sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Senin, 14 Sep 2015 11:41 WIB

Buang-Buang Uang untuk Anthony Martial

Pangeran Siahaan - detikSport
Foto-foto: Getty Images Foto-foto: Getty Images
Jakarta -

Sehari sebelum nama Anthony Martial ramai dibicarakan sebagai pembelian pamungkas Manchester United di jendela transfer musim panas, saya kebagian tugas menyajikan partai AS Monaco menjamu juara bertahan Ligue 1, Paris St Germain di beIN SPORTS.

Tidak seperti biasanya di mana Monaco selalu merepotkan PSG setiap kedua tim berjumpa, kali itu Les Parisiens melenggang dengan mudah dan mencetak 3 gol ke gawang Les Monegasques. Monaco tampil tanpa harapan dan rambut Stephan El Shaarawy jauh lebih mencolok keberadaannya di lapangan dibanding penyerang remaja mereka yang bernama Anthony Martial.

Tentu saja saya tidak selalu menonton pertandingan Ligue 1 (siapa juga yang selalu?!) dan itu adalah kali pertama saya melihat Anthony Martial berlaga. Maka ketika keesokan harinya Manchester United santer dikabarkan akan memboyong orang ini sebagai tambahan amunisi lini depan The Red Devils, saya langsung mengirim pesan Whatsapp kepada kolega saya, Gita Suwondo, yang kurang lebih berbunyi: "Pemain yang semalam kita tonton dan gak ngapa-ngapain itu mau dibeli Manchester United dengan harga mahal. Udah gila. Buang-buang uang saja".

Dua pekan dan 36 juta pounds kemudian, Anthony Martial menorehkan debut yang tak akan terlupakan dengan mencetak gol yang membawa klub barunya menang atas rival abadi, Liverpool. Tidak hanya mencetak gol, dalam prosesnya Martial menggiring bola melewati 3 orang pemain Liverpool, sebelum melepaskan penyelesaian ke sudut gawang yang menghipnotis penjaga gawang Simon Mignolet untuk sesaat. Stretford End berguncang.

Saya menukas kembali kepada kolega saya, Gita Suwondo, "Pemain yang waktu itu kita tonton dan gak ngapa-ngapain ternyata bisa juga ngapa-ngapain".

Tiga puluh enam juta poundsterling untuk mematahkan momentum kebangkitan Liverpool usai gol indah Christian Benteke. Udah gila. Harusnya lebih mahal lagi.

***

Jika anda adalah fans Manchester United dan mengatakan bahwa anda sudah tahu sebelumnya bahwa Anthony Martial adalah seorang pemain muda yang hebat dan harga mahal layak disematkan kepadanya, besar kemungkinan anda berdusta. Jika ada satu hal di mana seluruh dunia sepakat untuk setuju pada satu hal, itu pastilah anggapan bahwa harga Martial yang 36 juta pounds terlalu mahal.

Tak kurang dari Louis van Gaal yang mengatakan bahwa harga Martial kemahalan. Media Inggris juga bilang Martial terlalu mahal. Suporter Man United bilang Martial overpriced. Semua orang bilang Martial overpriced. Satu-satunya pihak yang percaya bahwa Martial tidak kemahalan adalah AS Monaco, yang yakin betul bahwa Martial akan menjadi pemain kelas dunia di masa depan dan harga 36 juta pounds plus klausul tambahan adalah investasi yang sepadan bagi siapa pun yang meminatinya.

Yang menggelitik dari transfer Martial tidak hanya harganya, tapi juga fakta bahwa sebagian besar orang tidak hanya belum pernah melihat dirinya bermain. Mendengar namanya pun tak pernah. Wayne Rooney harus bertanya kepada Morgan Schneiderlin siapa Martial ketika namanya santer dihubungkan dengan United. Di podcast Guardian Football Weekly, para jurnalis sepakbola Inggris, yang kerjanya hanya menonton sepakbola secara intensif, harus bertanya kepada jurnalis Prancis, Phillipe Auclair, siapa sebenarnya Martial ini.

Auclair menjawab bahwa Martial adalah seorang pemain yang mirip dengan Thierry Henry, dengan kecepatan dan teknik tinggi yang mumpuni untuk dimainkan sebagai penyerang tengah atau pun juga sedikit menyisir sayap.

Penjelasan Auclair ini tak mencengangkan sama sekali. Komparasi kemiripan atribut seorang pemain muda dengan bintang sepakbola terdahulu bukanlah hal baru dan lebih sering berakhir tragis daripada gembira. Di generasi sebelumnya kita sudah lelah mendengar jargon “The Next Maradona” - yang sekarang diperbarui menjadi “The Next Messi”. Penjelasan singkat dari seorang jurnalis sekelas Auclair bahwa Martial mirip Henry tidak menjelaskan apa-apa, malah lebih terdengar sebagai penjelasan yang malas.

Di era Youtube, jarang sekali ada rahasia sepakbola yang belum terkuak ke publik. Bahkan sering kali seorang pemain muda terinflasi reputasinya karena video Youtube yang mentereng semata. Padahal belum tentu montase video penampilan yang sepotong-sepotong itu bisa menggambarkan efektivitas mereka di lapangan dalam 90 menit. Kumpulan video pendek berisi gol, skill, dribble, dan teknik lain sama sekali bukan jaminan kualitas. Bebe sekalipun terlihat jago di Youtube. Jika anda butuh bukti yang lebih serius: Ricardo Quaresma.

Lucunya, Martial pun tidak keren-keren amat di Youtube. Ada satu video yang berisi koleksi gol dan aksi Martial musim lalu bersama Monaco dan timnas junior Prancis. Teknik dan kecepatan tinggi dari Martial terlihat dalam video itu, tapi tidak sampai level yang membuat anda berpikir “rasanya pemain ini harus dihargai 36 juta Pounds”.



Transfer Martial pun tidak berasal dari satu penampilan super impresif dalam pertandingan tertentu yang membuat Manchester United tak punya pilihan selain menawar dirinya. Kita semua tahu bahwa ini adalah jalur yang ditempuh United untuk memboyong Cristiano Ronaldo usai partai uji coba kontra Sporting Lisbon.

Ed Woodward dan fans Manchester United tak akan suka mendengar kata “Panic Buying”, tapi sulit untuk tidak menyematkan label ini awalnya kepada Martial. Tawaran baru dilayangkan dalam kurang dari 48 jam sebelum tenggat transfer setelah target-target primer dan sekunder tak sukses didekati.. Harga mahal untuk pemain yang relatif belum teruji. Kebutuhan striker baru yang mendesak. Jika bukan panik, entah apa namanya.

Pertanyaannya adalah, dari semua pemain yang mungkin menjadi sasaran pembelian panik Manchester United (dan 36 juta pounds bisa membeli pemain dengan kelas yang lumayan), mengapa mereka memilih Martial? Apa karena mereka sudah memantau Martial sejak lama dan percaya potensinya? Apa karena dipengaruhi agen pemain yang sukses mengerjai United seperti dalam kasus Bebe dan, sampai tahap tertentu, Falcao?

Atau mungkin hanya karena Martial satu-satunya striker yang bersedia dan tersedia untuk pindah ke Manchester United di jendela transfer musim panas ini?

Sebenarnya ada satu lagi striker tersedia di pasaran di awal musim ini: Charlie Austin. Namun, ketika dihadapkan untuk memilih antara penyerang timnas Prancis dan striker Queens Park Rangers, anda tahu siapa yang akan anda pilih.

Pejamkan mata dan bayangkan Charlie Austin mengenakan seragam Manchester United bernomor punggung 9.

Bangun, anda baru saja mimpi buruk.

***

Komparasi Martial dengan Thierry Henry semakin tak terelakkan karena Henry pun pernah mencetak gol yang identik ke gawang Liverpool. Ini tentu dapat menjadi beban bagi Martial yang akan mengarungi masa-masa awal karirnya bersama Man United di bawah sorot mikroskop fans dan media. Bahkan Henry tidak mendapatkan tekanan dan perhatian sebesar ini ketika mengawali karirnya bersama Arsenal.

Tidak hanya gaya bermain dan gol identik, Martial pun memulai karir sepakbolanya dari klub semi-pro yang sama dengan Henry, Les Ulis. Baik Martial dan Henry lahir dan tumbuh besar di Essone, sebuah distrik di wilayah megapolitan Paris. Les Ulis adalah klub lokal di distrik Essone yang juga menjadi klub sepakbola pertama bagi seorang anak diplomat bernama Patrice Evra.



Meski mencetak gol dalam debut dan dimirip-miripkan dengan Henry, terlalu dini untuk menyatakan bahwa Martial adalah pembelian yang sukses atau gagal bagi United. Performa dinilai dalam jangka panjang, bukan satu pertandingan. Federico Macheda pun mencetak 2 gol dalam 2 laga pertama bagi Man United sebelum akhirnya lenyap dari relevansi.

Karier Martial bisa saja akan segemilang Henry, tapi bisa juga akan berbanding terbalik.

Meski sama-sama anak kampung setempat di distrik Essone, Henry lahir di kecamatan Les Ulis, sedang Martial lahir di kecamatan Massy.

Anda tahu siapa lagi pemain Prancis dan Arsenal lainnya yang lahir di kecamatan Massy?

Yaya Sanogo.


=====

* Penulis adalah satiris dan penulis sepakbola, presenter BeIN Sports Indonesia. Bisa dihubungi melalui akun twitter @pangeransiahaan

(a2s/krs)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed