sepakbola
Follow detikSport Follow Linkedin
Senin, 22 Feb 2016 12:10 WIB

Tottenham Sanders dan Leicester Corbyn

Pangeran Siahaan - detikSport
Jakarta -

Dalam hampir setahun terakhir, kita melihat bagaimana dua nama baru menyeruak entah dari mana dan mencuat ke permukaan. Kedua nama baru ini membuat keributan yang sedemikian heboh sehingga membuat para oligarki penyandang kemapanan terganggu.

Awalnya dianggap sebelah mata karena tidak ditopang oleh keberlimpahan dana yang besar, kedua sosok ini memutarbalikkan anggapan para analis yang menganggap bahwa tidak mungkin mereka punya peluang menjadi pemenang.

Silakan maju ke depan, Tottenham Hotspur & Leicester City Bernie Sanders dan Jeremy Corbyn.

Siapa? Colonel Sanders? Ayam goreng itu?

Bukan. Ini Bernie Sanders, kandidat calon presiden Partai Demokrat, senator independen negara bagian Vermont yang sebelumnya menjabat sebagai walikota Burlington dan anggota DPR dari negara bagian yang sama. Sanders sama sekali bukan tipikal politisi Amerika Serikat. Bahkan untuk ukuran Partai Demokrat yang liberal (menurut pengertian Amerika) ia terhitung ekstrim.

Bagaimana tidak, Sanders dengan lantang menyatakan dirinya sosialis. Ia ingin meningkatkan kesejahteraan kelas pekerja dengan menaikkan upah dan jaminan sosial. Sanders menolak untuk mengumpulkan dana kampanye melalui Super PAC, seperti lazimnya politisi lainnya, dan malah memilih untuk mengumpulkan donasi pribadi dari masyarakat. Dalam 24 jam sejak dibuka, Sanders mengumpulkan 1,5 juta USD. Akhir tahun lalu, sudah 73 juta USD didapatkan melalui sumbangan pribadi.

Ya ya, ada politisi Amriki yang sosialis bla bla bla, lalu apa hubungannya dengan sepakbola?

Sabar sebentar. Nanti kita akan sampai ke sana.

Sosok Sanders tak sememesona Barack Obama. Ia lanjut usia dan dengan rambutnya yang putih dan berkacamata, ia terlihat seperti saudaranya Woody Allen.



Tapi Sanders mengejutkan semua orang ketika angkanya naik dramatis dalam polling dan menandingi Hillary Clinton, kandidat Kemapanan. Dalam primary di Iowa, selisih suara Hillary dan Sanders hanya nol koma. Di New Hampshire, Sanders menang telak yang membuat dirinya menjadi kandidat Yahudi pertama yang menang primary dalam sejarah Amerika Serikat.

Sanders sendiri mengaku dirinya tidak ekstrim-ekstrim amat. "Apa yang radikal dari menginginkan kelas pekerja dan kelas menengah yang bekerja keras membanting tulang untuk bisa hidup sejahtera? Kita sudah terlalu lama menutup mata sehingga hal-hal yang sederhana terlihat radikal".

Terlalu lama menutup mata sehingga hal-hal sederhana terlihat radikal? Ini pasti saatnya untuk memasukkan referensi tentang sepakbola. Ini pasti tentang Leices....

Dibilangin nanti dulu. Sabar ya.

Di seberang Samudera Atlantik, manusia lanjut usia lainnya, Jeremy Corbyn juga membuat keributan serupa ketika terpilih sebagai pemimpin Partai Buruh. Corbyn, yang dalam spektrum ideologis Partai Buruh dianggap kiri-jauh, menggoyang kemapanan ketika ia mengambil tampuk kepemimpinan partai tersebut dengan mengalahkan kandidat-kandidat sentris yang awalnya lebih diunggulkan.

Kemenangan Corbyn membuat banyak orang belingsatan, tak terkecuali rekan-rekan separtainya yang lebih moderat yang menganggap bahwa radikalisme Corbyn akan membuat Partai Buruh kalah telak pada Pemilu berikutnya.

Namun Corbyn bergeming. Baginya, hal-hal yang ia perjuangkan adalah sesuatu yang sudah seharusnya menjadi khitah Partai Buruh: kesejahteraan kelas pekerja, rumah murah, jaminan sosial dan anti perang. Bagi Corbyn, Partai Buruh sudah terlalu lama bergeser ke kanan sejak era "New Labour" di bawah Tony Blair sehingga apa yang ia perjuangkan terlihat ekstrim.



***

Setelah Tembok Berlin runtuh dan Perang Dingin berakhir, Francis Fukuyama mengeluarkan argumennya yang terkenal bahwa "Sejarah akan berakhir". Kata Fukuyama, kita akan segera melihat ujung sejarah karena pergelutan ideologis abad 20 telah berakhir dengan demokrasi liberal Barat keluar sebagai pemenang. Fukuyama belakangan terbukti tidak akurat karena Rusia dan Cina sekarang masih baik-baik saja, bahkan berjaya.

Entah apakah dunia sepakbola memiliki Fukuyama-nya sendiri, namun dalam 10 tahun terakhir, kita meyakini bahwa sepakbola sebagai kontes yang an sich olahraga telah usai karena pada akhirnya pemenang ditentukan oleh siapa yang memilki uang lebih banyak untuk membangun tim.

Di Premier League, kekuatan uang menciptakan plutokrasi sehingga gelar juara hanya berpindah tangan antara yang mereka yang luar biasa kaya raya. Sejak pertama kali berdiri tahun 1992, hanya ada satu klub yang hanya satu kali menjuarai Premier League, Blackburn Rovers, dan bahkan saat itu Rovers terhitung klub kaya dengan konglomerat baja, Jack Walker, sebagai pemiliknya.

