DetikSepakbola
Kamis 24 Mei 2018, 18:11 WIB

Andres Escobar Dihabisi karena Gol Bunuh Diri

Rifqi Ardita Widianto - detikSport
Andres Escobar Dihabisi karena Gol Bunuh Diri Kapten Kolombia Andres Escobar ditembak mati karena gol bunuh diri. (Foto: Shaun Botterill/ALLSPORT)
Jakarta - Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat menyisakan sebuah kisah pilu. Bek tim nasional Kolombia Andres Escobar meregang nyawa karena sebuah gol bunuh diri.

Kisah tragis Escobar di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat itu mendunia. Kematiannya adalah ironi, karena Piala Dunia semestinya menjadi pesta untuk dunia sepakbola. Kalaupun ada kemuraman di sana, seharusnya hanya dipicu karena kekalahan-kekalahan yang niscaya wajar saja di dalam permainan.

Escobar datang ke Piala Dunia 1994 sebagai kapten timnas Kolombia, tim yang performanya jadi salah satu yang ditunggu. Skuat besutan Francisco Maturana itu melaju tangguh dalam perjalanan menuju ke turnamen, dengan pemain-pemain bertalenta seperti Faustino Asprilla, Carlos Valderrama, Fredddy Rincon, termasuk Escobar.

Kolombia tak terkalahkan di fase kualifikasi Piala Dunia Grup A Amerika Selatan. Mereka melalui enam laga dengan empat kemenangan dan dua kali imbang. Termasuk dari salah satu kemenangan itu adalah kala mereka membungkam Argentina 5-0 di laga terakhir, yang menentukan status juara grup. Argentina yang kalah di kandang sendiri pun terpaksa menjalani play-off.

Dalam 26 pertandingan menuju Piala Dunia 1994 itu, Kolombia bahkan cuma kalah sekali. Escobar-lah yang memimpin barisan pemain bertalenta skuat Kolombia tersebut di lapangan. Pemain belakang ini dijuluki El Caballero del Futbol, atau Gentleman of Football dalam bahasa Inggris. Julukan itu didapatnya dari gaya bermain elegan, tenang, dan 'bersih' di lapangan.

Andres Escobar Dihabisi karena Gol Bunuh DiriFoto: AFP PHOTO/ROMEO GACAD


Tapi hidup punya caranya sendiri untuk membuka jalan menuju tragedi. Kolombia yang diprediksi Pele bisa mencapai minimal semifinal itu memulai turnamen dengan kekalahan 1-3 dari Rumania. Escobar dkk. mengawali dengan situasi tertekan. Mereka harus menghadapi tuan rumah Amerika Serikat di partai kedua.

Pada 22 Juni 1994 itu, Escobar turun sebagai starter. Di menit ke-35, sebuah umpan silang yang dilepaskan John Harkes coba dipotong sang kapten Kolombia. Escobar merentangkan kakinya dalam posisi menghadap gawang sendiri. Nahas, bola melintir masuk ke gawang sementara kiper sudah terlanjur mati langkah.

Kolombia kalah 1-2 di laga tersebut, membuat kans lolos menyempit. Mereka pada akhirnya benar-benar tersingkir meski menang atas Swiss di partai terakhir, setelah Rumania mengandaskan AS. Kolombia yang digadang-gadang cemerlang, tersingkir sebagai juru kunci.

Enam hari setelah Kolombia tersingkir, tepatnya pada 2 Juli 1994, Escobar meninggal dunia.

***

Malam sebelumnya, Escobar bersama teman-temannya mengunjungi sebuah bar di kota Medellin. Dia kemudian berpisah dengan teman-temannya dan kembali ke mobilnya. Waktu sudah menunjukkan dinihari ketika sekelompok orang, kabarnya terdiri dari tiga orang, mendatanginya.

Mereka lantas menembaki Escobar, kabarnya sembari berteriak 'Gooool!' untuk setiap peluru yang ditembakkan. Enam peluru menembus tubuh Escobar. Dia dibawa ke rumah sakit namun 30-45 menit kemudian, dinyatakan meninggal dunia.

Penembakan itu diyakini sebagai pembalasan atas gol bunuh diri Escobar. Cerita-cerita yang berkembang kemudian turut menyinggung soal keterkaitan judi dan kartel narkoba. Ada proses peradilan, ada yang ditahan kemudian, tapi nyawa seorang pesepakbola bertalenta yang melayang tak bisa tergantikan.

Lebih dari 100 ribu warga Kolombia yang berduka hadir ke pemakaman Escobar. Tubuh sang mantan pemain itu terbujur kaku di dalam peti yang diselubungi bendera negara. Sejumlah orang meneriakkan tuntutan agar keadilan ditegakkan. Escobar pergi meninggalkan sebuah kisah tragis, dan pesan terakhir.

"Hidup tak berhenti di sini. Kita harus terus berjalan. Hidup tak boleh berhenti di sini. Tak peduli seberapa sulit, kita harus bangkit. Kita cuma punya dua pilihan: membiarkan kemarahan melumpuhkan kita dan kekerasan berlanjut, atau kita menaklukkannya dan mencoba yang terbaik untuk membantu orang lain."

"Itu pilihan kita. Mari kita menjaga rasa hormat. Salam terhangatku untuk semuanya. Ini sudah menjadi pengalaman yang paling menakjubkan dan langka. Kita akan berjumpa lagi segera, karena hidup tak berhenti di sini."

Pesan ini ditulis Escobar di koran Bogota, El Tiempe, setelah Kolombia tersingkir dari Piala Dunia 1994, sebelum ia meregang nyawa. Escobar ini, sempat menjadi duta promosi citra positif Kolombia.

[Gambas:Youtube]


(raw/din)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed