Ya, Indonesia, tepatnya Jakarta, merupakan tuan rumah edisi keenam event bertaraf internasional itu, yang merupakan produk dari The Association For International Sport for All (TAFISA). Gelaran tersebut dijadwalkan berlangsung 6-12 Oktober mendatang.
Dalam konferensi persnya pada medio Februari 2016, pihak panitia yang diketuai Hayono Isman -- juga menjabat ketua umum Federasi Olahraga Rekreaksi Masyarakat Indonesia (FORMI), mengumumkan bahwa event ini diyakini akan menyedot perhatian besar dari publik Internasional. Pesertanya saja ditaksir mencapai lebih dari 11 ribu orang, yang berasal dari sekitar 110 negara. Jika setiap negara menyertakan perwakilan wartawannya, berarti ratusan jurnalis akan meriuhkan event tersebut dengan liputannnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam jumpa pers hari ini di Jakarta, Kamis (8/9/2016), Hayono mengakui pihaknya tidak melakukan sosialisasi dan promosi event dengan selayaknya. Dia berdalih klasik, yakni soal dana, walaupun penetapan Jakarta sebagai tuan rumah adalah sejak November 2011!
"Kami memaklumi kurangnya promosi yang dilakukan. Tetapi anggarannya baru turun bulan lalu dari Kemenpora kepada panitia pelaksana, sehingga kami tidak bisa maksimal mempromosikan TAFISA," ujar Hayono.
Dan dia memaklumi sendiri dengan mengatakan, "Tetapi tidak apa-apa. 'Kan ada hikmahnya, berarti semakin dekat semakin bagus supaya masyarakat ingat dan langsung beraksi."
Lucunya, panitia terkesan tidak tepat dalam melakukan kalkulasi biaya dan lambat dalam melakukan pendekatan kepada pihak terkait. Misal yang mereka akui sendiri adalah ongkos pemasangan umbul-umbul di kawasan venue utama di Taman Impian Jaya Ancol (TIJA) β dan mereka masih dalam proses negosiasi ketika gelaran tinggal satu bulan lagi.
"Kami berharap Pemda DKI bisa memberikan gratis. Apalagi di Ancol, satu titik umbul-umbul harganya Rp 250 ribu untuk pemasangan satu hari. Saat ini kami terus bernegosiasi dengan pihak TIJA. Ayo, ini (sesuai) Keppres lho," imbuh Deputi VIII Bidang Promosi Informasi dan Kerja Sama TAFISA World Games 2016, Syarul Tahir.
Yang terjadi kemudian memang terkesan semua promosi dan sosialisasi "baru akan" dilakukan dalam waktu dekat (dan mepet).
"Jadi kami akan numpang di acara Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia di beberapa televisi nasional. Nanti akan muncul di prime time. Jadi, mestinya heboh," sahut Hayono sambil merujuk pada dana Rp 19 miliar dari Kementerian Pariwisata untuk promosi TAFISA World Games 2016.
"Kami juga akan melakukan sosialisasi dan promosi di tengah-tengah acara Car Free Day (di Jakata), yang masih akan berlangsung tiga kali kali. Kami akan maksimalkan di sana," tambahnya.
![]() |
Promosi melalui medium lain baru terlaksana sebagian, karena sisanya juga baru "akan". Panitia disebut sudah memasang beberapa iklan di layar LCD di beberapa bandar udara seperti Juanda (Surabaya), Kualanamu (Medan), Ngurah Rai (Denpasar), dan Soekarno-Hatta (Jakarta).
Nah, umbul-umbul pun baru akan dipasang pada pekan ketiga September di kawasan Jln. MH. Thamrin, Taman Mini Indonesia Indah, dan titik-titik wisata lainnya.
Ketika ditanya wartawan, apakah ada rencana menggaet selebritas atau figur publik untuk menggaungkan TAFISA 2016, daripada tidak ada gaungnya sama sekali, Hayono mengeluarkan jawaban yang terdengar tidak meyakinkan.
"Kami harus jujur, panitia pelaksana awalnya kurang percaya diri, apakah mereka mau. Sekalinya mau, pasti harganya mahal, karena belum, kenal TAFISA. Kami mohon bantuan media untuk menghubungi mereka. Ini sebagai sosialisasi juga 'kan.
"Anggaran sosialisasi tidak sampai 2 miliar. Itu di luar 19 miliar dari Kemenpar. Itu kecil sekali," katanya.
Oalah. Itu lagi, itu lagi.
(mcy/a2s)












