Selain Blackburn, dalam 23 tahun Premier League berjalan, hanya ada 4 klub yang pernah menjadi juara. Dua klub terakhir yang bergabung ke jajaran elit juara Premier League, Chelsea dan Manchester City, memperoleh status tersebut setelah gelontoran uang yang gila-gilaan.

Bergelimangnya fulus dalam sepakbola modern berkat uang televisi dan Liga Champions membuat episentrum kekuatan terpaku pada klub yang itu-itu saja. Untuk mendapatkan uang lebih, harus masuk ke Liga Champipns, dan untuk masuk Liga Champions harus punya uang. Lingkaran setan.

Inilah yang membuat apa yang dilakukan Leicester City dan Tottenham Hotspur pada musim ini istmewa. Mereka mengancam untuk merusak kemapanan yang sudah tertata selama bertahun-tahun.

Namun, seperti dikatakan Sanders, terlalu lama menutup mata membuat hal-hal yang sederhana terlihat radikal. Sebelum faktor kekuatan uang semata menjadi variabel krusial dalam musim sepakbola, bukanlah hal yang tidak lazim untuk melihat setiap musim diwarnai oleh klub-klub yang berbeda (terkadang klub kecil) untuk mewarnai perburuan puncak klasemen.

Pada musim pertama Premier League, 1992/1993, ketika Manchester United menjadi juara, Norwich City memimpin klasemen saat Natal sebelum akhirnya finis peringkat tiga, di belakang Aston Villa sebagai runner-up.

Semusim sebelumnya, Sheffield Wednesday yang baru promosi finis di peringkat tiga di belakang Leeds United dan Man United.

Ketika Blackburn juara tahun 1995, Nottingham Forest menempati peringkat tiga. Bahkan jika anda tak ingat, Newcastle United - salah satu tim komedi belakangan ini - dua kali finis sebagai runner-up pada medio 90-an.



Seperti halnya Corbyn yang dianggap radikal karena membawa pendulum Partai Buruh bergerak ke arah yang seharusnya, seharusnya apa yang dilakukan Tottenham bukanlah hal yang mengejutkan. Tottenham sama sekali bukan klub kecil. Menurut data Deloitte, Tottenham adalah klub dengan pemasukan terbesar nomor 12 di Eropa, di atas dua klub kota Milan, Atletico Madrid, dan AS Roma. Tottenham adalah klub kaya yang bisa memecahkan rekor transfer dunia ketika menjual Gareth Bale ke Real Madrid. Pencapaian Tottenham musim ini adalah sesuatu yang memang sudah seharusnya mereka lakukan dari dulu. (Ironis membandingkan Corbyn dengan Tottenham karena Corbyn adalah suporter Arsenal, klub asal daerah konstituennya, but you'll get the idea).

Leicester City pun mengingatkan semua orang mengenai khitah klub sepakbola untuk mencari pemain yang paling baik dan tepat untuk mereka, bukan paling MAHAL - sesuatu yang gagal dipahami oleh Manchester United. Apa yang aneh dari mendapatkan Ngolo Kante, Riyad Mahrez, dan Jamie Vardy dengan harga yang hampir nihil dalam kalkulasi sepakbola dewasa ini? Bukankah memang sudah hakikat klub sepakbola untuk mencari bakat-bakat terbaik yang terpendam dibanding mempercayai hype 100%?

Membubungnya popularitas Sanders dan Corbyn ditopang oleh kemampuan untuk merengkuh suara-suara baru yang selama ini sudah muak dengan kemapanan politik yang ada. Banyak orang yang merasa selama ini kepentingannya tak dianggap karena elit politik hanya asyik sendiri. Dalam skala yang berbeda, inilah juga yang membuat Tottenham, terlebih Leicester memperoleh banyak sekali simpati dan dukungan dari publik netral. Akhirnya ada sesuatu yang berbeda.

Namun bukan berarti mereka semua sepi dari suara negatif.

Corbyn dianggap tak punya peluang untuk memenangi Pemilu tahun 2020 dan Partai Buruh diprediksi banyak pihak akan menderita kekalahan terparah.

Sanders dinilai terlalu tua dan tak realistis, belum lagi fakta bagaimana publik Amerika Serikat, Mordor-nya kapitalisme, akan menerima orang yang terang-terangan sosialis.

Tottenham? Banyak yang menganggap tak lama lagi penyakit Tottenhamingitis akan kambuh lagi. Fans Tottenham sendiri pun tak berani bermimpi mereka akan jadi juara?



Leicester? Ah, apa yang mereka yang lakukan di puncak klasemen? Sebentar lagi juga mereka akan turun. Kekalahan dari Arsenal minggu kemarin akan mengawali akhir cerita indah mereka. Lagipula, apa jadinya jika Leicester jadi juara dan musim depan berlaga di Liga Champions? Pasti akan kena libas dan bikin malu saja.

Corbyn dan Sanders mungkin saja akan kalah (bahkan bisa jadi Sanders kalah dari Hillary Clinton sebagai calon Demokrat) sama sepertinya Leicester dan Tottenham bisa jadi tak akan jadi juara liga musim ini.

Namun seandainya mereka semua gagal keluar sebagai pemenang dan Kemapanan oligarki kembali berkuasa, kita tahu bahwa selalu ada lebih dari satu cara untuk melakukan segala sesuatu, tak terkecuali dalam sepakbola.


=====

* Penulis adalah satiris dan penulis sepakbola, presenter BeIN Sports Indonesia. Akun twitter @pangeransiahaan

(a2s/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed