sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Senin, 31 Agu 2015 10:38 WIB

Kaset Rusak Louis van Gaal

Pangeran Siahaan - detikSport
Jakarta - Anda tahu urban legend Candyman yang sempat dijadikan film horor laris di tahun 1992? Menurut cerita, jika anda menyebut nama Candyman lima kali sambil menatap ke cermin, maka Candyman, sosok mengerikan yang memiliki lengan pengait, akan muncul dan membunuh anda seketika dengan lengannya tersebut.

Pertanyaannya adalah, jika Candyman menatap ke cermin dan menyebut namanya sendiri sebanyak lima kali, siapa yang akan muncul?

Bafetimbi Gomis.

Louis van Gaal tidak memanggil nama Candyman atau Bafetimbi Gomis, tapi ia sendiri yang mencari gara-gara perihal kekalahan Manchester United dari Swansea tadi malam (30/8). Van Gaal menolak untuk menyalahkan Sergio Romero sebagai biang kekalahan United. Sebuah langkah yang cukup wajar untuk membela pemain yang gencar dikritik publik. Meski begitu, itu tidak menghapuskan fakta bahwa dua gol yang dicetak Swansea bukanlah bola-bola yang mustahil untuk dihalau. Jika sebelumnya masih ada orang yang bertanya-tanya mengapa kontrak Romero tidak diperpanjang Sampdoria di akhir musim lalu, sekarang anda tahu alasannya.

Tidak ada yang terlalu mengherankan dari kekalahan United ini sebenarnya. Kita semua tahu bahwa cepat atau lambat hasil seperti ini akan terjadi. Setelah hanya mencetak 2 gol dalam 3 pertandingan pertama, di mana satu gol tersebut adalah bunuh diri dan satu lagi adalah tendangan terdefleksi, kita semua sadar bahwa hari penghakiman akan segera tiba. Yang cukup mengherankan sebenarnya adalah United sebelumnya bisa 3 kali clean sheet berturut-turut sebelum akhirnya Swansea membuka topeng United dan memperlihatkan kepada dunia bahwa filosofi Louis van Gaal tak elok-elok amat.

Walau demikian, menyalahkan lini belakang dan penampilan Romero hanya akan menutupi masalah lebih besar yang sebenarnya sedang terjadi di United. Dengan hanya 2 gol dari 3 partai pertama, semua orang sadar bahwa jika kondisi ini tak berubah, akan tiba waktu di mana United akan kebobolan gol lebih banyak dari yang bisa mereka cetak. Jika di musim terakhir Sir Alex Ferguson Manchester United tak terlalu peduli dengan pertahanan selama mereka bisa mencetak gol lebih banyak dari lawan, yang sekarang terjadi adalah anti tesisnya.



Problem Manchester United sangat pelik karena apa yang terjadi adalah sebuah kanker di lini penyerangan yang sepertinya sudah kronis sehingga menyebar ke mana-mana. Pemain yang paling parah tentu saja adalah Wayne Rooney, yang jika bermain di klub lain sudah pasti akan dipaksa menghuni bangku cadangan. Rooney bermain seperti orang sakit gigi yang dipaksa kerupuk kulit. Ia terlihat tidak nyaman dan kehilangan ketajamannya. Sepuluh pertandingan liga terakhir dilalui Rooney tanpa satu gol pun yang bisa ia cetak. Saat ini Rooney lebih tumpul dari pensil 2B yang digunakan selama 2 jam penuh untuk menjawab soal ujian masuk perguruan tinggi negeri.

Kekecewaan lain berasal dari penampilan Memphis Depay yang membuat para fans United terlihat dungu karena berharap setinggi langit kepada penampilan pemain anyar asal Belanda ini. Tidak terlihat bagaimana liat dan cepatnya penetrasi Depay di sisi sayap yang tadinya diharapkan akan menjadi kombinasi maut dengan Rooney.

Kedua pemain ini tampil sangat impresif ketika menghadap Club Brugge dalam 2 leg di playoff Liga Champions. Memphis mencetak 2 gol di leg pertama sebelum Rooney mencetak hat-trick di leg kedua. Tapi ketika mereka berhadapan dengan tim yang lebih baik dari Club Brugge, Rooney dan Memphis kembali menghilang seperti teman yang tak membalas pesan Whatsapp ketika ditagih utang.

Pemain depan terbaik performanya bagi United adalah Juan Mata. Tapi kemampuan playmaking Mata saja tidak cukup. Dengan segala kepiawaian teknik dan visinya, Mata punya satu kelemahan yang jelas yaitu ketiadaan speed. Mata bisa menjadi pencetak gol seperti yang ia lakukan ke gawang Swansea, namun penampilan paling ideal bagi Mata sebenarnya adalah ketika ia bisa mendikte bola untuk diberikan kepada pemain-pemain yang lebih cepat dan memiliki insting pembunuh.

Kombinasi terbaik lini tengah yang dimiliki oleh United diturunkan oleh Van Gaal menghadapi Swansea dengan Morgan Schneiderlin dan Bastian Schweinsteiger bermain di belakang Ander Herrera, yang kembali dipercaya sebagai starter setelah sang manajer mengesampingkan skeptisme tahunan kepada Herrera. Entah apa yang dilakukan Adnan Januzaj kepada Van Gaal sehingga pada partai-partai sebelumnya Herrera dicadangkan demi pemain asal Belgia tersebut.



Tapi performa lini tengah yang relatif solid menjadi sia-sia ketika cengkeraman di tengah lapangan tak bisa dikonversi menjadi lebih banyak gol. Lini depan United tak bisa diharapkan dengan Rooney hanya berlari-lari tanpa arah seperti layangan putus dan ketika bola mampir ke kakinya ia tak bisa berbuat banyak.

Sudah banyak di media sosial yang menggarisbawahi betapa jeniusnya Gary Monk ketika ia memasukkan Ki Sung Yueng -- seorang gelandang tengah-- untuk menempati sisi kanan dan menyebabkan Luke Shaw tak lagi bisa overlap seenaknya. Dimasukkannya Ki mengubah pola baku Swansea yang secara langsung berakibat pada 2 gol yang diciptakan tuan rumah. Kedua gol berawal dari sisi kanan Swansea.

Seusai pertandingan Van Gaal mengatakan kepada pers bahwa ketika Swansea mengubah bentuk formasi mereka, anak asuhnya tak bisa mengikuti. Secara tak langsung Van Gaal mengakui bahwa dirinya telah kalah taktik dari Monk, yang karirnya sebagai manajer dimulai hanya sebagai pelatih infal menggantikan Michael Laudrup yang dipecat. Van Gaal kemudian berkilah bahwa timnya mendominasi bola dan seharusnya keluar sebagai pemenang, tapi seperti yang sudah sering saya tulis, tidak ada penghargaan khusus di sepakbola untuk tim yang unggul ball possession.

Dalam kondisi tertinggal dan para pemain depan yang impoten di dalam kotak penalti, tak heran jika Van Gaal mengalihkan pandangan kepada Marouane Fellaini untuk dimasukkan sebagai ujung tombak. Saya termasuk mereka yang gemar terhadap Fellaini yang selalu bikin rusuh di kotak penalti lawan dengan posturnya yang ajaib. Tapi permasalahannya adalah Fellaini bukan juru selamat yang selalu bisa mengubah air menjadi anggur.

Kenyataannya adalah di era musik digital, Van Gaal hanya memiliki walkman yang cuma bisa memutar kaset dengan Rooney sebagai side A dan Fellaini sebagai side B. Jika mereka tak membeli peranti musik yang baru, musim ini akan menjadi sangat panjang bagi Manchester United yang akan mendengar hanya 2 lagu saja berulang-ulang.

=====

* Penulis adalah satiris dan penulis sepakbola, presenter BeIN Sports Indonesia. Bisa dihubungi melalui akun twitter @pangeransiahaan
** Foto-foto: REUTERS

(a2s/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed