DetikSepakbola
Kamis 14 Juni 2018, 14:10 WIB

Laporan Dari Moskow

Menengok Kembaran GBK di Rusia: Luzhniki

Mohammad Resha Pratama - detikSport
Menengok Kembaran GBK di Rusia: Luzhniki Foto: Reuters
Moskow - Destinasi pertama saat tiba di Rusia: Stadion Luzhniki, sebagai venue opening ceremony Piala Dunia 2018. Stadion ini kembar dengan Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Senayan, Jakarta.

Tiba di depan Stadion Luzhniki, Moskow, saya langsung teringat dengan satu stadion kebanggaan Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Atap bundar yang saling terhubung benar-benar tak bisa tidak untuk mengaitkan dua stadion yang ada di negara berbeda itu.

[Gambas:Video 20detik]


Presiden RI pertama, Soekarno, memang terinspirasi oleh stadion Luzhniki dalam membangun SUGBK. Waktu itu, Indonesia memang memiliki hubungan erat dengan Uni Soviet.

Baca Juga: Ini Panduan Traveling dan Nonton Piala Dunia 2018 di Rusia

Bahkan, Soekarno-lah yang meminta secara langsung bantuan dana kepada Uni Soviet dalam pidatonya di acara peletakan batu pertama pada 1956. Dalam pidatonya kala itu, Soekarno mengakui Indonesia sangat terkesan dengan stadion Luzhniki dan menginginkan bangunan serupa ada di Indonesia.

Kala itu, Uni Soviet langsung memberikan bantuan dana 12,5 juta dolar AS untuk membangun kompleks Gelora Bung Karno (GBK). Tujuannya, kala itu adalah untuk mendukung Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962.

Tak cuma bantuan dana, arsitek dan insinyur Uni Soviet pun dikerahkan untuk membantu pembangunan GBK mulai 8 Februari 1960 dan selesai 21 Juli 1962. Pembangunan kompleks GBK memang tak sekadar untuk menyambut Asian Games, tapi juga dianggap sebagai alat politik bagi Soekarno untuk menunjukkan kekuatannya sebagai pemimpin Indonesia pertama.

GBK pun dibuat mirip dengan Luzhniki yakni memiliki trek lari dan berkapasitas lebih dari 100 ribu penonton. Luzhiniki pada awal dibuka mampu menampung penonton sebanyak itu dengan rekor yakni 102.538 orang saat Uni Soviet menghadapi Italia tahun 1963.

Baca Juga: Lawan Rasisme di Piala Dunia 2018

Event akbar pertama yang dihelat di Luzhniki adalah Olimpiade 1980, lalu ada juga final Liga Champions 2008 saat Manchester United mengalahkan Chelsea lewat drama adu penalti, dan juga kejuaraan dunia Atletik tahun 2013. Setelah jatuhnya Uni Soviet, Luzhniki pun menjadi tempat konser papan atas di kota Moskow seperti Michael Jackson, Madonna, Metallica, dan Red Hot Chili Peppers.

Namun, seiring terpilihnya Rusia sebagai tuan rumah Piala Dunia, Luzhniki pun ditutup pada 2013 untuk direnovasi sebagian besar dengan mempertahankan bagian luar stadion yang sampai saat ini masih terlihat arsitektur lamanya. Ketika renovasi selesai pada 2017, Luzhniki tak lagi memiliki trek lari di dalam dan suasananya pun menjadi lebih modern.

Sama seperti Luzhniki, SUGBK pun menjalani renovasi menjelang Piala Asia 2007 serta yang terakhir merenovasi besar-besaran kompleks serta stadion utama sedari 2016 hingga awal tahun ini untuk menghadapi Asian Games 2018.

Kini dua saudara "kembar" itu sama-sama akan menghadapi perhelatan besar, Luzhniki akan lebih dulu menyambut pesta sepakbola dunia saat kickoff Rusia kontra Arab Saudi, Kamis (14/7/2018) pukul 18.00 waktu setempat nanti sebelum GBK membuka perhelatan Asian Games mulai 18 Agustus 2018.

Saya sudah tak sabar untuk menjadi saksi pembukaan Piala Dunia nanti malam dan mengabarkannya kepada pembaca!

[Gambas:Video 20detik]




(mrp/fem)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed