masalah utama Argentina. Hanya Federico Fernandez, Ezequiel Garay, dan Higuain (yang sayangnya seorang striker) yang dapat menyundul bola dengan baik. Itu sebabnya Sabella selalu menurunkan Rojo di sisi kiri pertahanan. Namun pemain berusia 24 tahun ini terkesan lambat.

Masalah lain yang harus dihadapi Sabella adalah penjaga gawang. Dari tiga kiper yang dibawanya, hanya Agustin Orion yang tampil reguler di klub Boca Juniors. Sedangkan kiper utama Sergio Romero dan Mariano Andujar hanya cadangan di AS Monaco dan Catania. Anehnya Sabella tidak melirik Julian Speroni yang tampil menawan di Crystal Palace.

Prediksi line-up (4-3-3):

Romero; Zabaleta, Fernandez, Garay, Rojo; Mascherano, Gago, Di Maria; Messi, Higuain, Aguero.

Prediksi

Argentina seakan mengalami kebangkitan di bawah asuhan Sabella dalam dua tahun terakhir. Tim ini telah menemukan gaya konsisten dan Messi, yang sempat dicemooh para penggemar pada 2011, akhirnya tampak nyaman dengan sistem taktis bersama Aguero, Higuain dan Di Maria yang selalu dekat dengannya.

Messi akan memainkan Piala Dunia ketiganya dengan motivasi tinggi demi menebus kegagalan mencetak gol dalam lima partai Argentina di Piala Dunia 2010. Argentina pun hanya bergabung bersama Bosnia, Iran, dan Nigeria yang relatif ringan di Grup F. Argentina hanya tinggal mengkhawatirkan peluang bertemu Jerman di perempat final untuk maju hingga final.
Jadi, patut dinanti bagaimana serangan terbaik di planet ini ala Argentina bisa menutupi masalah defensif mereka.

====

*dianalisis oleh @DexGlenniza dari @panditfootball

(roz/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detiksepakbola.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com