DetikSepakbola
Rabu 14 Desember 2016, 15:36 WIB

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Timnas

Fajar Rahman - detikSport
Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Timnas Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Belum habis juga waktu Subuh. Matahari juga belum terlihat penuh. Lagu kebangsaan Indonesia Raya sudah bergemuruh. Sangat menyentuh.

Peristiwa subuh itu terjadi di jalanan depan Garnisun Gambir, Selasa lalu (13/12/2016). Meski kawasan militer, bukan berarti lagu itu dilantangkan para serdadu. Lagu suci negara ini tersebut dikumandangkan oleh para perindu.

Sang perindu adalah mereka yang menahan kangen mendukung tim nasional (Timnas) Indonesia berlaga. Mereka, para perindu Timnas juara. Mereka yang menyanyikan Indonesia Raya di jalanan saat subuh itu adalah suporter Timnas yang tengah berjuang mengantre tiket leg pertama final Piala AFF 2016. Lagi-lagi sepakbola menjadi bukti bahwa di sanalah serpihan-serpihan nasionalisme masih tersisa.




Sebentar. Bukankah pasal 62 Undang-Undang No 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan, mewajibkan ketika Indonesia Raya berkumandang menyanyikannya dengan sikap sempurna; meluruskan lengan ke bawah, mengepalkan telapak tangan, dan ibu jari menghadap ke depan merapat pada paha disertai pandangan lurus ke depan?

Ah! Persetan undang-undang dan sikap sempurna. Indonesia Raya yang mereka kumandangkan murni dari hati, tanpa aba-aba atau rasa terpaksa protokoler sebuah acara. Dan, itu lebih dari sempurna. Apalagi mereka sudah mengesampingkan urusan hidup lainnya demi selembar kertas sebagai syarat mendukung langsung para pembela harga diri negara.

Tapi malang tak dapat ditolak, tiket tak dapat diraih. Mulai begadang semalam suntuk, jalan jongkok untuk antri masuk, tetap saja mereka tak kebagian tiket karena sistem yang kemudian diumpati, "Busuk!".

Dan lalu, dendam kepada federasi dan sistemnya, yang sempat terlupakan karena Timnas melenggang ke final, muncul kembali. Tagar #AntriTiketTimnas di Twitter yang semula menjadi tempat bertukar informasi kini terhiasi umpatan-umpatan kepada dua institusi di bawah Edy Rahmayadi, PSSI dan militer yang kebagian tugas menjual tiket secara offline itu.

Usaha PSSI, dari yang hanya menjual tiket secara online seperti pada semifinal, lalu kini menambahkan penjualan offline, tak lagi dianggap sebagai sebuah perubahan. Malah dicerca karena penjualan tiket dilakukan di markas tentara. Dosa-dosa kecil oknum tentara yang ikut menjual tiket kritingan saat bertugas di stadion dalam kompetisi antar klub, pun termuntahkan.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar TimnasFoto: Lamhot Aritonang


Adalah mudah bagi kita mencela PSSI dengan sistem penjualan tiket seperti ini. Eranya sudah tinggal sentuh jari di layar telepon genggam, PSSI malah membangunkan dendam.

Monopoli, citra yang selama ini melekat di PSSI itu pun menyeruak menjadi bahan celaan lagi. Ya tak bisa ditampik memang, karena PSSI malah mengoper penjualan tiket secara daring hanya ke satu penjual. Nahasnya, si penjual lamannya tak mobile friendly dan masih menggunakan desktop, malah sempat down saat membuka tiket semifinal lalu.

Bukannya menyebarkan ke situs penjual tiket lainnya, demi alih mengurangi risiko online, PSSI kemudian mengoper tiket dengan penjualan offline. Semuanya serba mendadak, tanpa persiapan yang matang.

Siap tak siap, PSSI memang tak pernah siap dan menyangka Timnas bisa melangkah sejauh ini. Jangankan final, Timnas menembus semifinal saja, saya sangat yakin itu tak pernah ada dalam benak-benak optimisme PSSI dan klub-klub anggotanya.

Keyakinan saya kalau PSSI sendiri tak yakin dengan laju Timnas di AFF itu dimulai dari Jumat malam 22 Juli lalu di Hotel Parklane. Saya kebetulan ada di hotel tersebut dan sempat menikmati makan malam bersama para manager dan media officer dari klub-klub peserta Indonesian Soccer Championship (ISC) 2016 yang dikumpulkan guna membahas Timnas dan kelanjutan turnamen.

Ada dua opsi yang ditawarkan PT Gelora Trisula Semesta (PT GTS) terkait Timnas di AFF kala itu. Pertama, turnamen tetap berjalan dan klub maksimal mengirimkan dua pemainnya ke Timnas. Sementara pilihan kedua adalah kompetisi dihentikan selama timnas menjalani persiapan Piala AFF.

Para manajer itu kemudian masuk ruangan guna melakukan voting dari dua opsi yang ditawarkan. (Jangan tanya saya yang seorang manajer ikut masuk atau tidak, karena klub saya hanya berjuang di divisi Fantasy Premier League).

Keluar ruangan, muncullah keputusan bahwa opsi pertama yang disepakati. Tak lain demi hajat hidup pemain, klub, kompetisi dan tentu saja kontrak dengan stasiun televisi dan sponsor. Maklum Negara Kesatuan Republik Investor, semua bersatu untuk urusan investasi dan pundi-pundi.

Hajat Alfred Riedl memilih pemain terbaik untuk Timnas pun dibatasi: maksimal dua dari masing-masing klub.

Saya makin yakin kalau PSS menomor-sekiankan Timnas dan tak yakin bakal sejauh ini ketika mereka fokus dengan kongres untuk memilih ketua umum 10 November lalu. Sementara laga pertama Indonesia di AFF sendiri berlangsung sembilan hari kemudian.

Pantas jika Indonesia tampil kesetanan pada laga-laga AFF. Dendam karena dinomor-sekiankan tadi malah berbalik menjadi penyemangat Timnas. Mereka seolah ingin membuktikan bahwa PSSI dan klub-klubnya sudah salah tak mengutamakan mereka yang berjuang membawa nama negara.

Hasilnya, Timnas yang dipenuhi dendam itu dipastikan melenggang ke semifinal hingga final. Dan, PSSI pun harus berpeluh dengan semua yang serba dadakan. PSSI tak punya banyak waktu untuk menyodorkan proposal penjualan tiket pertandingan Timnas kepada perusahaan jasa penjual tiket yang banyak tersebut.

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar TimnasFoto: Rachman Haryanto


Toh para badan penjual yang rata-rata sistemnya sudah siap dan bagus juga masih memikirkan untung ruginya jika bekerjasama dengan PSSI yang citranya sudah sedemikian buruk. Bukan tak mungkin ada yang menaruh dendam karena pernah tertunggak. Dan beruntung bagi PSSI jika kemudian ada satu yang mau, ya itu saja. Mau dibilang monopoli atau tidak, terserah yang penting tiket terjual.

Entahlah, sampai kapanpun PSSI akan tetap salah di mata kita para perindu Timnas juara ini, apapun yang dilakukan dan diusahakannya. Indonesia jadi juara AFF 2016 nanti pun (semoga), mereka akan tetap salah dari sudut pandang kita. Maklum, dendam kepada federasi ini sudah membelukar di sanubari.

Tapi dendam dan rindu kita selama ini belum terbayar. Bukan, bukan PSSI yang kita harapkan membayar semua ini. Dendam dan rindu itu harus dibayar Timnas. Hanya Timnas yang berhak dan bisa mengobati dendam dan kerinduan itu.



===========

*) Penulis adalah penggemar sepakbola, kini menetap di Yogyakarta bersama Gantigol. Sudah dua kali terlibat dalam buku 'keroyokan': Brazilian Football and Their Enemies (2014) dan Sepakbola 2.0 (2016). Beredar di dunia maya dengan akun Twitter @fjrhman.



(din/fem)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed